My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
72. TANGGAPAN PAK KADIN


__ADS_3

"Mas Reyn kapan pulangnya Kak?" Rose berdiri di ambang pintu kamar tamu dimana Bram menginap, sambil mendekap boneka pinkie pie kesayangannya.


Bram melirik arloji tangannya yang sudah menunjukan pukul 24 lewat 10 menit. Pemuda itu sebenarnya sudah tertidur, tapi terbangun karena Rose menggedor-gedor pintu kamarnya dengan paksa.


"Mungkin sebentar lagi. Katanya Reyn, dia memang pulang larut, banyak urusan. Udah, tidur sana," suruh Bram dengan rasa kantuk yang masih menguasainya.


"Rose nggak mau sendiri, Rose tidur sama kak Bram saja ya, boleh ya? Sambil nungguin mas Reyn pulang," Rose memasang wajah sendu dan memelasnya agar di kasihani oleh kakaknya itu.


"Yee, nggak boleh gitu. Nanti suamimu marah sama Kakak. Sana, tidur di kamar kalian saja." suruhnya lagi sambil menyangga tubuh lunglainya yang mau roboh karena kantuk berat yang semakin intens menyerang.


"Tapi Rose nggak mau sendiri di kamar," rengek gadis itu lagi dengan gaya manjanya. "Kalau nggak boleh bobo sama kakak disini, kak Bram temanin Rose di kamar Rose aja yah?" Rose mulai menarik paksa pergelangan tangan Bram.


"Oke! Oke! Kamu boleh tidur di sini saja sama Kakak," akhirnya Bram mengalah. Ia tahu benar sipat adiknya itu, tidak akan menyerah sebelum keinginannya tercapai. Tidur di kamar adiknya dan Reyn, oh tidak mungkin! Walaupun ia adalah kakak Rose, ia tetap tidak ingin melewati batasannya, karena ini adalah rumah suami adiknya, ia tidak mau berbuat seenaknya.


Wajah melas Rose seketika berubah senang, ia langsung menerobos masuk, melanggar tubuh besar kakaknya hingga pemuda itu terhuyung kebelakang. Untung saja ia segera bersandar pada dinding kamar dibelakangnya dan berpegangan kuat pada handle pintu, bila tidak ia bisa jatuh bebas dilantai ubin yang dingin.


Bram memandang gemas adiknya itu, rasanya ingin sekali ia menggigitnya kalau tidak ingat Rose bukan anak kecil lagi, bahkan sudah bersuami.


Bram menutup pintu pelan, namun tidak menguncinya. Ia menghampiri nakas untuk mengambil ponselnya disana, mengirim pesan singkat pada Reyn bila adiknya tidur dikamar tamu bersamanya.


Dengan hati-hati, Bram naik ke tempat tidur menyelimuti Rose.yang meringkuk memeluk boneka pinkie pie-nya. Dengkuran halusnya terdengar berirama menandakan gadis itu sudah tertidur pulas.


Bram tersenyum tipis, memandang wajah cantik Rose yang terlihat polos. Walau sering bertingkah menjengkelkan, tapi dia lah satu-satunya adik kesayangannya, karena ayah dan ibu mereka memang tidak berniat memiliki anak lebih dari dua.


Dengan pelan, Bram kembali turun dari tempat tidur, mengambil selimut di lemari dan membaringkan tubuhnya diatas Sofa lalu segera memejamkan matanya yang sudah tidak mau kompromi lagi.

__ADS_1


Baru saja pemuda itu mulai terlelap, suara ketukan pintu kembali mengganggunya.


"Masuk!" seru Bram dari sofa, ia sudah tidak punya kekuatan untuk berdiri dan membuka pintu, membalikan tubuhnya saja ia sudah tidak sanggup, serasa berton-ton saja bobot tubuhnya.


"Kak Bram kok tidur di sofa?" Reyn mendekati presisi Bram, menelisik dalam temaram lampu tidur keberadaan kakak iparnya itu.


"Tidak mungkin kan aku tidur seranjang dengan adikku itu, bahaya! Bisa di kiranya aku ini kau," sahut Bram setengah tidur.


Reyn tertawa kecil.


"Pindahlah ke ranjangmu, aku akan membawa Rose ke kamar kami. Aku tak mau tidurmu tak nyaman karena hanya tidur di sofa itu,"


Tanpa menunggu jawaban, Reyn beranjak. Ia membopong tubuh mungil Rose yang masih tertidur pulas, membawanya meninggalkan kamar Bram.


Diusapnya lembut belahan pipi halus didepannya, memandangi wajah mungil itu sesaat lamanya. Ia tidak menyangka saja bila Rose yang mendapat serangan dan tekanan atas pernikahan diam-diam mereka, bukannya dirinya.


