
"K-kenapa? Kenapa pak Bram lakuin ini? Huh!" geram Leony dengan tatapan garangnya. Bola matanya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Perempuan itu berusaha keras menahan air mata kekesalannya yang hampir jatuh ke pipinya.
Bram tidak bisa menjawab, ia hanya bisa terpaku membeku, sadar bila dirinya memang salah karena telah membuat wanita pujaannya itu cemas dan menangis karena ulah sembrononya.
"Jangan malahin Om Blam, Mami. Om Blam baik. Udah bantuin Clala di cekolah jadi Papi bo'ongan. Bial Olin gak lagi ngolokin kalo Clala gak punya Papi," Clara mengusap lembut air mata Leony dengan tangan kecilnya, berusaha membela Bram.
Leony, Reyn, dan Rose kompak menatap kearah Bram, pemuda itu masih terdiam, dan tidak berusaha membela dirinya.
"Clara sayang, dengerin Mami." Leony kembali beralih menatap lekat pada wajah putrinya, ia merapikan anak-anak rambut yang menutupi sebagian bola mata indah Clara.
"Om Bram bukan orang yang baik. Tidak ada orang yang baik membawa putri Mami tanpa minta izin dulu sama Mami. Dan gak boleh manggil Papi sama om Bram. Gak boleh, ingat!" tegas Leony memberitahu putrinya. Ia tidak mau putrinya itu terperdaya oleh sikap manis Bram yang sangat menyebalkan itu.
"Om Blam minta izin kok cama kakek dan nenek ditelepon. Clala dengel cendili." celetuk gadis itu.
"Tidak mungkin, om Bram kan nggak kenal sama kakek dan nenek," Leony menggeleng. " Dia pasti bohong," perempuan itu kembali menatap garang kearah Bram yang masih memaku diam di posisinya seperti sebelumnya.
Sementara itu, Reyn dan Rose masih menjadi pendengar setia, melihat Leony sedang memberitahu putrinya dan Bram yang terlihat menyedihkan, yah mereka seperti keluarga kecil yang sedang ribut pada pemandangan Reyn dan Rose.
"Leony! Tamu kok nggak diajak masuk, malah diajak ngobrol diluar?"
Reyn menoleh kearah datangnya suara. Sekilas pandang ia mengingat sepasang suami isteri yang berdiri didepan pintu itu adalah orang tua sekretaris pribadinya, karena beberapa kali Leony pernah mengajak kedua orang tuanya itu menghadiri acara ulang tahun perusahaan.
"Kak Bram, ayo kita minta maaf pada orang tua Leony." Reyn berbisik sembari menggamit lengan kakak iparnya. Hatinya sedikit was-was, khawatir orang tua Leony akan murka bila tahu Bram yang membawa cucu mereka pergi.
"Selamat sore Bapak, Ibu," sapa Reyn sambil menyalami kedua orang tua Leony secara bergantian. Dirinya masih was-was walau kedua orang tua Leony memberi sambutan hangat dengan senyuman mereka.
"Perkenalkan, Ini isteri saya, Rose." Rose yang disebut namanya gegas mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh kedua orang tua Leony yang masih tersenyum ramah.
"Ternyata isteri pak Reyn memang benar sangat cantik dan masih sangat muda, persis seperti yang Leony pernah ceritakan," ucap Jeny memandangi wajah Rose yang seketika tersipu malu mendapat pujian itu.
"Terima kasih, sekretaris Leony dan Ibu terlalu berlebihan," Rose menarik tangannya setelah selesai berjabatan tangan dan kembali berdiri disisi Reyn yang gemes melihat rona wajah isterinya itu.
"Dan pemuda ini, dia kakak ipar saya, kak Bram, kakak laki-laki isteri saya," Reyn menoleh pada Bram, raut kakak iparnya itu tidak nampak sungkan, malah tersenyum lebar sambil menyalami dan mencium dengan khidmat punggung tangan ayah Leony maupun ibunya.
Yah, terlihat sok akrab menurut pemandangan Reyn, Rose, dan Leony. Perempuan itu malah semakin kesal melihat gelagat Bram yang demikian. Ia gegas membawa Clara dalam gendongannya mendekati kedua orang tuanya.
