
"Mohon maaf, bila pertanyaan kami itu terlalu pribadi. Sebagai ayah Bram, saya hanya tidak menginginkan masalah akan terjadi dikemudian hari dalam pernikahan putra-putri kita bila Leony belum selesai dengan suaminya." ucap Martin penuh kehati-hatian.
Frans mengambil napas sejenak sebelum memberi jawaban atas pertanyaan Martin.
"Sayang, ayo duduklah," Jeny menepuk sisi kosong disebelahnya, agar Leony duduk disana disampingnya. Sementara Bram, yang juga tiba diruangan itu segera mengambil tempat duduk disebelah Reyn, adik iparnya.
"Keluarga kami sudah selesai dengan ayah Clara begitu dia meninggalkan cucu perempuan kami yang baru berusia 3 bulan sekitar 4 tahun yang lalu. Dan ayah Clara tidak pernah menikah dengan Leony."
"Hanya keterangan sebatas itu saja yang bisa kami buka tentang Leony dan Clara. Selebihnya, itu adalah rahasia keluarga kami," terang Frans singkat.
Suasana menjadi hening.
Pihak Bram maupun keluarga yang datang bersamanya tidak berani memberi komentar apapun, khawatir salah berucap tentu segalanya akan menjadi semakin rumit.
Mereka hanya bisa menduga-duga, mungkinkah kehadiran Clara dalam kehidupan Leony karena suatu kecelakaan? Bila ayah Clara pergi meninggalkan putrinya setelah putrinya itu berusia 3 bulan, itu artinya mereka pernah tinggal bersama? Tapi kenapa Frans mengatakan Leony dan ayah Clara tidak pernah menikah? Apa mereka kumpul kebo? Atau? Entahlah.
"Kami sudah mengatakannya, terserah dari pihak keluarga nak Bram. Mau dilanjut atau stop sampai disini. Kami juga tidak ingin menyembunyikan kenyataan bila putri kami Leony sudah memiliki seorang anak berusia 4 tahun dan tidak pernah menikah dengan laki-laki manapun."
Frans kembali membuka suara, menyingkirkan keheningan yang sempat tercifta sepersekian menit lamanya.
Martin menoleh ke arah Bram yang duduk tenang disamping Reyn, begitu pula dengan Marlina isterinya.
"Bagaimana Bram? Apa keputusanmu? Ayah menyerahkannya padamu. Kau yang akan menjalani biduk rumah tangga ini, jadi kau berhak memutuskannya sendiri. Ini bukan perkara satu atau dua hari, tapi tentang seumur hidup. Dan tidak ada perceraian setelah menikah," tekan Martin datar. Pria itu merasa tegang sendiri, ia merasa was-was bila putranya itu tetap nekad.
"Dan perlu pak Frans dan bu Jeny ketahui," Martin kembali mengalihkan atensinya pada kedua orang tua Leony. "Bram, putra sulung kami. Dia masih kuliah, belum mapan walau sudah berkerja." jujurnya.
"Kami sudah tahu pak Martin. Nak Bram sudah cerita semua tentang dirinya, dia akan diwisuda tahun depan, dan dia berkerja di percetakan setelah pulang kuliah hingga pukul 10 malam. Dan saya tidak mempermasalahkannya. Nak Bram boleh menikahi Leony kapan saja bila dirinya sudah siap."
__ADS_1
Martin menelan salivanya dengan susah payah, pikirannya mendadak buntu, sudah tidak menemukan alasan lagi untuk mengelak setelah mendengar ucapan ayah Leony yang secara blak-blakan menerima niat baik putranya.
"Bram," Martin memandangi putranya yang duduk disebelah Reyn. "Ayah, Bunda, bahkan kami semua, mau mendengar apa rencanamu setelah apa yang dikatakan ayah nak Leony malam ini."
"Ingin menikahi Ayang bidadari malam ini juga," kekeh Bram sambil memandang penuh damba pada Leony. Yang dipandang malah mendelik dengan menggertakan giginya sambil mengepalkan kedua tinjunya disamping tubuhnya.
Melihat ekspresi Bram dan Leony yang berbeda, membuat semua orang yang ada diruang tamu itu ikut tertawa bersama Bram, terlebih Reyn yang menggelengkan kepala melihat keduanya.
Karena diantara semua yang hadir disana, dirinyalah yang paling tahu bagaimana kakak iparnya itu begitu kekeuhnya mengejar cinta dari sekretaris pribadinya itu, sementara Leony selalu menolak dengan segala kekasaran yang sengaja dibuatnya supaya pemuda itu berhenti mengejarnya.