"Kepolosanmu ternyata ada bagusnya juga, berguna disaat-saat seperti ini. Jadi aku tidak pusing memikirkan mentalmu akibat badai ini, karena pokusku kini hanya satu, bagaimana semua masalah ini bisa cepat selesai."


Reyn merebahkan tubuh disamping Rose. Untuk membersihkan tubuhnya saja ia sudah tidak sanggup. Bukan hanya tubuhnya saja, tapi fikirannya juga sangat lelah hari ini, yang ia mau hanya mengistirahatkan tubuhnya supaya energinya bisa kembali pulih saat ia bangun di esok hari.


...🍓🍓🍓...


Pertemuan di Dinas Pendidikan.


"Pak Kadin, berdasarkan peraturan di sekolah, peserta didik tidak di perbolehkan menikah selama mengenyam pendidikan. Jadi saya minta Rose sebaiknya di keluarkan dari sekolah. Karena akan merusak reputasi sekolah itu. Saya tidak mau anak saya yang bersekolah disana juga akan terkena imbasnya." Gamal, salah satu orang tua siswa turut menyuarakan pendapatnya dalam pertemuan itu.

__ADS_1


"Betul, saya sependapat dengan pak Gamal. Apa lagi siswi bernama Rose ini menikah dengan gurunya sendiri." Wanita yang di duga sudah berusia kepala empat itu melirik sebentar kearah Reyn yang duduk tidak jauh darinya sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Maaf saja, walau pak Reyn seorang pengusaha dan banyak uangnya, tidak bisa melakukan sekehendak hatinya. Ini bisa menjadi contoh yang tidak baik bagi masyarakat kita," imbuhnya kemudian.


Reyn yang disebutkan namanya tidak menoleh sedikitpun ke arah wanita itu, ia hanya pokus melihat ke depan, memperhatikan sosok kepala dinas yang memimpin pertemuan itu dengan raut yang tetap tenang.


Jose Moyalo, sang kepala dinas pendidikan, mengedarkan pandangannya pada seluruh hadirin yang memadati ruang pertemuan itu, hingga akhirnya ia bersirobok pandang dengan Reyn yang juga sedang memandangi dirinya.


"Pak Reyn Hamdani, apa Anda ingin menanggapi terlebih dahulu apa yang disampaikan bapak Gamal dan ibu Yeli selaku orang tua siswa SMU Tangga Arang, mewakili isi hati para orang tua siswa-siswi dimana Anda mengajar." Jose masih menatap Reyn yang sedari tadi masih menunjukan sikap tenang dan datarnya.


"Tidak pak Kadin. Saya sudah menjelaskan semuanya pada konferensi pers kemarin, mengenai alasan mengapa sampai saya bisa menikahi murid saya yang bernama Rose Margarine. Tidak ada perubahan apapun dari yang sudah saya sampaikan itu, dan saya yakin hampir semua orang juga sudah menontonnya," ucap Reyn datar.


Jose mengangguk pelan, ia kembali mengedarkan pandangannya pada seluruh hadirin dalam ruang pertemuan itu.


"Seperti kata pak Gamal tadi, sesuai dengan peraturan, peserta didik yang sudah menikah tidak bisa bersekolah di sekolah."


"Bagi peserta didik yang masih kelas X atau kelas XI, tapi sudah menikah, kami akan arahkan untuk melanjutkan belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), atau yang kita kenal belajar Paket C, agar tetap bisa menyelesaikan pendidikannya."


Reyn bergeming di tempat duduknya, menyimak tanpa berniat menyela sedikitpun, begitu pula dengan lawyer yang duduk bersebelahan dengannya.


"Kecuali, jika yang bersangkutan menikah atau hamil menjelang kelulusan. Jadi pihak sekolah asal yang bersangkutan wajib tetap meneruskannya hingga kelulusannya." Jose menatap kearah Hartanto, sang kepala sekolah yang duduk semeja dengannya.


"Dan untuk kasus pernikahan pak Reyn Hamdani dan Rose Margarine, sesuai keterangan yang bisa kita simak bersama di konferensi pers-nya pak Reyn kemarin -- boleh di tonton ulang kalau perlu-- pernikahan mereka sudah sah secara agama dan negara, tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan pernikahan negara kita yang terbaru tahun 2019, bahwa batas minimal untuk wanita adalah 19 tahun."


"Jadi, siswi yang bernama Rose Margarine masih boleh bersekolah di SMU Tangga Arang, apalagi ujian kelulusan kelas XII tinggal satu bulan lagi dan hasil kelulusannya dibulan Juni tinggal 5 bulan lagi."

__ADS_1


Mendengarnya, Reyn tersenyum senang.


BERSAMBUNG...👉


__ADS_2