"Lihat! Itu manusia yang menculik Clara disekolahnya siang tadi Mam, Pap," Leony menunjuk dengan ujung bibirnya yang memancung lengkap dengan wajah juteknya.
"Siapa bilang Clara diculik? Nak Bram sudah menelpon kami minta izin mengajak Clara jalan-jalan biar tidak bosan. Iya 'kan Pap?" Jeny menoleh pada suaminya lalu kembali memandang kearah Bram dan tamunya yang lain sambil mengulas senyum ramahnya.
Frans, suami Jeny mengangguk, "Mamimu benar Leony. Nak Bram memang sudah izin pada kami."
Leony ternganga tak percaya. "Kalau pak Bram sudah izin pada Mami-Papi, kenapa tidak memberitahuku saat aku menelpon tadi siang? Jadi aku tidak sekhawatir hari ini--" Leony menatap kedua orang tuanya dengan raut penuh tanya.
Leony kembali ternganga, tak percaya bila sang mami menyalahkan dirinya dan tidak memarahi Bram, pemuda yang sudah membuatnya hari ini sangat cemas dan kalang kabut karena kehilangan putrinya.
"Mam, bagaimana bisa Leony yang salah?" Leony tak bisa terima, ia menurunkan Clara yang cukup berat dalam gendongannya. Gadis kecil itu berlarian lalu menghambur memeluk kaki Bram, dan pemuda itu gegas meraih tubuh Clara dan menggendongnya.
"Astaga Clara!" Leony semakin emosi. Ia berusaha merebut Clara dari gendongan Bram, tapi gadis kecil itu mengeratkan pelukannya di leher Bram, membuat Leony mengurungkan niatnya, ia tidak mau bersentuhan fisik lagi dengan Bram, hatinya masih sangat kesal dengan pemuda itu.
"Kau terus-terusan menangis selama mengadu ditelepon kalau Clara menghilang di sekolah dibawa seseorang. Tidak memberi kesempatan sama sekali pada Mami untuk bicara. Setelah kau menutup teleponmu, Mami berusaha menelponmu ulang tapi kau tidak mengangkatnya, jadi Mami berinisiatif mengirim pesan. Kau boleh memeriksanya," jelas Jeny panjang lebar pada putrinya, sementara yang lain menatap kearah Leony yang grasak-grusuk mengambil ponsel dalam tas kerjanya.
Wajah Leony yang semula emosi seketika berubah, kala melihat deratan panjang panggilan tidak terjawab dari ibunya juga pesan masuk yang memberi kabar bila Clara di jemput pulang oleh Bram.
Perempuan itu memang tidak mendengar panggilan telepon maupun notif pesan yang masuk, ia selalu memberi mode silent supaya tidak terganggu saat berkerja, ditambah lagi rasa paniknya sehingga ia tidak senpat memeriksa ponselnya barang sesaat.
__ADS_1
"T-tapi bagaimana mungkin Mami bisa mempercayai orang asing?" Leony masih belum bisa menerima bila ayah dan ibunya yang selama ini begitu extra menjaga Clara bisa mengizinkan begitu saja cucu kesayangan mereka dibawa oleh Bram.
"Nak Bram bukan orang asing Leony, dia sering kerumah ini saat kau masih dikantor. Ketika dia mengaku dirinya adalah kakak ipar pak Reyn, Mami dan Papimu mencari tahu kebenaranya."
"Kau ingat, saat pak Reyn pernah mengadakan konferensi pers beberapa bulan lalu mengenai statusnya sebagai suami nona Rose?" Leony mengangguk, karena dirinyalah yang mengurus konferensi pers itu, termasuk mengundang para wartawan ketika itu.
"Maaf ya pak Reyn, bila saya mengingatkan Anda pada masalah yang Anda hadapi bersama keluarga waktu itu." Jeny beralih menatap pada Reyn, berharap bos putrinya itu tidak salah faham.
"Iya, tidak masalah Bu," sahut Reyn tersenyum tipis.
