My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
63. BUKAN DARAH BANGSAWAN


__ADS_3

Dari balik helmnya, Reyn melihat Mutiara keluar dari lobi kantornya, wanita itu terlihat menekukan wajahnya dengan langkah tergesa-gesa masuk kedalam mobil lalu pergi.


Setelah melepas helmnya, Reyn sedikit merapikan penampilannya, lalu gegas memasuki lobi. Setiap pegawainya menyapa dengan sikap hormat saat berpapasan dengannya. Seperti biasa, Reyn akan membalas dengan senyum ramahnya dan masuk ke dalam lift.


Ting!


"Selamat siang Pak Reyn," sapa Leony sembari berdiri di belakang mejanya, begitu melihat pimpinannya itu keluar dari dalam lift, tidak jauh dari meja kerjanya.


"Selamat siang," balas Reyn menoleh sekilas dan terus melangkah menuju ruangannya.


"Maaf Pak, tadi ibu Mutiara datang kemari, memaksa ingin bertemu pak Reyn."


Reyn menghentikan langkahnya. Ia berbalik namun tidak beranjak dari posisi berdirinya.


"Isteri dari pak Farid? Ada keperluan apa?" ingatannya langsung tertuju pada Mutiara yang ia lihat dibawah tadi.


"Perihal biaya rumah sakit pak Rahmad. Beliau memaksa Manager HRD dan Manager Keuangan untuk setuju membayar semua tagihan sesuai kwitansi yang ia bawa dari rumah sakit," Terang Leony.


"Lalu?" Reyn kembali bertanya.


"Tentu saja Manager keuangan dan Manager HRD tidak setuju Pak. Perusahaan sudah memberikan perlindungan jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan kesehatan. Bila ada budget tagihan tambahan melebihi jaminan yang tertera pada kontrak kerja pegawai, itu akan ditanggung pihak yang menyebabkan kecelakaan itu."


"Karena keinginannya di tolak, ibu Mutiara memaksa mau bertemu pimpinan perusahaan. Begitu katanya Pak. Karena tidak sabar menunggu, beliau akhirnya pulang."


"Terima kasih informasinya," Reyn hanya bersikap datar, menanggapi laporan singkat sekretarisnya itu.

__ADS_1


"Berkas-berkas yang kemarin, tolong bawa ke ruangan saya lagi. Saya akan memeriksanya ulang sebelum dikirim ke Dinas Perdagangan."


"Baik Pak. Dan 10 menit lagi rapat direksi akan dimulai," ucap Leony mengingatkan.


"Saya ingat itu," sahut Reyn sambil membalikan tubuhnya lalu gegas menuju ruangannya.


...🍓🍓🍓...


Norsa menggenggam erat tangan Rina yang berdiri disebelahnya dengan raut takut. "Kita pulang saja yuk?" bisiknya pelan dibelakang telinga Rina. Namun sahabatnya itu masih bergeming, memandang wanita berpenampilan elegan yang membuatnya takut.


"Ada apa ini?" Mutiara melirik sekilas pada dua gadis berseragam putih abu-abu itu lalu beralih pada dua pria bertubuh kekar yang sedikit menundukan wajahnya menunjukan rasa hormatnya pada sang majikan.


"Dua gadis ini ingin membesuk mas Steven, Bu," sahut salah satu pria berseragam hitam dan berkaca mata gelap itu.


Mutiara kembali mengalihkan pandangannya pada Norsa dan Rina.


"S-saya Rina, dan ini Norsa, Bu. Kami adik kelas kak Steven saat dia masih bersekolah di SMU Negeri Tangga Arang." jawab Rina sedikit tergagap.


Ini kali pertama Rina bertemu langsung dengan wanita cantik nan elegan dihadapannya ini. Dilihat dari penampilan glamor, juga bagaimana dua pria yang berjaga di sekitar ruang rawat inap Steven bersikap sangat hormat.


Rina dapat memastikan bila perempuan itu adalah ibu dari Steven, karena ia pernah melihatnya beberapa kali muncul di layar televisi pada upacara hari-hari besar kenegaraan, dan pernah di undang juga menjadi nara sumber dalam talkshow stasiun televisi lokal.


Mutiara menelisik kedua gadis dihadapannya, dan pandangannya lebih banyak terpokus pada Rina yang tidak asing baginya. Ia ingat, poto gadis itu yang pernah dikirim oleh orang suruhannya yang sengaja diperintahkannya untuk membuntuti putranya itu.


"Apa kau Rina, gadis SMU yang sering bersama putraku akhir-akhir ini?" datar Mutiara.

__ADS_1


"I-iya, Bu," sahut Rina tambah tergagap. Ia.cukup kaget karena wanita berumur yang masih terlihat sangat cantik dan terawat itu mengetahuinya.


Sikap dingin Mutiara membuatnya semakin salah tingkah, sementara Norsa yang berdiri di sebelahnya semakin gelisah dan mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Rina yang berusaha bersikap tenang.


"Apa kah kau adalah salah satu gadis berdarah bangsawan di kota ini?" tanya Mutiara sinis dengan raut meremehkan. Di kota ini, hanya kerabatnya saja yang berketurunan bangsawan.


Mendengarnya, Rina seketika bergidik ngeri dan berusaha menelan salivanya dengan susah payah, ia masih memberanikan diri menatap wanita bangsawan yang memberikan pandangan dingin padanya itu.


"B-bukan, Bu." lirih Rina sedikit menundukan kepala.


"Kalau begitu--, aku peringatkan, jangan pernah berusaha mendekati putraku lagi. Kasihan sekali, kau terlalu percaya diri tanpa modal apapun. Gadis sepertimu tidak pantas ada disekitar putraku," gema Mutiara tanpa perasaan.


Rina hanya bisa menundukkan wajahnya yang memerah. Ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh dari pelupuk matanya yang sudah berair. Hinaan itu, kenapa begitu sakit rasanya? Rintihnya didalam hati.


"Untuk apa kau masih berdiri disitu? Apa kau tuli? Kau tidak dengar apa perkataanku? Kalau gadis sepertimu tidak pantas berada disekitar Steven, putraku!" sentaknya geram.


Norsa dan Rina hampir melompat saking kagetnya. Wanita terhormat itu, kenapa sangat mengerikan? Kenapa tidak sama seperti yang pernah mereka lihat dilayar televisi, begitu lembut dan keibuan.


"Rina, ayo cepat. Kita bisa di terkamnya nanti." Tanpa sadar, Norsa menarik Rina dengan paksa. Rasa takutnya sudah sampai ke ubun-ubun.


"I-iya!" Rina yang ditarik tidak ada pilihan. Ia terpaksa menurut.


Mutiara menatap nyalang kepergian dua gadis berseragam putih abu-abu itu.


"Kalian, jangan pernah mengijinkan dua gadis itu datang menemui Steven bila mereka datang lagi kemari," perintahnya pada kedua pria yang ditugaskan menjaga ruang rawat inap Steven.

__ADS_1


"Baik Bu," sahut keduanya bersamaan.


Bersambung...👉


__ADS_2