
"Lezat banget Rose," Norsa begitu lahap mengunyah asam manis kepiting pedasnya. "Nggak sia-sia aku dihukum bersamamu hari ini," celotehnya tiada henti dengan bibirnya yang memerah karena kepedasan.
Berbeda dengan Norsa, Rina tidak menyukai makan pedas, ia lebih menyukai makanan gurih dan juga sedikit manis. Seperti saat ini ia tengah menikmati seporsi baby cumi kecap, itu makanan kesukaannya setiap ke resto seafood yang tidak jauh dari sekolah mereka, bisa ditempuh hanya berjalan kaki.
"Kak! Kak!" Rose melambaikan tangannya pada salah satu pelayan restoran.
Seorang pelayan wanita gegas datang menghampiri. "Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya pesan lagi seporsi seperti yang saya pesan tadi ya Kak? Dibungkus. Terus, tambah segelas jus timun, nanti masukan dalam botol minuman saya ini saja ya," Rose mengeluarkan botol kaca berwarna pink transparan dari dalam tas gendongnya.
"Baik Nona. Masih ada lagi?" tanya pelayan itu sebelum beranjak.
"Kalian mau nambah?" Rose memandang pada Norsa dan Rina yang masih asik makan.
"Nggak! Cukup Rose," sahut Norsa dengan mulut penuh. Rina hanya menggeleng rusuh, ia tidak ingin bicara, khawatir makanan dalam mulutnya meluber keluar.
"Itu saja Kak," Rose beralih pada sang pelayan yang tersenyum ramah lalu mengangguk pergi meninggalkan meja mereka.
"Kamu suka kimchi fries Rose?" tanya Rina yang sedari tadi melihat Rose tidak pernah henti-hentinya mengunyah makanan asal korea itu.
"Suka, soalnya rasanya kres kres enak gitu," ujar Rose sambil tetap mengunyah.
"Bukannya itu makanan basi?" Norsa menimpali.
"Iya, itu memang makanan yang sengaja dibuat basi. Inikan proses pembuatannya dengan cara difermentasi." terang Rose kembali mengunyah nikmat.
"Kok suka?" ucap Norsa memandang aneh pada Rose yang segitunya meresapi kelezatan makanan yang membuat dirinya ngeri dan jijik.
"Loh, kan enak. Makanya kumakan," sahut Rose tidak perduli. Sementara Rina hanya bisa menahan tawa mendengar perdebatan dua sepupu itu.
"Hufh! Kepting asam manis pedesku!" pekik Norsa dengan raut memelas, saat sepotong kepitingnya terguling dari piring cepernya dan menggelinding kelantai dibawah meja.
Tanpa rasa enggan sama sekali, Norsa memungut daging kepitingnya itu lalu memasukannya lagi kedalam mulutnya sambil memejamkan mata nikmat. "Eumm, lezat dan nikmat," ucapnya lalu membuka matanya kembali.
__ADS_1
"Loh! Kok dimakan?" Kini Rose yang merasa.jijik.
"Kan enak," sahut Norsa santai sambil menjilat ujung-ujung jarinya.
"Bukannya itu tadi jatoh kelantai? Kau melihatnya juga kan Rin?" Rose masih keheranan lalu beralih memandang Rina yang turut terbengong-bemgong menatap ke-antik-kan sikap Norsa yang kadang diluar jalur.
"Iya, memang jatoh kelantai. Memangnya kenapa?" ucap Norsa santai, mulutnya masih mengunyah kepiting pungutannya yang menjadi perdebatan mereka.
"Kalo udah jatoh kelantai ngapain dimakan?Jorok. Itukan kotor NORSA?" Rose mulai gemes pada sepupuya itu.
"Kan enak ROSE." Norsa ikutan gemes. "Kamu aja bisa makan makanan basi? Masa makanan yang jatoh kelantai aja nggak bisa? Kan enak? Sayangkan kalau dibuang? MUBAZIR tau!" pungkas.Norsa tak mau kalah.
"Astaga NORSA!" pekik keduanya frustrasi sambil tepok jidat tak berdaya menghadapi ke-antik-kan Norsa yang tiada duanya.
"Asik sekali, boleh Kakak bergabung?"
Ketiga sekawan itu sontak menoleh dengan ekspresi berbeda, membuat pemuda itu terkekeh geli.
"Kak Steven!!" ucap ketiganya bersamaan dengan raut masih kaget.
"B-boleh Kak," jawab Rina tanpa meminta persetujuan lebih dulu dari dua sahabatnya. Ia gegas berdiri dan menarik kursi disebelahnya lalu mempersilahkan Seven duduk disana.