"Jadi Mami cari informasi tentang nak Bram lewat Raffy, salah satu wartawan yang turut diundang ketika itu." sambung Jeny beralih pada putrinya. Leony mengingatnya sesaat, ia memang menyertakan Raffy waktu itu, salah seorang kerabatnya yang berprofesi sebagai seorang wartawan.
"Kebetulan pak Reyn ada di sini," Jeny kembali beralih pada bos putrinya itu. Dan Reyn yang disebut namanya, mengalihkan sepenuhnya atensinya pada ibu dari Leony yang tengah menatapnya.
"Nak Bram sudah menyampaikan niat baiknya saat pertama kali bertandang kerumah kami ini sekitar hampir dua bulan yang lalu. Jadi, tolong sampaikan pada kedua orang tua nak Bram, kami menunggu kedatangan mereka untuk keseriusan putra mereka Bram pada putri kami Leony."
Deg.
Leony terkaget-kaget, begitu pula halnya dengan Reyn, Rose, apalagi Bram. Pemuda itu tentu saja kaget kegirangan mendengarnya, perjuangannya ternyata menemukan setitik terang.
"Mam, Mam. Leony mohon, jangan seperti ini," Leony dengan cepat menginterupsi perkataan ibunya sembari meraih tangan sang mami dan menempelkannya didadanya dengan raut memohon.
"Leony, kau tunggu apalagi? Fikirkan usiamu sudah menginjak kepala tiga sekarang? Kau mau mendapat julukan perawan tua? Huh?"
Bram, Reyn, dan Rose saling berpandangan. Bagaimana mungkin Leony bisa mendapat julukan perawan tua bila tidak segera menikah lagi. Bukankah adanya Clara membuktikan bila Leony bukanlah seorang gadis lagi? Tapi satupun dari ketiganya tidak ada yang berani menanyakan apa arti dari perkataan Jeny itu.
"Mam, Leony mohon jangan bicara seperti itu, ini privasi Leony, Mam," protesnya dengan suara berbisik, ia memang sangat malu bila ada orang lain yang mendengar perkataan ibunya tentang pribadinya selain dari keluarga inti mereka.
Bersambung...👉
"K-kenapa? Kenapa pak Bram lakuin ini? Huh!" geram Leony dengan tatapan garangnya. Bola matanya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Perempuan itu berusaha keras menahan air mata kekesalannya yang hampir jatuh ke pipinya.
Bram tidak bisa menjawab, ia hanya bisa terpaku membeku, sadar bila dirinya memang salah karena telah membuat wanita pujaannya itu cemas dan menangis karena ulah sembrononya.
"Jangan malahin Om Blam, Mami. Om Blam baik. Udah bantuin Clala di cekolah jadi Papi bo'ongan. Bial Olin gak lagi ngolokin kalo Clala gak punya Papi," Clara mengusap lembut air mata Leony dengan tangan kecilnya, berusaha membela Bram.
Leony, Reyn, dan Rose kompak menatap kearah Bram, pemuda itu masih terdiam, dan tidak berusaha membela dirinya.
"Clara sayang, dengerin Mami." Leony kembali beralih menatap lekat pada wajah putrinya, ia merapikan anak-anak rambut yang menutupi sebagian bola mata indah Clara.
"Om Bram bukan orang yang baik. Tidak ada orang yang baik membawa putri Mami tanpa minta izin dulu sama Mami. Dan gak boleh manggil Papi sama om Bram. Gak boleh, ingat!" tegas Leony memberitahu putrinya. Ia tidak mau putrinya itu terperdaya oleh sikap manis Bram yang sangat menyebalkan itu.
"Om Blam minta izin kok cama kakek dan nenek ditelepon. Clala dengel cendili." celetuk gadis itu.
"Tidak mungkin, om Bram kan nggak kenal sama kakek dan nenek," Leony menggeleng. " Dia pasti bohong," perempuan itu kembali menatap garang kearah Bram yang masih memaku diam di posisinya seperti sebelumnya.
Sementara itu, Reyn dan Rose masih menjadi pendengar setia, melihat Leony sedang memberitahu putrinya dan Bram yang terlihat menyedihkan, yah mereka seperti keluarga kecil yang sedang ribut pada pemandangan Reyn dan Rose.
