My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
53. PESAN REYN


__ADS_3

"Memangnya pak Reyn habis manggul beras lagi?" goda mbok Dira dengan logat khas kalimantannya, wanita berumur itu terkekeh sambil meletakan segelas jamu ke atas meja, tepat dihadapan Reyn. Ia melirik pak Kasim yang turut tersenyum lebar mendengar ujarannya.


Reyn ikut terkekeh bersama dua asisten rumah tangganya yang setia dan sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Dengan santai ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu dibelakangnya, menatap air mancur sambil memeluk pinkie pie milik Rose yang sengaja ia bawa.


"Nggak Mbok, aku lagi nggak bisa tidur aja," sahut Reyn beralih pada segelas jamu dihadapannya yang terlihat butek, kuning kecokelatan.


"Bila suatu hari nanti--, terjadi sesuatu padaku, tetaplah disisi Rose dan menghiburnya, dan jangan izinkan dia kemana-mana ya Mbok? Pak Kasim?" gumam Reyn masih memandang isi gelas jamunya yang berwarna keruh, se-keruh hatinya saat ini.


Keduanya mengangguk pelan, mengerti maksud majikannya. Tentu saja ada rasa khawatir, namun sebagai orang tua dan bawahan, mereka hanya mendoakan yang terbaik. Segala sesuatu yang dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar, semuanya tetap bisa terselesaikan dengan baik diujungnya, memang butuh proses menuju ke arah sana. Begitu yang pernah majikannya itu katakan saat mereka bertiga terlibat obrolan beberapa hari yang lalu.


"Mas Reyn ada disini?" Rose muncul.dengan wajah khas bangun tidurnya, rambutnya sedikit berantakan mendekati ketiga orang yang telah menyadari kehadirannya dari jauh. Ia memutuskan keluar kamar, karena tidak biasanya suaminya itu tidak ada disampingnya selarut itu.


"Iya, mau minum jamu dulu. Kau mau?" ucap Reyn menawarkan.


Gadis itu mendekatkan wajahnya pada segelas jamu diatas meja," huek!" seketika ia merasa mual, saat bau anyir telur ayam kampung menguar dari dalam sana dan menyerang indera penciumannya.


Reyn terkekeh, begitu pula dengan mbok Dira dan pak Kasim.


Glek. Glek. Glek.


Rose menatap tegang pada jakun dan tenggorokan Reyn yang bergerak-gerak naik turun. Dalam hitungan detik, segelas jamu itu sudah berpindah tempat ke dalam perut suaminya itu.


"E-enak?" tanya Rose penasaran, menatap Reyn sambil meringis, membayangkan rasa nano-nano segelas jamu yang membuatnya bergidik jijik. Ia pernah meminumnya dulu, rasa anyir telur membuatnya memuntahkan semua isi perutnya selain jamu yang ia minum.


"Nggak," sahut Reyn jujur, ia meletakan gelas kosong kembali ke atas meja.


"Kok di minum kalo nggak enak?"


"Untuk kesehatan. Buruh panggul harus rajin minum jamu, biar besoknya masih kuat manggul lagi," ujar Reyn disambut senyum tertahan dua asisten rumah tangganya.


Bagaimana tidak, sang majikannya yang kala itu berakting di depan Rose siang harinya, merengek minta dipijat dua asisten rumah tangganya itu semalaman suntuk setelah meminum jamu pegel linunya.

__ADS_1


"Kebangun?" Reyn menatap wajah Rose yang masih meringis menatap wajahnya.


"I-iya." sahut Rose sembari menetralkan raut wajahnya.


"Ke sini nyari'in ini?" Reyn menunjuk boneka pinkie pie yang ada dalam pelukannya. Ia melonggarkanya, berniat memberikannya pada Rose, karena gadis itu selalu menjadikan bonekannya itu sebagai pengganti gulingnya saat tidur.


Rose buru-buru menggeleng. "Nggak. Rose cari'in yang bawa pinkie pie," sahutnya seraya mengulas senyum. Reyn terpukau, hatinya kembali menghangat, saat murid yang berstatus isterinya mengatakan itu padanya.


"Mbok Dira, pak Kasim. Rose izin ajak mas Reyn tidur ya, udah larut malam nih," Rose serta-merta menarik pergelangan tangan Reyn yang masih terpukau duduk dikursi kayunya.


"Iya Non," sahut keduanya bersamaan lalu tersenyum-senyum satu sama lain.


