My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI


__ADS_3

"Rina!"


Mendengar namanya dipanggil, gadis itu gegas menoleh ke arah sumber suara, begitu pula dengan Steven.


"K-kak B-Bram?" Rina terlihat gugup. Kakak Rose yang ia hindari didalam restoran tadi ternyata masih ada disini, itu artinya pemuda itu melihat semua yang telah terjadi didalam restoran tadi, batinnya.


Bram semakin mendekat, lalu berdiri tegak didekat dirinya dan Steven.


"Rina, apa kau sudah mendapat izin jalan bareng dengan laki-laki ini dari Mami-nya?" Bram memandang Steven yang tengah menatapnya datar.


"Maksud kak Bram apa?" tanya Rina tak mengerti. Ia memandang heran pada kedua pemuda yang saling berpandangan itu.


"Apa itu artinya kau belum mendapat izin Mami-nya?" Bram masih menatap lekat Steven yang tak mau kalah tetap menatapnya.


"Bersiaplah Rina, kau akan mengalami nasib yang sama dengan gadis-gadis lainnya. Sebentar lagi ibumu akan di panggil Mami-nya. Dan ibumu akan dipaksa untuk menjauhkanmu dari putra kesayangannya ini, tapi putra kesayangannya ini tidak diberitahu kalau Mami-nya melakukan itu, sehingga laki-laki ini akan terus ingin bertemu denganmu," sarkas Bram tanpa sungkan.


Rina membeku, lidahnya terasa kelu, tidak mampu menyanggah ucapan Bram ataupun membela Steven. Demikianlah dirinya, tidak punya cukup keberanian untuk menyuarakan isi hatinya, takut salah, apa lagi sampai di persalahkan. Gadis itu hanya bisa menatap keduanya dengan raut tak terbaca. Perkataan Rose tentang ibunya Steven beberapa waktu lalu kini terlintas dalam ingatannya.


Jakun Steven terlihat naik turun menelan salivanya. Ia pun tidak berusaha membela diri, ucapan Bram benar adanya tentang Mami-nya.


"Apa kak Bram menyukai Rina?" tembak Steven masih dengan wajah datarnya.


"Omong kosong apa yang coba kau utarakan?" Bram seketika meradang, ucapan Steven membuatnya geram.


"Kalau iya, ambil saja. Hatiku masih untuk Rose." ucap Steven masih dengan nada yang sama, datar tanpa ekspresi.


Sakit. Itu yang dirasakan Rina saat ini, matanya seketika memerah, dengan semampunya ia berusaha menahan tangis dalam dadanya, pernyataan Steven yang terang-terangan sama sekali tidak menimbang perasaannya.


"Lupakan Rose, adikku itu sudah tidak perduli lagi padamu."


"Apa karena Rose sudah menikah?"


Bram terhentak, begitu pula Rina. Gadis yang sempat merunduk sedih itu mendongakkan wajahnya, menatap wajah Steven dan Bram silih berganti. Berharap ada penjelasan lebih lanjut dari obrolan keduanya.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu," Bram berusaha bersikap biasa.


"Aku anggap itu benar, karena kau tidak memberi klarifikasi atas pertanyaanku." pungkas Steven yang sebenarnya sangat penasaran. Hingga kini, ia belum menemukan jawaban pasti atas pertanyaannya yang terus menghantuinya tentang status Rose yang tinggal di rumah seorang pengusaha, yang ia sendiri tidak mengenalnya.


Gadis yang masih dianggapnya kekasihnya itu, mengapa bisa tinggal di rumah si pengusaha itu? Apa mungkin Rose adalah gadis muda berusia 19 tahun yang dimaksud ibu warung di sebelah rumah besar itu? Tapi Rose masih sekolah, itu tidak mungkin, batinnya terus menolak.


Ngoooong! Ngooong! Nyussss!


Walau sekilas terlihat, Steven dapat mengenali siapa pengendara motor sport hitam yang melintas bersamaan pengendara lainnya dijalan raya depan restoran.


"Maaf Rin, aku nggak bisa mengantarmu pulang sampai rumah. Kak Bram, titip Rina, saya sedang buru-buru," gegas Steven memasang helmnya, menaiki motor dan melarikannya tanpa menghiraukan panggilan Rina dan Bram padanya.


Dari kejauhan Steven masih dapat melihat motor sport hitam itu melaju dan berbelok kearah kiri di perempatan, memasuki jalan Kesuma Bangsa, deretan perusahaan milik daerah.


Supaya tidak tertinggal.jauh, Steven menambah kecepatannya. Beruntung jalannya lurus, hingga memudahkannya bisa melihat kendaraan itu walau dari jarak yang cukup.jauh.


Perasaan Steven seketika berdebar, terasa sangat tidak nyaman, sesaat ketika ia melihat kendaraan sport hitam itu berbelok, memasuki satu Perusahaan di ujung jalan Kesuma Bangsa itu.


"Aku yakin, motor pak Reyn tadi masuk kesana," gumam Steven sembari melepas helmnya, ia melihat beberapa pegawai berseragam lalu lalang didalam sana dengan masing-masing aktifitasnya.