"Leony! Tamu kok nggak diajak masuk, malah diajak ngobrol diluar?"
Reyn menoleh kearah datangnya suara. Sekilas pandang ia mengingat sepasang suami isteri yang berdiri didepan pintu itu adalah orang tua sekretaris pribadinya, karena beberapa kali Leony pernah mengajak kedua orang tuanya itu menghadiri acara ulang tahun perusahaan.
"Kak Bram, ayo kita minta maaf pada orang tua Leony." Reyn berbisik sembari menggamit lengan kakak iparnya. Hatinya sedikit was-was, khawatir orang tua Leony akan murka bila tahu Bram yang membawa cucu mereka pergi.
"Selamat sore Bapak, Ibu," sapa Reyn sambil menyalami kedua orang tua Leony secara bergantian. Dirinya masih was-was walau kedua orang tua Leony memberi sambutan hangat dengan senyuman mereka.
__ADS_1
"Perkenalkan, Ini isteri saya, Rose." Rose yang disebut namanya gegas mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh kedua orang tua Leony yang masih tersenyum ramah.
"Ternyata isteri pak Reyn memang benar sangat cantik dan masih sangat muda, persis seperti yang Leony pernah ceritakan," ucap Jeny memandangi wajah Rose yang seketika tersipu malu mendapat pujian itu.
"Terima kasih, sekretaris Leony dan Ibu terlalu berlebihan," Rose menarik tangannya setelah selesai berjabatan tangan dan kembali berdiri disisi Reyn yang gemes melihat rona wajah isterinya itu.
"Dan pemuda ini, dia kakak ipar saya, kak Bram, kakak laki-laki isteri saya," Reyn menoleh pada Bram, raut kakak iparnya itu tidak nampak sungkan, malah tersenyum lebar sambil menyalami dan mencium dengan khidmat punggung tangan ayah Leony maupun ibunya.
Yah, terlihat sok akrab menurut pemandangan Reyn, Rose, dan Leony. Perempuan itu malah semakin kesal melihat gelagat Bram yang demikian. Ia gegas membawa Clara dalam gendongannya mendekati kedua orang tuanya.
"Lihat! Itu manusia yang menculik Clara disekolahnya siang tadi Mam, Pap," Leony menunjuk dengan ujung bibirnya yang memancung lengkap dengan wajah juteknya.
"Siapa bilang Clara diculik? Nak Bram sudah menelpon kami minta izin mengajak Clara jalan-jalan biar tidak bosan. Iya 'kan Pap?" Jeny menoleh pada suaminya lalu kembali memandang kearah Bram dan tamunya yang lain sambil mengulas senyum ramahnya.
Frans, suami Jeny mengangguk, "Mamimu benar Leony. Nak Bram memang sudah izin pada kami."
Leony ternganga tak percaya. "Kalau pak Bram sudah izin pada Mami-Papi, kenapa tidak memberitahuku saat aku menelpon tadi siang? Jadi aku tidak sekhawatir hari ini--" Leony menatap kedua orang tuanya dengan raut penuh tanya.
Leony kembali ternganga, tak percaya bila sang mami menyalahkan dirinya dan tidak memarahi Bram, pemuda yang sudah membuatnya hari ini sangat cemas dan kalang kabut karena kehilangan putrinya.
"Mam, bagaimana bisa Leony yang salah?" Leony tak bisa terima, ia menurunkan Clara yang cukup berat dalam gendongannya. Gadis kecil itu berlarian lalu menghambur memeluk kaki Bram, dan pemuda itu gegas meraih tubuh Clara dan menggendongnya.
"Astaga Clara!" Leony semakin emosi. Ia berusaha merebut Clara dari gendongan Bram, tapi gadis kecil itu mengeratkan pelukannya di leher Bram, membuat Leony mengurungkan niatnya, ia tidak mau bersentuhan fisik lagi dengan Bram, hatinya masih sangat kesal dengan pemuda itu.
