My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
TERBANGUN (Visual Reyn)


__ADS_3

Rose uring-uringan, telepon dan pesan-pesannya tidak direspon oleh Reyn.


"Tadi mas Reyn tidak marah-marahkan Pak saat menyuruh pak Kasim menunggu didalam area sekolah?" tanya Rose, mungkin saja suaminya itu sengaja pulang larut malam karena marah melihatnya bersama dengan Steven siang tadi.


"Tidak Non," sahut pak Kasim yang ditemui Rose diteras rumah.


"Non tunggu saja didalam, sebentar lagi pak Reyn pulang, angin malam tidak baik untuk kesehatan, takut Non sakit," nasihat pak Kasim pada sang Nona majikannya.


"Bagaimana kalau saya buatkan cokelat panas kesukaan Non? Mau ya Non?" bujuk mbok Dira ikut bersuara, berusaha membantu menenangkan suasana hati isteri majikannya itu yang sebentar-sebentar gelisah melihat kearah pagar.


"Iya, aku mau Mbok." Rose mengangguk lemah. "Buatkan untuk Mbok dan pak Kasim juga ya," sambungnya.


"Baik Non," walau keduanya tidak terlalu menyukai minuman cokelat panas.dimalam hari, demi Rose yang bad mood malam itu, keduanya terpaksa mengimbanginya saja.


"Kita masuk sekarang ya Non, diluar sangat dingin, anginnya sangat kencang, sepertinya sebentar lagi bakal turun hujan Non," pak Kasim menatap langit yang nampak gelap tertutup awan tebal.


Rose mengangguk lalu beranjak masuk.


"Apa mas Reyn sering pulang malam seperti ini?" tanya Rose saat melintasi ruang tamu menuju ruang keluarga.


"Tidak juga Non, kadang-kadang saja. Paling lambat pulang pukul 11 malam Non, itu kalau pekerjaannya banyak." sahut pak Kasim mengekor dari belakang, karena Rose sebelumnya sudah mewanti-wanti pak Kasim dan mbok Dira jangan berada jauh darinya bila di malam hari, terlebih bila terdengar suara guntur yang menggelegar seperti malam ini.


"Di minum Non," mbok Dira menawarkan minuman dan beberapa camilan yang ia bawa dari dapur lalu menyajikannya diatas meja.


"Iya Mbok, ma kasih ya." ucap Rose dengan senyumnya yang mengembang manis.


"Sama-sama Non," balas mbok Dira turut mengulas senyumnya.


Rose meraih cangkir cokelat panasnya, menyesapnya perlahan lalu meletakannya kembali di atas meja, mencomot beberapa camilan kue cokelat kesukaannya juga setoples amplang, setelah dirasa puas ia berbaring selonjoran diatas sofa lebar serupa kasur mini untuk menonton sambil tiduran. Sementara pak Kasim dan mbok Dira-pun melakukan hal yang sama, disofa lainnya.


"Kasihan mas Reyn kehujanan ya Mbok?" Rose bersuara ditengah keasikan mereka menonton televisi, ketika didengarnya suara air hujan begitu deras disertai suara kilat bersahut-sahutan diluar sana.


"Pak Reyn mungkin berteduh dulu sampai hujan reda, Non. Saya antar kekamar ya Non, nanti Non ketiduran disini, suhunya sudah terasa semakin dingin," ucap mbok Dira setelah melihat mata sayu dan lelah Nona majikannya itu.

__ADS_1


"Rose disini saja, takut sendiri dikamar, hujan deresnya menakutkan Mbok. Nanti kalau mas Reyn-nya pulang bangunin ya Mbok?"


"Iya, terserah Non saja," mbok Dira dan pak Kasim saling berpandangan sesaat. Ternyata selain manja, isteri kecil majikan mereka juga penakut, batin keduanya dalam diam.


"Mbok, saya tinggal dulu ya, mau memeriksa.keamanan rumah dulu, takut ada yang lupa terkunci." pamit pak Kasim, laki-laki paruh baya itu beranjak dari sofanya dan mulai memeriksa keadaan rumah sang majikannya.


Rumah mewah itu memang dilengkapi oleh kunci digital, namun ada dua pintu yang dipasang kunci manual khusus buat mbok Dira dan pak Kasim, agar keduanya juga boleh mudah masuk dengan anak kunci yang masing-masing keduanya pegang.


"Rose sudah tidur?" tanya Reyn yang tiba-tiba muncul dibelakang mbok Dira yang tentu saja dibuat terkejut olehnya.


"Eh, I-iya Pak," sahut wanita paruh baya itu yang sedang duduk disebelah Rose yang sudah terlelap.


"Tadi saya sudah mengajaknya tidur dikamar Pak, tapi Non Rose maunya tiduran disini saja sambil menunggu pak Reyn. Tadi Non Rose minta dibangunkan kalau pak Reyn sudah pulang."