"Bram, kau fikir menikah semudah apa yang ada didalam kepalamu itu? Huh?" Martin menyela ditengah-tengah tawa yang masih berderai. Sebenarnya ia sangat cemas dengan ucapan putranya, khawatir bila Bram benar-benar akan menikahi Leony secepatnya sebelum pendidikannya rampung.
"Bram tahu Ayah. Itu respon rasa senangku saja karena Papi dan Mami yang ada disini bersedia menerima niat baikku." ucap Bram dengan senyum lebarnya.
"Bram..." Martin mendelik, memberi isyarat pada putra sulungnya itu supaya tidak sok akrab.
"Dan sebagai bentuk keseriusan saya, saya berjanji akan menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan akan berkerja keras demi bisa menikahi Ayang bidadari secepatnya," gurau Bram disela-sela ucapannya yang serius, tentu saja itu mengundang tawa ria kembali bagi semua yang hadir diruang tamu itu.
Bagaimana reaksi Leony? Ya, perempuan itu masih saja jengkel dan sangat gemes pada pemuda itu sampai ke ubun-ubun, karena dirinya tidak punya daya untuk protes apalagi menolak ditengah-tengah obrolan kedua belah pihak keluarga.
Tradisi dikeluarga mereka haruslah demikian, seorang anak perempuan haruslah patuh sepenuhnya pada keputusan orang tua khususnya tentang memilih pasangan hidup.
"Bun, berikan titipan Ayah tadi," bisik Martin pada Marlina.
"Ini, Yah," Marlina menggeser bungkusan kain putih yang ia simpan disisi kiri kakinya, dan mendekatkannya pada suaminya.
Semua yang hadir memperhatikan Martin yang mengangkat dan meletakan bungkusan kain putih itu diatas meja dan mendekatkannya tepat dihadapan Frans dan Jeny.
__ADS_1
"Apa ini?" Frans menatap benda yang lumayan besar itu sejenak lalu beralih pada Martin didepannya.
"Itu Tajau, warisan turun temurun keluarga kami, dikhususkan untuk melamar seorang gadis bagi putra sulung dalam keluarga kami. Silahkan dibuka Pak."
Frans menyentuh benda itu pelan, lalu menarik tali simpul yang mengikat ujung kain. Perlahan ia menurunkan ujung kain yang sudah terbuka.
Frans begitu kaget melihatnya. Selama ini, laki-laki itu hanya pernah melihat tajau keramik dengan ukiran warna-warni yang indah, tapi tajau dihadapannya itu terbuat dari emas murni berukir hewan mitologi yang menjadi ikon kota Tangga Arang.
Hewan mitologi ini berwujud binatang lembu atau sapi yang memiliki belalai dan bertaring seperti gajah. Mempunyai sayap seperti burung, memiliki kuku dan taji seperti ayam jantan, bersisik seperti naga, serta bermahkota bagaikan seorang raja. Frans menaksir bila berat tajau itu sekitar 9 kilogram lebih.
"Pak Martin, s-saya sungkan menerimanya," Frans mendadak gugup.
"Apa itu artinya lamaran putra kami Bram tidak jadi diterima?" tegas Martin dengan perasaan mendadak berdebar mendengar ucapan ayah Leony. Ia memang tidak ingin putranya segera menikah, tapi ia juga tidak rela melihat kekecewaan diwajah putra sulungnya itu.
"B-bukan itu pak Martin, tolong jangan salah faham. Saya hanya tidak berani menerima benda berharga ini," tunjuk Frans dengan sorot matanya memandang pada tajau emas dihadapannya.
Mendengarnya Martin kembali lega, karena tidak seperti yang sempat terlintas pada pikirannya.
"Pak Frans, ini tradisi keluarga kami. Kelak, bila Bram dan nak Leony memang berjodoh dan memiliki keturunan, putra sulung mereka juga akan melamar seorang gadis dengan tajau warisan ini. Jadi, mohon diterima Pak,"
Frans diam sesaat, hingga akhirnya ia mengangguk setuju menerimanya.
Bersambung...👉
Catatan :
Tajau atau Balanga adalah jenis guci keramik khas Suku Dayak. Bentuk Tajau dapat pula dikategorikan sebagai tempayan besar yang terbuat dari tanah berlapis seperti porselen. Bagi Suku Dayak, tajau termasuk barang yang bernilai sakral dan memiliki harga yang tinggi dibanding jenis keramik yang lainya.
__ADS_1