"Itu mulut, kalau udah dikamar harus dicuci ya Mas guru, bau anyir." ucap Rose menoel bibir Reyn yang mengatup sambil berjalan menaiki anak-anak tangga bersama suaminya itu.


"Sudah berani toal-toel?" suara Reyn tiba-tiba menggeram.


"Berani," sahut Rose terus melangkah naik di depan Reyn.


Reyn tidak menjawab, ia dengan santainya memanggul tubuh Rose di pundaknya bagai membawa sekarung beras.


...🍓🍓🍓...


"Steven! Kamu nggak sarapan Sayang?" Pemuda itu tidak menjawab, ia pergi begitu saja dari meja makan saat melihat ibunya.


"Ada apa dengan Steven Pi?" Mutiara memandang suaminya yang masih mengunyah sarapan paginya.


"Yang kenapa itu Mami, bukan Steven." Farid menatap datar pada isterinya.


"Loh, kok Mami sih? Papi ngeliat kan anak kita ngeloyor pergi gitu aja tanpa sarapan terlebih dahulu. Ini kan masih sangat pagi, baru pukul 6.30, dia nggak mungkin terlambat ke kampus." ucapnya dengan nada sedikit mengomel.


"Kenapa Mami nggak dengerin Papi? Apa maksud Mami ngelamar Rose bersama Steven pada kedua orang tuanya tanpa memberi tahu Papi?" berondong Farid, tak menggubris ucapan isterinya sebelumnya. Laki-laki itu masih berusaha tenang dengan tatapan menelisik.

__ADS_1


Mutiara yang sempat mengomel seketika menegang, ia buru-buru meminum jus buahnya sambil mencari jawaban yang tepat.


"Tolong, Mami jangan kelewatan." Tatapan Farid mulai menajam.


"Papi sabar ya. Mami bisa jelasin duduk persoalannya." Mutiara merasa takut, ia berusaha terlihat tenang, walau jantung dalam dadanya mulai berpacu, menghadapi suaminya yang sepertinya sedang marah padanya.


"Jelas-jelas Mami sudah menolak anak itu, mengatakan ini dan itu pada ibunya supaya gadis itu menjauhi Steven. Lalu dengan mulut yang sama Mami datang kerumah mereka, melamar anak itu seolah Mami masih punya hubungan yang baik dengan mereka. Kenapa Mami punya kepribadian ganda?" lanjut Farid menggelegar.


Mutiara meringis, suara lantang suaminya menggema memenuhi ruang makan. Ia melihat beberapa asisten rumah tangganya yang akan masuk kesana membawa beberapa menu tambahan untuk sarapan gegas berbalik.


"Mami kesana kan hanya ingin silahturahmi Pi, bukan melamar. Kalau melamar jelas Mami ajak Papi-lah," kilah wanita itu masih dengan jantungnya yang berdegup tidak karuan.


"Papi bukan Steven Mi, yang mudah percaya pada mulut manis Mami. Perbuatan Mami membuat Papi sangat malu. Bagaimana bisa Mami datang melamar gadis itu? Papi benar-benar tidak habis fikir!" Farid mendengus, ia membuang nafas dengan kasar, sepagi itu ia sudah dibuat marah mendengar curhatan Steven putranya.


"Haduh! Pasti Steven cerita sama Papinya ini. Anak itu bener-bener ya. Padahal udah diperingatkan," Mutiara kembali meringis. Farid memang tegas, tapi suaminya itu jarang memarahinya selama mereka berumah tangga.


"Mi, apa untungnya Mami melakukan itu? Yang tersakiti sebenarnya Steven, anak kita. Bukan gadis itu ataupun keluarganya." tandas Farid sambil menghela nafas.


"Mami tahu? Sampai hari ini, Steven masih belum bisa move on dari Rose. Harusnya Mami jujur dari awal kalau tidak setuju, jangan membohongi anak sendiri."


"Satu lagi. Ternyata mereka menyimpan rekaman obrolan Mami dengan ibunnya Rose." Farid terlihat menahan emosinya ketika berkata demikian.


"Papi mohon, jangan berulah lagi ya Mi. Mami bisa membahayakan diri Mami sendiri."


"Papi berangkat." Farid berdiri, ia meraih tas kerjanya dan gegas berlalu.


"Mami antar Pi," Mutiara ikut berdiri dan berusaha mengejar.


"Tidak perlu! Renungkan kesalahan Mami," ucap Farid tanpa menoleh. Para asisten rumah tangga buru-buru membungkuk, memberi penghormatan pada Farid yang melintas dihadapan mereka.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2