"Kak! Kak!" Rina berinisiatif memanggil salah satu pelayan yang sedang melewati meja mereka.
Sementara itu, kaki Rose dan Norsa saling menyenggol satu sama lain dibawah meja sana. Mereka bertiga ada direstoran itu karena Rose memenuhi janjinya untuk mentraktir Norsa dan Rina, karena dua sahabatnya itu sudah membantu dirinya menjauhkan Steven darinya beberapa hari yang lalu, tapi kenapa Steven sekarang malah ada disini? Rose nampak pusing memikirkannya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" pelayan itu bertanya pada Rina yang memanggilnya.
"Kakak mau pesan apa?" Rina menyentuh lengan Steven yang berbalut lengan kemeja panjang, seperti pulang dari kampus.
Steven berfikir sebentar, melihat daftar menu pada buku yang ada diatas meja. "Samakan persis dengan pesanan Rose saja," tunjuk Steven akhirnya, pada hidangan didepan gadis yang masih dianggapnya sebagai kekasihnya itu.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Rose seketika tersedak, mendengar sang mantan memesan makanan persis seperti yang dipesannya.
__ADS_1
"Pelan-pelan Rose," Steven segera mengambil gelas air putih dan menyodorkannya pada Rose dengan raut cemas, begitu pula dengan Norsa yang duduk tepat disebelah Rose.
Rose menatap keduanya bergantian. Ia buru-buru meraih gelas minum yang diberikan Norsa, walau tersedak ia masih bisa berfikir jernih. Rose sudah tidak mau menerima apapun lagi dari Steven sekalipun itu perhatian kecil. Biar bagaimanapun ia harus menjaga perasaan Reyn walau suaminya itu tidak melihatnya.
Terbersit sedikit rasa kecewa menyelinap disudut hati Steven, ia bisa melihat kalau Rose memang ingin menjauhinya, sakit sekali rasanya. Namun pemuda itu berusaha menahannya, bagaimanapun caranya, ia akan tetap berusaha membuat hubungan mereka akan hangat seperti dulu lagi.
"Aku bayar dulu ya," Rose gegas berdiri dari duduknya setelah menghabiskan minumannya.
"Tunggu Rose, jangan buru-buru. Makanan kak Steven aja belum datang," pemuda itu mencekal pergelangan tangan Rose yang sengaja ingin menghindarinya.
"Maaf Kak, bisa singkirkan tangan kak Steven dari tanganku." Rose melirik sekilas tangan Steven. " Aku harus kekasir untuk membayar makanan kami."
"Baiklah." Steven terpaksa melepaskan cekalan tangannya. "Kak Steven yang bayar. Boleh ya?" ucap pemuda itu penuh harap bila Rose mengangguk tanda setuju.
"Terima kasih Kak, aku sudah membawa uang yang cukup untuk semua menu yang sudah kami makan." Tolaknya tetap berkata sopan. Setelah berkata demikian, Rose gegas meninggalkan Steven dan dua sahabatnya.
Semua itu tidak luput dari perhatian Rina. Gadis itu merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui, pasalnya ia tahu benar bagaimana Rose sangat menyukai Steven sang idola sekolah dan kota mereka, begitu pula sebaliknya, Steven juga sangat menyukai Rose, siswi tercantik di sekolah mereka.
"Kak, meja nomor sembilan. Berapa semua tagihannya ya? Termasuk pesanan saya yang terakhir," tanya Rose pada sang kasir.
"Apa termasuk tagihan pesanan Duta Putra Budaya itu?" tanya sang kasir, melirik Steven yang juga melihat kearah mereka.
"Eum--, nggak Kak. Dia bayar sendiri." ucap Rose tanpa mau melihat kearah Steven. Bukannya pelit, tapi dirinya tidak ingin membuat mantan kekasihnya itu berharap lagi padanya bila ia bersikap baik.
"Baiklah, ditunggu sebentar ya Nona," Kasir itu mulai menghitung pesanan Rose dan teman-temannya, setelahnya ia menekan tombol di laptopnya untuk mencetak tagihan.
"Ini bill-nya Nona."
Rose melihat total tagihan pada lembaran kertas itu lalu membayarnya dengan uang dari dompet yang telah ia sediakan sejak tadi
"Terima kasih Nona. Kami menanti kunjungan Nona lagi diwaktu mendatang?" ucap sang kasir ramah sambil menyatukan kedua tangannya didepan dada.
Rose tidak kembali kemeja mereka, ia malah menuju toilet, disana ia memesan ojol dan memberi pesan pada Norsa kalau dirinya pulang lebih dulu lewat pintu samping restoran.
__ADS_1
Bersambung...👉