
"Boleh aku masuk?" Kepala Rose menjulur masuk dari pintu yang sedikit terbuka.
Reyn yang tengah melakukan pekerjaan diruang kerjanya segera mendongakan wajahnya. "Masuklah!" lalu kembali menunduk, melanjutkan kembali kegiatannya.
"Ada kesulitan?" tanya Reyn masih menunduk. Beberpa hari ini ia pulang lebih awal dari biasanya. Pukul enam sore ia sudah berada dirumah untuk menemani Rose makan malam dan belajar selama semesteran.
Tidak ada jawaban. Ia mendongak, mendapatkan Rose sedang memandangnya.
"Kenapa? Ayo, mana bukumu, tanyakan apa yang tidak kau fahami," Reyn menengadahkan tangannya seperti biasa, tapi gadis itu masih bergeming didepannya, tak ada satu bukupun yang ia bawa ditangannya. Beberapa malam ini, Rose memang selalu mendatangi dirinya di ruang kerjanya ini, hanya untuk menanyakan pelajaran yang tidak ia fahami.
Reyn gegas berdiri, keluar dari belakang mejanya untuk mendekati Rose yang tidak terlihat ceria. "Kau tidak belajar? Besok hari terakhir semesteran." tanya Reyn yang telah berdiri dihadapan Rose sambil menyandarkan pipi bokongnya pada tepi mejanya.
"Aku sudah selesai belajar," sahut Rose menatap Reyn yang memandanginya. Ia juga sedikit melirik banyaknya berkas yang ada diatas meja Reyn, sudah lama ia merasa sangsi bila suaminya itu seorang tukang panggul.
"Tidak ada pertanyaan seperti biasa? Apa pelajarannya sangat mudah?" Reyn menelisik wajah isterinya itu penuh minat.
"Besok mata pelajaran Sejarah, hanya satu itu saja, jadi aku bisa menyelesaikannya dengan cepat," terangnya.
Reyn mengangguk-anggukan kepalanya pelan, penjelasan Rose membuatnya mengerti kenapa baru jam segini isterinya itu sudah menyelesaikan belajarnya.
"Kalau begitu tidurlah sekarang supaya kau tidak kesiangan bangunnya."
Rose tidak langsung beranjak seperti harapannya.
"Kenapa tidak segera kembali kekamar. Ada yang ingin kau katakan?" Reyn mendekati Rose, mengikis jarak diantara mereka.
"Mas Reyn janji tidak akan marah?" Rose mendongakan wajahnya, Reyn memang jauh lebih tinggi dari dirinya.
"Kenapa harus marah? Katakan, aku akan mendengar," ucap Reyn selembut mungkin, meraih jari-jemari isterinya itu, mengangkatnya ke udara dan mendekatkannya ke wajahnya. Dengan sedikit berjongkok ia meniup punggung tangan Rose hingga gadis itu terkekeh merasakan napas hangat Reyn yang menerpa kulit tangannya.
"Apa ada yang lucu?" tanya Reyn kembali menegakkan tubuhnya dihadapan Rose.
"Tidak ada." sahut Rose dengan sisa tawa yang masih tergambar diwajahnya, melihatnya Reyn-pun mengembangkan senyum hangatnya, dan untuk sesaat pandangan keduanya saling bertaut.
"Salahkah kalau aku mengkhawatirkan kak Steven, Mas?" suara Rose mengudara dengan sangat hati-hati. Ia takut Reyn marah, tapi ia tidak bisa membohongi diri sendiri kalau ia masih perduli pada pemuda yang pernah mendapat ruang dihatinya itu beberapa bulan silam.
__ADS_1
Senyum Reyn perlahan memudar. Ia-pun tidak ingin menghakimi, bukan perkara mudah melupakan seseorang, apalagi pernah terjalin cinta diantara Rose dan pemuda yang disebutkan namanya oleh isterinya itu.
Jangankan sekian bulan mereka baru menikah. Ada sebagian orang tertentu, yang sudah bertahun-tahun lamanya berpisah, masih saja sangat sulit mengubur jejak kenangan selama dua insan itu bersama.
"Tidak," sahut Reyn akhirnya, walau terdengar sedikit parau.
"Kalau begitu," Rose merasa ragu meneruskan kalimatnya, matanya terlihat goyang saat menerima tatapan dalam milik Reyn.
"Lanjutkan," suruh Reyn.
"Besok, selepas pulang sekolah, bolehkah aku membesuk kak Steven di rumah sakit? Aku tidak sendiri Mas, aku pergi bersama Norsa dan Rina." ucap Rose pelan.
"Jangan pergi Rose. Aku tidak ingin kau bertemu dengan ibunya Steven disana. Aku tidak ingin kau diperlakukan tidak baik olehnya lagi," larang Reyn dengan wajah serius.
Rose memperhatikan suaminya itu, sebenarnya ia juga enggan untuk datang kesana kalau bukan karena Rina yang terus menerus membujuknya minta ditemani menemui Steven.
"Ikut aku," Reyn menarik tangan Rose menuju sofa, tidak jauh dari mereka berdiri.
"Apa kau sudah melihat video kecelakaan Steven yang sudah tersebar itu?" tanya Reyn, ketika keduanya sudah duduk berdampingan disana.