"Kau terus-terusan menangis selama mengadu ditelepon kalau Clara menghilang di sekolah dibawa seseorang. Tidak memberi kesempatan sama sekali pada Mami untuk bicara. Setelah kau menutup teleponmu, Mami berusaha menelponmu ulang tapi kau tidak mengangkatnya, jadi Mami berinisiatif mengirim pesan. Kau boleh memeriksanya," jelas Jeny panjang lebar pada putrinya, sementara yang lain menatap kearah Leony yang grasak-grusuk mengambil ponsel dalam tas kerjanya.
Wajah Leony yang semula emosi seketika berubah, kala melihat deratan panjang panggilan tidak terjawab dari ibunya juga pesan masuk yang memberi kabar bila Clara di jemput pulang oleh Bram.
Perempuan itu memang tidak mendengar panggilan telepon maupun notif pesan yang masuk, ia selalu memberi mode silent supaya tidak terganggu saat berkerja, ditambah lagi rasa paniknya sehingga ia tidak senpat memeriksa ponselnya barang sesaat.
"T-tapi bagaimana mungkin Mami bisa mempercayai orang asing?" Leony masih belum bisa menerima bila ayah dan ibunya yang selama ini begitu extra menjaga Clara bisa mengizinkan begitu saja cucu kesayangan mereka dibawa oleh Bram.
"Nak Bram bukan orang asing Leony, dia sering kerumah ini saat kau masih dikantor. Ketika dia mengaku dirinya adalah kakak ipar pak Reyn, Mami dan Papimu mencari tahu kebenaranya."
"Kau ingat, saat pak Reyn pernah mengadakan konferensi pers beberapa bulan lalu mengenai statusnya sebagai suami nona Rose?" Leony mengangguk, karena dirinyalah yang mengurus konferensi pers itu, termasuk mengundang para wartawan ketika itu.
"Maaf ya pak Reyn, bila saya mengingatkan Anda pada masalah yang Anda hadapi bersama keluarga waktu itu." Jeny beralih menatap pada Reyn, berharap bos putrinya itu tidak salah faham.
"Iya, tidak masalah Bu," sahut Reyn tersenyum tipis.
"Jadi Mami cari informasi tentang nak Bram lewat Raffy, salah satu wartawan yang turut diundang ketika itu." sambung Jeny beralih pada putrinya. Leony mengingatnya sesaat, ia memang menyertakan Raffy waktu itu, salah seorang kerabatnya yang berprofesi sebagai seorang wartawan.
"Kebetulan pak Reyn ada di sini," Jeny kembali beralih pada bos putrinya itu. Dan Reyn yang disebut namanya, mengalihkan sepenuhnya atensinya pada ibu dari Leony yang tengah menatapnya.
"Nak Bram sudah menyampaikan niat baiknya saat pertama kali bertandang kerumah kami ini sekitar hampir dua bulan yang lalu. Jadi, tolong sampaikan pada kedua orang tua nak Bram, kami menunggu kedatangan mereka untuk keseriusan putra mereka Bram pada putri kami Leony."
Deg.
Leony terkaget-kaget, begitu pula halnya dengan Reyn, Rose, apalagi Bram. Pemuda itu tentu saja kaget kegirangan mendengarnya, perjuangannya ternyata menemukan setitik terang.
"Mam, Mam. Leony mohon, jangan seperti ini," Leony dengan cepat menginterupsi perkataan ibunya sembari meraih tangan sang mami dan menempelkannya didadanya dengan raut memohon.
"Leony, kau tunggu apalagi? Fikirkan usiamu sudah menginjak kepala tiga sekarang? Kau mau mendapat julukan perawan tua? Huh?"
Bram, Reyn, dan Rose saling berpandangan. Bagaimana mungkin Leony bisa mendapat julukan perawan tua bila tidak segera menikah lagi. Bukankah adanya Clara membuktikan bila Leony bukanlah seorang gadis lagi? Tapi satupun dari ketiganya tidak ada yang berani menanyakan apa arti dari perkataan Jeny itu.
__ADS_1
"Mam, Leony mohon jangan bicara seperti itu, ini privasi Leony, Mam," protesnya dengan suara berbisik, ia memang sangat malu bila ada orang lain yang mendengar perkataan ibunya tentang pribadinya selain dari keluarga inti mereka.
Bersambung...👉