My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
36. KENA BATUNYA


__ADS_3

"Mas Reyn mana Mbok?" Rose mendudukan bokongnya dikursi meja makan, dia fikir Reyn sudah menunggunya dimeja makan karena sudah tidak ada dikamar.


"Udah berangkat duluan Non, baru saja," jawab wanita berumur itu.


Rose terdiam sejenak, melirik sekilas arloji tangannya yang baru menunjukan pukul 6.30. Ia memang bangun kesiangan, karena semalam mengerjakan dua PR mata pelajaran sekaligus hingga larut malam sambil menunggu Reyn pulang dari berkerja.


"Nggak biasanya Mbok? Mas Reyn sempat sarapan nggak?" tanya Rose lagi.


"Tadi Mbok buatkan bekal, katanya pak Reyn sarapan di sekolah saja Non, karena pagi ini giliran guru-guru yang bertugas menjadi instruktur senam pagi." terang mbok Dira sambil menata sarapan diatas meja.


Rose kembali terdiam sejenak. Isteri macam apa dirinya, sudah bangun kesiangan, tidak sempat menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya, juga tidak menyediakan sarapan. Padahal suaminya itu sudah banting tulang, kerja mulai pagi hingga pulang larut malam.


"Mbok, kita sarapan sama-sama ya?" ajaknya. Berusaha membuang rasa bersalahnya karena merasa dirinya bukan isteri yang baik.


"Tapi Non--" mbok Dira berusaha menolak.


"Udah nggak pa-pa Mbok. Ajak pak Kasim sekalian. Rose kesepian sarapan sendirian, nggak ada mas Reyn." ucapnya memberi alasan.


"Baik Nona." sahut wanita itu setelah berfikir sejenak. Ia gegas menuju pintu memanggil pak Kasim yang tengah memanaskan mobil didepan garasi.


Tidak lama berselang ketiganya sudah menikmati sarapan bersama. Ini kali pertama kedua pekerja kepercayaan Reyn yang mengurus rumahnya itu makan semeja dengan sang isteri majikan mereka.


"Pak Kasim, mbok Dira--" Rose menjedah sejenak ucapannya, dirinya memang ragu menyampaikan apa yang ada didalam hatinya, tapi tetap harus ia ungkapkan, tekadnya.


Baik pak Kasim maupun mbok Dira, keduanya langsung memandang kearah Rose, namun tetap menanti dengan sabar apa yang ingin diutarakan sang Nona majikan. Keduanya baru saja menyelesaikan sarapan pagi mereka.


"Tinggal beberapa hari lagi, bulan ini akan berakhir, dan itu waktunya pak Kasim dan mbok Dira akan menerima gaji atas pekerjaan yang telah dilakukan selama satu bulan ini." Rose menatap kedua orang didepannya itu yang memberi perhatian penuh saat mendengar perkataannya.

__ADS_1


"Bolehkah saya memberi DP gaji saja dulu? Nanti akan saya lunasi bila mas Reyn memberi saya uang?" ucap Rose menatap ragu pada dua kepercayaan suaminya itu.


Pak Kasim dan mbok Dira saling berpandangan sesaat. Ada perasaan ragu juga disorot mata keduanya, takut salah bicara. Pak Kasim menyenggol mata kaki mbok Dira dibawah meja, memberi isyarat bila wanita itu saja yang berbicara.


Mengerti maksud rekan kerjanya, wanita itu akhirnya angkat bicara setelah mencoba merangkai beberapa kata yang ia anggap aman.


"Non Rose nggak perlu membayar DP kami, untuk gaji kami sudah dibayar pak Reyn diawal bulan. Dan setiap tanggal 1 otomatis sudah masuk ke rekening kami. Iya kan pak Kasim?" ujar mbok Dira membuka suara.


"Iya non Rose, mbok Dira benar. Selama ini begitu kok," sambut pak Kasim membenarkan.


Rose kembali termangu, ia masih tidak mengerti bagaimana cara Reyn bisa membayar gaji pak Kasim dan mbok Dira sedangkan gaji suaminya itu diserahkan seutuhnya padanya, itu diketahuinya saat melihat slip gaji guru yang ada didalam amplop pemberian Reyn waktu itu.


Apa mungkin Reyn masih meminta bantuan pada kedua orang tuanya yang kaya itu? Batinya masih memikirkannya.