"Sebelum kecelakan itu terjadi, Steven sempat menemuiku."
"Benarkah?" tanya Rose dengan raut penasarannya.
"Iya, itu benar. Dan saat itu aku memberitahukannya tentang pernikahan kita karena dia menanyakannya padaku."
Rose terlihat gugup, hatinya tiba-tiba diserang rasa was-was dan tentu saja rasa khawatirnya semakin besar, mengingat pernikahannya masih suatu rahasia.
"A-apa itu tidak m-masalah Mas?"
"Aku harap tidak Rose, kita berdoa saja. Cepat atau lambat Steven juga memang harus tau, supaya pemuda itu berhenti mendekatimu. Tapi aku juga merasa bersalah, mungkin saja ia terlalu memikirkan pembicaraan kami ketika itu sampai terjadinya kecelakaan itu," ungkapnya.
...🍓🍓🍓...
Farid terduduk lelah di sofa, sudah 5 hari belakangan ia meluangkan waktu menemani putranya yang sedang dalam perawatan rumah sakit, pria paruh baya itu memang kurang istirahat selama disana.
__ADS_1
Dihadapannya, Steven terbaring lemah dengan perban menutupi beberapa tubuhnya. Ada juga gips terpasang pada betis kaki kirinya. Alat-alat medis yang terpasang ditubuh Steven sebagian sudah dilepas para perawat, kecuali alat pembuang air seni, karena pemuda itu belum boleh banyak bergerak ke toilet.
"Kenapa aku tidak mati saja saat kecelakaan itu?" dengus Steven, terdengar lemah dan pelan tapi masih sanggup tersampaikan pada pendengaran pria paruh baya itu.
Walau lelah, Farid gegas berdiri, mendekati Steven yang menatap kosong ke langit-langit rumah sakit.
"Sepertinya kau sedang berputus asa Stev. Bagaimana kau bisa menjadi seorang yang besar seperti cita-citamu sejak berusia 3 tahun silam, jika menghadapi dirimu sendiri saja kau sudah kalah seperti ini."
Steven mengunci mulutnya. Papi-nya benar, ia memang sudah kalah, kalah dengan gurunya sendiri, batinnya.
"Jujur pada Papi, apa yang membuatmu seceroboh itu Stev?" Farid menatap putranya yang masih menatap kosong langit-langit rumah sakit dengan bibir terkunci rapat.
"Kau tau Stev? Dalam hitungan jam saja, citra diri yang sudah kau bangun dengan susah payah sejak usia dini, telah kau hancurkan sendiri dengan insiden kecelakaan itu."
"Banyak wartawan menemui Papi hanya ingin mengetahui kau ada masalah apa, hingga bertindak ceroboh seperti orang bodoh di keramaian lalu lintas. Apa kau mau beralih menjadi seorang pembalap kesasar ditengah lalu lintas umum, huh!"
Farid sedikit menekan suaranya, mengingat kondisi memprihatinkan Steven, tapi ia tidak bisa menyembunyikan segurat kecewa atas sikap putranya.
Bola mata Steven memerah membendung air mata yang ingin tumpah dari pelupuk matanya. Patah tulang kering pada kaki kirinya tidak sebanding sakitnya dengan sakit perasaan yang tengah ia rasakan saat ini.
Ia meringis saat merasakan ngilu teramat sangat pada persendian pergelangan tangan kirinya yang membengkak karena pergerakan tangannya yang ingin mengusap air matanya.
"Beruntung kau hanya patah kaki dan pergelangan tanganmu saja yang terkilir, Stev. Kau tahu, saat ini Papi masih menunggu kabar pihak rumah sakit mendapatkan seorang dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi untuk pak Rahmad, korban yang hingga kini masih kritis dan tidak sadarkan diri akibat kecelakaan itu."
"Dan keluarganya setiap hari mendatangi Papi untuk memastikan perawatan anggota keluarganya itu mendapat penanganan yang baik dari rumah sakit."
Steven mendengar dalam diam, ada rasa penyesalan diruang hatinya yang paling dalam, karena apa yang ia lakukan telah membuat orang lain turut menderita dan merasakan akibatnya.
"M-maafkan Steven Pi." ucap Steven tulus dan terdengar bergetar. "Steven juga tidak menduga bila yang Steven lakukan sudah menyusahkan orang lain--, juga Papi," sesalnya dengan suara kembali bergetar, menahan perasaan sakit yang serasa akan meledak dalam dadanya.
"Jujur saja Pi, setelah mendengar Rose sudah menikah, duniaku serasa berhenti berputar. Harapanku kandas begitu saja. Aku sangat mencintainya Pi, aku sangat cinta sama Rose!" pekik Steven sudah tak tahan.
"Oh! Jadi ini semua gara-gara Rose!" Mutiara yang baru tiba dari bagian administrasi merasa geram akan apa yang ia dengar.
"Gara-gara gadis tidak sederajat itu, Mami harus membayar semua tagihan bodoh ini!" Wanita itu lalu melempar lembaran tagihan yang sudah ia remas dengan marah dihadapan Steven dan suaminya.
__ADS_1
Bersambung...👉