Steven mendongak pada tembok megah yang berada disebelah kirinya, bertuliskan 'Perusahaan Beras Tangga Arang' dengan cat berwarna keemasan. Sesaat ia teringat obrolannya dengan ibu warung beberapa waktu lalu tentang sang pengusaha yang namanya mirip dengan mantan guru Biologinya.


"Apa mungkin pengusaha bernama Reyn Hamdani itu orang yang sama dengan pak Reyn?" Setelah berfikir sebentar, ia melanjutkan niatnya untuk masuk kesana.


Walau Steven tahu bukan perkara mudah masuk ke area perusahaan itu, karena harus mendapat izin dari pegawai yang berwewenang disana, namun rasa penasarannya mengalahkan segala kerumitan yang mungkin bisa menghalanginya masuk kesana.


Ia bertekad harus mendapatkan jawabannya dari semua pertanyaannya hari ini juga.


"Selamat siang Pak," sapa Steven, menghampiri empat orang security di pos jaga yang sedari tadi sudah mengawasi dirinya yang memberhentikan kendaraannya diluar pagar.


"Selamat siang juga Mas. Ada perlu apa?" tanya salah satu diantara security itu dengan ramah dan sopan.


"Perkenalkan, nama saya Steven Jhon. Saya kuliah di Universitas Tangga Arang, fakultas pertanian, ingin bertemu dengan pak Reyn Hamdani, pemilik perusahaan Beras Tangga Arang ini." sahut Steven, sambil berdoa didalam hati, agar ia diberi kemudahan untuk bertemu dengan orang yang ia sebut namanya itu.

__ADS_1


"Sudah buat janji?" tanya security itu lagi.


"Belum Pak. Tolong katakan saja pada beliau, kalau saya siswanya, dan beliau mantan guru Biologi saya di sekolah SMU dulu. Saya berniat untuk mengajukan praktek kerja di perusahaan ini." ucap Steven jujur.


Walau tidak begitu yakin, berbekal melihat sendiri Reyn yang memasuki area perusahaan ini tanpa hambatan sama sekali, membuat tekad Steven semakin bulat untuk mengulik siapa sebenarnya mantan guru Biologinya itu.


"Baiklah, tunggu sebentar ya Mas Steven?" Security itu berbicara pada ketiga rekannya yang lain, tidak berselang lama, ia masuk ke bilik khusus yang tertutup di pos jaga itu.


Setelah hampir enam menit menunggu, security itu akhirnya keluar dari bilik. "Pak Reyn Hamdani menunggu mas Steven di ruangannya." ucapnya menyampaikan berita.


Steven tersentak. "J-jadi b-benar? Pemilik perusahan ini namanya pak Reyn Hamdani? G-guru B-Biologi saya?" gakuk Steven. Jantung pemuda itu kian berdetak kencang, setengah tidak percaya bila doanya minta dipermudah untuk bertemu dengan sang Pemilik perusahaan ternyata terkabul.


Keempat security itu saling berpandangan, merasa bingung pada sikap Steven yang tertlihat kaget.


"Maaf Mas, kami tidak tahu itu. Kami hanya menyampaikan pesan Mas-nya tadi pada GM kami, beliaulah yang berwenang memberi izin Mas-nya masuk untuk bertemu Pemilik Perusahaan ini," jelas sang security.


"Oh begitu. Maafkan saya. Jadi saya harus kemana ini?" Steven menatap security yang sedari tadi tempatnya bertanya, sembari mengatur napas agar detakan dalam dadanya bisa berdetak normal.


"Mas boleh membawa motornya masuk kearah kiri sana," Steven ikut memandang kearah yang di tunjuk oleh sang security. "Nanti parkir di blok B, dari sana Mas bisa masuk ke lobi lalu naik ke lantai 8. Setelah dilantai 8, silahkan menemui sekretaris Leony disana, dia nantinya yang akan mengantar Mas Steven bertemu pak Reyn, pemilik perusahaan ini." terang sang security.


Steven mengangguk tanda mengerti. "Terima kasih Pak, saya akan kesana sekarang." ujarnya sambil sedikit membungkukan tubuhnya.


"Sama-sama Mas," sahut sang security masih bersikap sopan dan ramah.


"Pak, Mas Steven itu tadi Abang Budaya Kota ini lho," ucap seorang security yang paling muda. "Nih, lihat!" tunjuknya pada ponselnya.


"Masa sih, kok nggak bilang dari tadi sih Gus?" ucap sang security yang berbicara pada Steven sebelumnya. Ia turut memperhatikan wajah Steven yang terpampang di akun media sosial pribadinya.


"Baru nyadar, saat Mas-nya tadi ngelewati portal itu Pak," kekehnya.


"Wuah kalau begitu, kita sedang berhadapan sama anaknya sang Bupati kota ini tadi. Untung saja kita selalu bersikap ramah dan selalu sopan pada setiap tamu," sela salah satu dari keempat security itu.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2