
"Kau harus melihatnya supaya tidak mual-mual lagi, karena sebagai isteriku kau akan mencuci pembungkusnya setiap hari, heum," Reyn menaik turunkan alisnya.
Rose semakin tergagap, membayangkannya saja sudah membuat jantungnya pengen copot dari tempatnya apa lagi sampai melihat belalai gajah dan telur burung dinosaurus yang dimaksud oleh gurunya itu, pasti serem batinnya ngeri.
Gadis belia kelas 12 itu tidaklah polos-polos amat, apalagi Rina pernah memperlihatkan film haram itu yang hanya bertujuan mengerjain kedua sahabatnya, membuat dirinya dan Norsa mual dan muntah-muntah tidak karuan.
"Hiks! Hiks! Hiks." Rose seketika menangis dibawah kungkungan Reyn.
"Kau kenapa Rose?" Reyn menatap Rose yang menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya, pria itu masih pada posisinya.
"Aku mau pulang saja ke rumah Bunda kalau dipaksa lihat itu, hiks, hiks, hiks." tangisnya riuh rendah.
Reyn yang awalnya begitu bersemangat mengerjai isteri kecilnya itu terpaksa mengurungkan niat usilnya, nggak lucukan hanya masalah isi segitiga bermudanya isterinya sampai minta pulang kerumah orang tuanya, apa kata mertuanya nanti yang sudah mempercayakan putri kesayangannya padanya.
"Heum, maaf, aku cuma bercanda, swear," ucap Reyn bersungguh-sungguh sembari mengangkat kedua tangannya keudara walau Rose tidak melihatnya karena wajahnya masih ia tutupi dengan kedua belah tangannya.
Gadis itu merasa lega, ketika merasakan tubuh berisi Reyn beranjak dari atas tubuhnya, dirinya yang pura-pura menangis mengintip dari sela-sela jarinya, melihat Reyn masuk kekamar mandi.
Samar-samar terdengar suara mesin cuci mulai berkerja dan suara gemericik air yang ramai didalam kamar mandi, Rose buru-buru menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya padahal hari sudah beranjak senja.
...🍓🍓🍓...
Dengan langkah hati-hati, Rose mendekati Reyn yang tengah memunggunginya, laki-laki itu sedang sibuk menata sesuatu dilemari pendingin dua pintu didepannya. Setelah kejadian kemarin sore, ia agak sungkan mendekati pria itu, tapi apa boleh buat, dirumah itu tidak ada siapapun selain mereka berdua saja.
Menurut Reyn, ia memberikan cuti pada mbok Dira dan pak Kasim selama liburan sekolah.
"Sudah bangun?" tanya Reyn yang menyadari kehadiran Rose tanpa menoleh.
"Sudah," Rose mendekat, memperhatikan apa yang sedang dilakukan Reyn yang terlihat sibuk itu.
"Apa Mas Reyn yang melakukan semuanya ini?" tanya Rose takjub. Tidak menyangka saja suaminya itu bisa melakukan pekerjaan dapur yang biasanya dilakukan oleh wanita.
__ADS_1
"Iya, apa kau ingin membantuku?" Reyn menoleh, berdiri dari jongkoknya memandang Rose yang menunjukan cengirannya.
"Aku ingin membantu, tapi takut semuanya jadi kacau dan berantakan, hehe."
"Memang apa yang kau bisa?" Reyn teringat obrolannya dengan kedua mertuanya sehari sebelum pernikahannya dengan Rose, tentang kemanjaannya dan banyak hal lainnya, termasuk tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Aku?" Rose menunjuk dirinya dan dibalas anggukan oleh Reyn.
"Aku--, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa mencuci pakaian saja. Tapi cucian kemarin sore udah diberesin sama mas Reyn sepertinya, maaf ya," Rose kembali nyengir, tentu saja malu karena kalah dengan Reyn yang bisa membersihkan semua sayuran, daging, dan ikan seorang diri, tidak seperti dirinya yang terlalu bergantung pada kakak, orang tuannya, dan juga asisten rumah tangganya.
"Owh, baiklah. Selama sisa liburan ini aku akan mengajarimu melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga dan memasak." Reyn berbalik dan menutup lemari pendingin yang sudah rapi itu.
"Iya, sepertinya begitu," ucap Rose jujur tanpa malu, sejak semalam ia memang tidak makan apapun karena rasa mualnya.