Diawal dirinya masuk kerumah itu, Reyn memang pernah mengatakan bila tugas utamanya hanyalah belajar supaya bisa lulus dengan nilai yang baik nantinya. Untuk urusan lainnya, Reyn mengatakan biar itu menjadi urusannya.


"Ee--, ah iya pak. Ayo," Rose buru-buru menghabiskan susunya yang sisa setengah dengan dua kali tegukan. "Mbok, Rose berangkat," Rose menyambar tasnya lalu berlari-lari kecil meninggalkan meja makan.


...🍓🍓🍓...


Sejak awal dimulainya senam pagi Rose sudah memasang wajah cemberutnya, tentu.saja itu mengundang tanya pada Rina, Norsa, dan Rendy yang melihatnya.


Norsa, gadis yang banyak tahu tentang sepupunya itu sudah bisa menebak apa yang membuat Rose bersikap demikian. Reyn! Guru biologi yang bertugas menjadi instruktur senam di kelas X A-2, itu diketahuinya karena kerap kali menangkap basah wajah Rose berpaling kearah sana.


"Rose! Instruktur kita pak Ruben didepan 'ntu bukan diujung merauke sono!" tegur Norsa menyindir.


"Apaan sih Sa, ganggu tau!" ucap Rose dongkol. Tubuhnya tetap mengikuti semua gerakan pendinginan senam sesuai irama musik yang sudah akan berakhir.

__ADS_1


"Liat tuh roh jahat, dari tadi ngelirik-ngelirik ke kita. Pokoknya aku nggak mau ya Rose dihukum lagi gara-gara kau melamun seperti waktu itu. Tobat dah bersihin toilet ada kotoran sayur ijo, huek!" ucap Norsa merasa jijik dengan sedikit berisik, membuat beberapa teman-teman sekelasnya terkikik.


"Rose! Norsa! Apa yang kalian perbincangkan, hah?!" suara pak Ruben terdengar menggelegar.


"Tuh 'kan apa kubilang,"" Norsa bergumam dengan wajah cemas melirik dengan ekor matanya kearah Rose yang pura-pura tidak tahu.


Diujung Merauke sana, Reyn yang baru saja membubarkan anggota senamnya, kelas X A-2, hanya melihat sekilas pada pak Ruben yang sedang menceramahi anggota senamnya, setelah itu ia pergi tanpa menoleh kearah Rose, gadis itu merasakan udara sekitarnya semakin hampa.


"Pokoknya aku nggak mau tau ya Rose! Kau harus mentraktirku dua porsi ganda makan siang hari ini!" kesal Norsa, lagi-lagi dirinya terdampak hukuman gara-gara sepupunya itu.


"Sudah! Ayo cepat bersihkan daun-daun kering itu! Atau Bapak tambah lagi untuk membersihkan toilet!" ancam pak Ruben.


"J-jangan Pak!" Rose dan Norsa panik, keduanya buru-buru memungut daun-daun kering dibawah pohon rindang, tempat lokasi group kelas mereka yang melaksanakan senam pagi itu.


"Hei!! Kalian yang lain cepat BU-BAR!! Jangan sampai roh-roh jahat penunggu pohon itu merasuki kalian juga! Cukup dua siswi nakal itu saja!" pekik pak Ruben dengan suara lantangnya.


Para siswa-siswa itu gegas bubar dan berlarian meninggalkan tempat itu, tidak ingin mendapat hukuman yang sama, senam yang mereka laksanakan pagi itu saja sudah membuat tenaga mereka terkuras dengan keringat yang membuat tubuh gerah.


"Sabar! Sabar!" Rose mengusap dadanya. Sementara Norsa ngedumel tidak jelas sendiri.


"Hei teman-teman, kalian lihat itu." Rendy berucap pada rombongan kelasnya, menujuk kearah pak Ruben yang menyelinap dibalik pohon rindang didekat Rose dan Norsa. "Sesungguhnya, itulah wujud asli roh jahat yang menjadi penunggu pohon rindang itu, HAHAHA!!! gelaknya seorang diri.


"Rendy!"


Rendy yang masih terbahak berbalik. "Eh, pak Reyn." Rendy seketika menghentikan tawanya, terlihat sekali dirinya gugup dan salah tingkah, sementara teman-temannya kini mulai terbahak mentertawakannya.


"Kena batunya," celetuk Jarno menimpali sambil terus tertawa puas.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2