My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
103. Sang Guru Jablai


__ADS_3

"Kau boleh mundur Leony," Jeny akhirnya membuka suara, setelah sekian lamanya dirinya diam.


Clara sudah lama tertidur. Bocah itu begitu kenyang memakan buah tangan yang dibawa oleh Reyn dan Rose saat mereka berkunjung. Gadis kecil itu sebenarnya sudah diperbolehkan pulang, tapi ia tetap merengek untuk tetap bertahan di rumah sakit karena Leony masih belum diizinkan pulang oleh dokter.


"Maksud Mami?"


"Kau pasti tau maksud Mami, Leony. Mami dan Papi tidak akan memaksamu lagi menikah dengan Bram. Kita punya waktu kurang lebih satu tahun kedepan, sesuai kesiapan pemuda itu yang akan menikahimu bila dia sudah menamatkan pendidikannya di universitas. Mami dan Papi akan membantumu menyiapkan dana untuk denda pembatalan rencana pernikahan kalian."


Leony menatap ibunya yang bersikap datar padanya.


Selama ini, memang ada beberapa pria yang datang melamarnya termasuk Hendra, dokter muda itu. Dan kedua orang tuanya selalu memberinya hak penuh untuk menerima ataupun menolak. Berbeda dengan Bram, entah apa yang membuat papi dan maminya begitu getol menerima lamaran pemuda itu.


"Kenapa Mami dan Papi bisa berubah fikiran?" Leony menatap wajah ibunya.


"Siang tadi, setelah menengok Clara, Bram pamit untuk menengok dirimu. Mami hanya melihat pemuda itu berdiri beberapa saat didepan pintu ruang rawat inapmu, lalu ia pergi."


Leony menelan salivanya, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Itu artinya yang ia lihat siang tadi benar adalah Bram. Mungkin kah pemuda itu mendengarkan semua obrolan dirinya dengan Hendra sehingga ia pergi dan meninggalkan kotak makanannya begitu saja disamping pintu?


"Leony," Jeny masih menatap lekat wajah putrinya.


"Memutuskan untuk menerima lamaran pemuda itu dan keluarganya bukan dilakukan Papi dan Mami secara asal-asalan, kami punya pertimbangan sampai menerimanya." lanjut Jeny.


"Tapi melihat sikapmu yang tidak pernah berlaku baik pada pemuda itu, Mami rasa lebih baik dibatalkan saja. Clara juga sudah banyak cerita bagaimana kau memarahi Bram didepannya."


Leony kembali menelan salivanya dengan susah payah, putrinya itu pasti bercerita apa adanya, batinnya. Ia merutuk kecerobohannya, memarahi Bram didepan putrinya, dia lupa bila bocah itu bisa saja mengadu pada nenek dan kakeknya.


...🍓🍓🍓...


"Reyn, ku dengar Rose sudah hamil?" Hartanto memandangi Reyn yang tengah menanda tangani beberapa berkas pengunduran dirinya sebagai guru.

__ADS_1


Sementara itu, diluar kelas hiruk-pikuk dan sorak-sorai kelulusan kelas XII kian menggema, memekikan telinga yang mendengarnya.


"Iya, itu benar Paman," sahut Reyn tanpa menoleh, sepasang matanya masih pokus pada setiap lembaran yang harus ia tanda tangani.


"Tokcer juga joni-mu." kekeh Hartanto sambil mengetuk-ngetuk ujung pulpennya pada kaca yang menjadi alas meja kerjanya.


Reyn mendongak. Ia memandangi Hartanto, tidak percaya bila pria ubanan yang sangat ia hargai dan hormati itu mampu berbicara sevulgar itu.


"Bukan sekedar tokcer, tapi juga menghasilkan bibit unggul. Paman bisa lihat, kalau sudah lahiran nanti, itu bayi pasti sangat mirip denganku." ucap Reyn meladeni, disertai wajah sumringahnya.


"Kau itukan guru Biologi, pasti tahu dengan pasti kalau seorang bayi tentu akan mirip dengan kedua orang tuanya. Tapi ada juga sih, anak yang lahir mirip dengan tetangganya," Hartanto seketika terbahak mengingat ada anak tetangganya yang mirip dengan tetangganya yang lain.


Reyn ikut tertawa, ia yakin pasti si pria ubanan itu sedang memikirkan sesuatu yang aneh.


"Paman benar, menurut teori ilmu Biologi, DNA ayah dan ibu akan menyumbang masing-masing 23 kromosom, yang akhirnya membentuk 46 buah kromosom total, alias 23 pasang kromosom." Lanjut Reyn mulai menjelaskan ilmu yang sudah mendarah daging dalam kepalanya.