Rose memperhatikan setiap pergerakan Reyn, laki-laki itu terlihat berbeda selama dua hari mereka bersama, tidak terlalu galak seperti dikelas, terlihat lebih sabar. Semoga saja seperti itu terus, batin Rose berharap, sehingga dirinya bisa betah tinggal dirumah itu.
"Ayo duduk, kenapa mematung disana? Jangan bilang kau terpesona pada pria belum mandi sepertiku," Reyn menarik kursi dan mempersilahkan Rose duduk disana.
Rose tertawa, "Ternyata Pak guruku bisa bercanda juga," Rose mendudukan dirinya pada kursi yang telah disediakan Reyn untuknya, ia berusaha bersikap biasa walau sebenarnya ia masih risih dengan pernikahan mereka.
"Kita berdoa dulu," ajak Reyn sebelum keduanya memulai sarapan paginya. Rose ikut menundukkan kepalanya, mendengarkan setiap kata syukur yang dipanjatkan sang guru sekaligus suaminya itu.
"Pagi ini tidak ada roti dan susu, aku belum sempat membelinya, karena toko yang menjualnya baru buka pukul 9 pagi. Tidak apa-apa 'kan kita sarapan seperti ini?" Reyn menatap Rose yang berdiam memandang hidangan diatas meja.
Laki-laki itu tahu dari kakak ipar dan mertuanya bila Rose selalu sarapan roti dan minum susu, itu saja bila di pagi hari.
"Itu apa?" tunjuk Rose pada semangkuk besar sayuran berkuah dengan bola-bola bakso yang terlihat menarik, dirumahnya ia tidak pernah melihat bibi atau kakak bahkan ibunya memasak masakan seperti itu.
__ADS_1
"Ini tomyam sayur, kau mau?"
Rose mengangguk. "Aku mau mencobanya." Rose memang bukan penyuka sayuran, tapi melihat tampilan sajian yang menggugah selera ia jadi penasaran untuk mencicipinya.
Reyn menyendokan beberapa bola bakso, tahu, daun sawi hijau dan putih, udang, dan jamur kedalam mangkuk kecil ditangannya lalu memberikannya pada Rose.
"Bagaimana rasanya?" tanya Reyn penasaran, memandang wajah Rose yang sedang mengunyah masakannya didalam mulutnya.
"Lumayan, aku suka, tapi sedikit pahit ya," ucap Rose jujur saat merasakan sawi yang tengah dikunyahnya. "Pahitnya seperti masakan kak Bram."
Dirumahnya dulu, hanya Bram dan ayahnya saja yang suka sayuran, itu sebabnya bibi jarang masak sayuran, kecuali bila keduanya tidak makan diluar.
"Tidak ada sayur yang manis Rose," Reyn tersenyum, merasa lucu melihat wajah Rose yang meringis.
"Keluarkan saja dari mulutmu kalau tidak tahan," Reyn menadahkan tangannya yang sudah dilapisi tissue dibawah bibir Rose yang ingin muntah.
"Jangan, ini jorok," tolak Rose, berusaha menahan rasa mualnya yang tiba-tiba datang lagi.
"Tidak mengapa, cepatlah, dari pada kau muntah lagi seperti semalam."
Merasa tidak tahan Rose buru-buru mengeluarkan apa yang ada dalam mulutnya, ia sendiri merasa jijik saat melihat hasil kunyahannya sudah ada ditangan Reyn.
Reyn dengan santai membawa apa yang ada ditangannya berbalut tissue dan membuangnya pada tempat sampah tidak jauh dari wastafel.
Melihat itu tentu saja Rose merasa malu dalam hatinya. Semalam saja ia begitu jijik dengan pakaian da*am suaminya sampai-sampai tak ingin makan sesuatu.
"Sisihkan saja sayurnya dipiring ini," Reyn mendekatkan piring kosong disebelah mangkuk Rose. "Kau makan bola-bola baksonya saja beserta jamur, udang, dan tahunya. Padahal sayur sangat baik lho untuk perawatan kulitmu dari dalam Rose," sambungnya lagi sembari mengeluarkan beberapa potongan sawi hijau dari dalam mangkuk.
Perhatian dan cara Reyn memperlakukannya beberapa hari ini kembali mengingatkannya pada sosok Steven yang juga selalu perhatian padanya.
Entah bagaimana kabar pemuda tampan itu sekarang, hingga kini belum ada kata putus diantara mereka. Steven selalu menolak mengakhiri hubungan mereka bila Rose beralasan tidak ada restu dari ibu laki-laki itu, setahunya hingga kini sang Mami-nya tidak pernah keberatan atas hubungan dirinya dengan Rose.
Bersambung...👉
__ADS_1