
Rose membuang muka, saat Reyn menghampirinya di mobil. Masih kesal, jengkel, marah, sepertinya ada dendam juga sedikit.
"Pak Kasim ikut makan juga bersama kami ya?" tawar Reyn pada tukang kebunnya sekaligus merangkap sopir pribadi isterinya itu.
"Tidak usah pak Reyn. Terima kasih banyak," tolak pak Kasim halus sambil tersenyum dibelakang kemudi.
"Nggak basa-basi lho Pak," ucap Reyn lagi.
"Iya Pak saya tau. Nggak usah, terima kasih banyak," pak Kasim masih menolak.
"Mm--, kalau begitu pak Kasim ambil kotak makanan di kasir untuk anak isteri Bapak dirumah dan juga untuk mbok Dira yang sudah saya pesan."
"Tapi Pak--"
"Nggak baik menolak rezeky pak Kasim. Ambil saja dikasir, udah disiapkan. Setelah mengantar makanan mbok Dira pak Kasim boleh langsung pulang kerumah berkumpul dengan keluarga, nanti saya saja yang mengantar Rose pulang," Reyn melirik Rose yang masih membuang muka, tidak mau melihat kearahnya.
"Baiklah pak Reyn." walau sungkan, akhirya pak Kasim tetap turun dari mobil, masuk ke restauran untuk mengambil apa yang sudah dipesan majikannya itu untuk keluarganya dirumah dan mbok Dira. Sejujurnya ia malu karena sering menerima kebaikan Reyn selama ikut berkerja dengan laki-laki muda itu.
"Rose, ayo turun kita makan siang dulu disini," panggil Reyn.
"Nggak mau! Makan aja sendiri!" sahut Rose ketus.
Reyn terdiam sesaat, memikirkan apa yang harus ia lakukan mengatasi ngambekan sang isteri kecilnya ini. Dia memang belum berpengalaman untuk membujuk seorang gadis.
"Mau jalan sendiri masuk restauran atau Mas gendong? Heum?" Seketika gadis itu menoleh, dan Reyn sudah ada disampingnya untuk melakukan apa yang baru ia katakan.
"Mas Reyn jahat!" Rose memukul sekuat tenaga dada.bidang Reyn, meluapkan rasa kesalnya yang sudah menggunung mulai dari sekolah tadi. Laki-laki itu bergeming, membiarkan Rose melakukannya sampai puas.
"Mas Reyn tega marahin Rose didepan teman-teman!"
"Mas Reyn tega suruhin Rose bersihin toilet jorok! Bau pesing! Kotor banyak kumannya! Mas Reyn jahat! Mas Reyn tega!" marahnya sambil terus memukul-mukul tanpa henti.
"Rose capek mukul! Rose mau jewer telinga!" pekiknya masih kesal dengan nafas tersengal. Reyn mengubah posisi kepalanya sedikit miring, mendekatkan telinganya pada Rose. Tanpa sungkan, gadis itu memutar daun telinga sang gurunya hingga memerah. Reyn sedikit meringis, tapi berusaha menahanya, ya beginilah resikonya punya isteri manja dan mudah ngambekan, batinnya.
"Sudah puas?" tanya Reyn begitu merasakan tangan Rose tidak memelintir telinganya lagi.
__ADS_1
"Belum!" ucap Rose masih ketus.
"Katakan saja, yang mana lagi. Tetap Mas berikan sebagai permintaan maaf padamu." ucapnya lembut.
Rose menatap suaminya, ia memang masih marah dan kesal, tapi melihat sikap Reyn yang menerima semua perlakuan buruknya membuat ia malu sendiri.
"Maaf..." bibir Rose mengerucut, dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Loh, kenapa minta maaf? Kan mas Reyn yang salah udah memarahi dan menghukummu di sekolah." menatap wajah lucu Rose dengan hidung dan matanya yang memerah.
"Rose udah buat malu mas Reyn, nggak serius ikut mata pelajaran Biologi, Terus lupa tempat saat manggil Mas bukannya Pak." ucapnya hampir menangis.
"Sudahlah, nggak pa-pa. Yang penting Rose udah tau alasannya kenapa Mas lakuin itu tadi di sekolah. Kedepannya kita sama-sama berusaha lebih baik lagi," Reyn mengusap lembut pucuk rambut isteri kecilnya itu.
"Yuk, makan dulu. Mas lapar. Itu pak Kasim.juga sudah kembali." Rose gegas meraih tas sekolahnya, lalu segera turun menyusul Reyn.