"Tidak usah Mbok, kasian kalau dibangunkan, nanti saya saja yang menggendongnya kekamar. Tolong bawakan tas saya saja keatas." Reyn menyerahkan tasnya pada mbok Dira.


Sepeninggal mbok Dira, Reyn memperhatikan wajah cantik Rose yang tengah terlelap untuk beberapa saat lamanya. Laki-laki itu menyunggingkan senyum tatkala mengingat Rose yang sering mencuri pandang padanya di upacara apel bendera pagi tadi, hingga gadis itu gelagapan ketika ayunan tangannya tidak seirama dengan lagu yang dinyanyikan.


Keberadaan Steven, pemuda yang telah menjadi alumni sekolah dimana dirinya mengajar, dan juga pernah menjadi--, bahkan sekarang masih berstatus pacar Rose cukup mengganggu fikirannya hari ini, hingga ia tidak bisa pokus berkerja.


Dirinya melihat sendiri bagaimana pemuda itu masih gencar mendekati Rose yang sudah menjadi isterinya. Hingga kini ia masih belum tahu caranya agar membuat keduanya bisa saling menjauh, dan yang paling penting adalah memutuskan hubungan keduanya.


"Hufh! Ternyata dia berat juga," Reyn mengangkat tubuh Rose masuk dalam gendongannya.


Perlahan ia membawa tubuh Rose menaiki tangga menuju kamar. Walau hari ini ia cukup lelah dengan pekerjaannya yang menumpuk, untuk menggendong Rose ia masih punya cukup tenaga.


"Tas pak Reyn saya letakan disisi pintu masuk kamar," ucap mbok Dira yang kebetulan berpapasan didekat tangga lantai atas dan hendak kembali turun ke lantai bawah.


"Iya, terima kasih Mbok. Setelah ini Mbok tidur saja, besok saja dilanjut pekerjaannya."


"Iya Pak," mbok Dira gegas berlalu, tidak ingin mengganggu kesenangan kedua majikannya.


Setelah sempat lama berada didepan pintu untuk menekan beberapa digit kode, Reyn akhirnya berhasil masuk kekamar dan meletakan tubuh Rose diatas pembaringan mereka.

__ADS_1


Nafas Reyn terdengar sedikit memburu dan tangannya juga terasa kebas. "Tubuh kecil ini ternyata berat juga dibawa menaiki tangga," gumam Reyn lagi sambil mengatur nafasnya.


"Jangan pergi," gumam Rose menarik ujung kemeja Reyn yang ingin beranjak ke kamar mandi.


"Kau bangun?" Reyn melirik kearah mata Rose yang terbuka lebar. "Kalau tahu begini, aku akan menyuruhmu berjalan sendiri sampai naik kemari," gerutunya yang merasa perjuangannya sia-sia.


"Jangan kejam padaku, aku tidak sengaja terbangun setelah mendengar suara menggelegar tadi," ucap Rose dengan suara khas baru bangun tidurnya, saat guntur diatas sana kembali terdengar.


"Aku suka hujan karena udara akan terasa sejuk, tapj aku nggak suka suara petir dan guntur yang menakutiku," gumamnya terdengar manja.


Reyn terdiam, dibalik sikapnya yang dibuat dingin, ia memang sangat mudah luluh dan merasa kasihan, apalagi yang berbicara begitu adalah isterinya, perempuan muda yang memang ia ketahui manja, penakut, dan banyak tidak bisanya, itu semua sudah dibicarakan kedua orang tua Rose padanya sebelum ia menikahi gadis itu.


"Katakan padaku, apa yang kau inginkan," Reyn kembali duduk dipembaringan.


"Berbaring disini, jangan jauh-jauh." pinta Rose menepuk sisi kosong tempat tidur disebelahnya.


"Aku belum mandi sepulang kerja tadi, apa kau sanggup mencium aroma tubuhku? Nanti kau muntah-muntah lagi," Reyn menatap wajah Rose yang juga tengah memandangnya.


Rose terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu, "Nggak pa-pa Mas, aku sanggup, dari pada Mas kekamar mandi dan suara guntur itu akan menggelegar lagi kalau aku sendiri," ucapnya kemudian.


Mereka tidak berucap lagi satu sama lain. Reyn membaringkan tubuhnya disebelah Rose dan merapat seperti permintaan isterinya itu.


Tidak menunggu lama, hanya beberapa menit saja berlalu, Rose sepertinya sudah terlelap lagi, Reyn bisa mengetahuinya dari suara dengkuran halus dan teratur gadis itu.


"Mudah sekali dia tertidur," gumam Reyn memperhatikan wajah teduh Rose saat tertidur pulas seperti itu disebelahnya.


""Oh Tuhan! Dalam tidurnya saja ia masih bisa menggodaku," pekik Reyn didalam hati, saat matanya tidak sengaja melihat puncak-puncak da*a isterinya yang berirama naik-turun.


Dan disana, iya dibawah sana ada yang terbangun, disaat Rose begitu pulasnya tertidur. Membuat sang tuannya mendadak sakit kepala dibuatnya.



Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2