"Di setiap pasang kromosom tersebut ada beragam informasi yang menentukan tampilan fisik anak. Umumnya, gen tampilan fisik anak akan lebih condong diturunkan dari pihak ayah, seperti: tinggi badan anak, kondisi gigi, warna mata, bentuk hidung, simetri wajah, bentuk jari-jari tangan dan kaki. Selebihnya adalah hasil dari pola makan, gaya hidup, dan kesehatan anak itu sendiri."


"Lalu kalau ada anak yang mirip dengan tetangganya bagaimana? Maksudnya yang tidak memiliki hubungan darah." potong Hartanto, sengaja memberi pertanyaan jebakannya.


Entah kenapa, dirinya mendadak kepo saat Reyn menjabarkan tentang tampilan fisik anak yang diturunkan oleh ayah sang anak. Ia sempat mendengar gosip-gosip miring para ibu-ibu yang mengadakan arisan mingguan dirumahnya, tentang salah satu balita tetangga yang sangat mirip dengan wajah pak ketua RW.


"Secara ilmu Biologi, itu sangat tidak mungkin terjadi, karena berhubungan dengan genetik yang telah saya jabarkan tadi, Paman."


"Dan satu hal yang perlu Paman ingat, ada Tuhan yang berkuasa, mampu menjadikan yang mustahil menjadi tidak mustahil. Sang Pencifta mampu menampilkan beragam fisik manusia sesuai kehendak-Nya. Selain itu, hanya ibu anak itu dan Tuhan saja yang tahu. Kita tidak boleh menghakimi bila tidak ada bukti." pungkas Reyn berusaha bijak menanggapi pertanyaan sang kepala sekolahnya itu.


"Baiklah Pak guru, saya mengerti," Hartanto mengangguk, tapi jujur saja, ia masih penasaran pada gosip para ibu selebritas kompleknya itu. Hih, dia sebenarnya bingung sendiri, isterinya saja sebagai seorang wanita tidak sekepo dirinya.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Hartanto mengalihkan pandangannya kearah pintu, begitu pula dengan Reyn.


"Masuk pak Ruben!"


Sang guru BK berwajah portugal itu masuk dengan membawa satu map ditangannya, ia melirik Reyn.


"Halo Pak guru, Pengusaha pupuk dan beras!" sapanya lantang seperti biasanya.


Reyn tertawa, mendengar ledekan rekan guru seniornya itu. Beberapa waktu lalu ia memang sempat bersitegang karena salah faham, berkenaan dengan pernikahan diam-diamnya dengan Rose yang berusaha diulik oleh sang rekan gurunya itu.


Tapi setelah mengetahui maksud sebenarnya dari Ruben, berkenaan dengan tugasnya sebagai guru BK dan pendidikan Moral pasca kejadian demonstrasi beberapa bulan yang lalu, Reyn akhirnya memakluminya.


"Halo juga Pak guru jablai--jarang dibelai!--," balas Reyn ikut meledek, mengingat kisah Ruben yang cukup mengharukan saat ia berkisah tentang dirinya yang terpisah dari keluarganya ketika itu.


"Nah ini! Ini yang membuat tekadku semakin bulat untuk pulang ke Timor Leste biar julukan jablai itu hilang." Ruben menyerahkan map yang ia bawa pada Hartanto.


Dengan sigap, Hartanto menyingkirkan map itu kesamping mejanya.


"Loh! Kok disingkirin Pak Kepsek," protes Ruben tak senang.


"Sudah saya bilang. Permintaan pindah, pengunduran diri atau apapun itu di TO-LAK!" tekan Hartanto datar.


"Tidak adil!" Ruben menggerutu kesal.


"Enak saja mengundurkan diri. Pensiun baru boleh pindah ke Timor Leste. Saya nggak ada temannya yang senior kalau pak Ruben mengundurkan diri." tandas Hartanto masih datar.


"Lalu bagaimana dengan kejablaian saya, ha? Tidak adakah yang perduli? Oh Tuhan, kenapa mereka terlalu kejam." Ruben mengusak rambut rapinya, walau sudah menjadi guru senior, ketampanan pria berumur itu masih kental terlihat, ditunjang tubuh atletisnya yang rajin berolah raga.


"Kalau masalah kejablaian pak Ruben, jangan khawatir. Saya sudah bicara dengan pak Reyn, beliau bersedia mengurus imigrasi keluarga pak Ruben ke Indonesia. Bukan begitu pak Reyn?" Hartanto memandang pada Reyn yang langsung mengiyakan sembari menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2