"Pak Reyn terima kasih banyak ya," pak Kasim menunjukan tentengan kotak makanan yang ia bawa ditangan kanan dan kirinya.
"Sama-sama pak Kasim. Hati-hati dijalan," ucap Reyn dengan senyum tipisnya.
"Tolong bawakan yang sudah saya pesan tadi," ucap Reyn pada seorang pelayan.
"Baik Pak." pelayan wanita itu bergegas, dan tidak lama ia kembali lagi bersama dua orang pelayan lainnya membawakan pesanan makanan.
Reyn memperhatikan Rose yang sedari tadi melamun menatap makanan yang tengah disajikan para pelayan dengan raut tidak bersemangat.
"Kau tidak suka makananya? Kita bisa memesan lagi sesuai seleramu," ucap Reyn menatap lekat wajah Rose yang masih melamun.
"Ah--, bukan tidak suka Mas. Aku hanya--, hanya jijik," Rose berkata pelan diujung kalimatnya dengan wajah meringis, takut didengar orang lain.
"Hah, jijik?" Reyn memandangi satu persatu makanan yang sudah tersaji didepan mereka, ia mengernyitkan keningnya merasa tidak ada yang salah, apalagi menjijikan seperti kata Rose.
"Semua makanan bersih kok, dan terlihat menggugah selera," ucap Reyn kembali memandang pada Rose.
"Bukan terletak pada makananya Mas, tapi di otakku," Rose menunjuk kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Maksudnya?" Reyn kembali bingung.
"Ingatan onggokan kotoran BAB menjijikan dalam closet di toilet tadi masih melayang-melayang dalam kepalaku Mas, ada sayur hijaunya seperti campuran tumisan sayur itu." tunjuk Rose pada sajian tumisan brokoli.
Seketika Reyn ikut mual mendengar perkataan Rose barusan.
"Jorok sekali! Siapa sih siswi yang nggak menyiram kotorannya setelah BAB," gerutu Reyn. Pantas saja Rose sampai seperti itu dirinya saja yang hanya mendengar ikut tidak berselera.
"Tapi sudahlah, kita harus makan sekarang. Memang tidak baik mengobrol kalau sedang makan, begini akibatnya," Reyn menyendok beberapa menu makanan dan memasukannya dalam piring ditangannya.
"Aku tidak mau makan," Rose menatap piring makanan yang diletakan tepat didepannya.
"Rose kau bisa sakit kalau tidak mau makan."
"Iya, tapi aku masih jijik bila teringat itu." keluh Rose lagi.
Reyn mendesah, "Apa kau tahu salah satu tugas seorang isteri adalah mengandung?" ia lalu mengambil alih piring dihadapan Rose. "Aku akan menyuapimu. Aku yang bertanggung jawab atas selera makanmu yang hilang siang ini."
Rose menelan salivanya, mungkinkah secepat ini Reyn menuntut anak darinya? Oh, tidak. Bagaimana ini? gadis itu terlihat gugup.
"Kita tidak akan punya anak secepat apa yang kau fikirkan itu," Reyn menatap Rose yang mulai bersikap tegang.
"Bagaimana dia bisa tahu aku mikirnya gitu?" gumam Rose panik.
"Ng-nggal kok, Rose mikirnya nggak gitu?" sangkalnya gugup.
"Ini daging ikan salmon, sangat baik dimakan wanita yang mempersiapkan dirinya untuk mengandung. Ayo, buka mulutnya?" perintah Reyn sembari mendekatkan sendok ke bibir Rose. Gadis itu menurut, lalu menerima suapan Reyn dan mulai mengunyahnya.
"Enak?" tanya Reyn menatap wajah Rose. Gadis itu hanya mengangguk karena mulutnya penuh. Cita rasa bumbu daging ikan itu juga sangat lezat di lidahnya.
"Ini tumis tauge dan jagung muda, juga sangat baik untuk kesuburan." jelas Reyn lebih lanjut. "Ini wajib dimakan oleh sepasang suami isteri yang ingin memiliki keturunan. Dan mengkonsumsinya juga harus sesering mungkin." Reyn kembali mendekatkan sendok ke bib*r Rose, dan gadis itu kembali menerima suapan dan mengunyahnya. Begitulah Reyn terus melakukannya hingga makanan dalam piring itu habis.
Reyn tersenyum didalam hati, ternyata obrolan tentang persiapan kehamilan itu membuat Rose lumayan tegang hingga melupakan sejenak akan ingatannya tentang toilet yang menjijikan itu.
Bersambung...👉
__ADS_1