
Sang pemilik warung terpana, saat Steven melajukan motor maticnya dengan sangat kencang meninggalkan warungnya.
"Kenapa si Mas guanteng itu? Moga-moga aja baju si Mas guanteng dan pacar cantiknya itu nggak sampai sobek-sobek kaya si Komeng yang mau ngalahin si pembalap Valentino Rossi?" Doanya tulus saat sudah tidak melihat keduannya yang sudah menghilang dilengkungan horizontal yang cukup tajam diujung jalan.
"Kak! Rina takut!" pekik gadis itu bergidik ngeri, hampir saja mereka larut menuju jurang di sebelah kiri bahu jalan saat melintasi tikungan tajam bila saja Steven tidak cekatan membanting stir motornya.
Sayangnya, Steven tidak mendengarkan pekikan Rina dibelakangnya, ia terlalu larut dalam perasaan galaunya, memikirkan bila isteri dari pengusaha yang bernama Reyn Hamdani itu adalah benar kekasih yang sudah dua kali mengutarakan keinginannya untuk putus darinya.
"Rose apa itu dirimu? Walau si ibu itu lupa nama isteri si Reyn sialan itu! Kenapa aku merasa itu kau, Rose?" Steven memukul stang motornya berkali-kali, dengan perasaan kesal ia mulai menambah kecepatan kendaraannya.
Dibelakang, Rina semakin ketakutan, sudah tidak berani berteriak lagi. Ia hanya bisa pasrah, dan semakin memeluk erat tubuh pemuda yang sangat ia cintai itu. Semoga saja mereka tetap selamat sampai tujuan, batinnya. Jujur, ia belum mau mati sebelum keinginannya tercapai.
...๐๐๐...
Di sekolah, SMU Negeri Tangga Arang.
Tok! Tok! Tok!
Hartanto, sang kepala sekolah mendongakkan kepalanya kearah pintu yang tengah terbuka. Ia tersenyum ramah ketika melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Hei, pak Reyn. Masuklah," serunya dengan wajah sumringah dari belakang meja kerjanya.
"Terima kasih Pak kepala sekolah," Reyn balas tersenyum. Ia memasuki kantor kepala sekolah lalu duduk pada kursi yang ditunjuk oleh sang empunya ruangan.
"Apa kehadiran saya tidak mengganggu pekerjaan Bapak?" Reyn memandang kepala sekolah yang bangkit dari belakang mejanya lalu melangkah menuju kearahnya.
"Tentu saja tidak pak Reyn. Lagi pula sudah waktunya kita pulang bukan?" pria berumur itu mengambil 2 botol minuman dingin dari lemari pendinginnya lalu memberikan sebotol pada Reyn.
"Minumlah." imbuh Hartanto bersikap santai dan โmendudukan bokongnya pada kursi tepat dihadapan Reyn sambil melirik jam dinding di ruangannya yang sudah menujukan pukul 14.40.
"Terima.kasih," Reyn membuka penutup botol lalu meneguk minuman itu beberapa teguk hanya untuk membasahi tenggorokannya lalu meletakannya kembali diatas meja.
__ADS_1
"Katakan, pak Reyn ada keperluan apa?" tanya Hartanto sambil memegang botol minuman di tangannya.
"Permohonan pengunduran diri saya beberapa bulan yang lalu, kapan bisa dikabulkan Pak?" Reyn menatap atasannya itu.
Hening sejenak. Hartanto meletakan botol minuman ditangannya dengan hati-hati di atas meja, sehati-hati dirinya yang akan mengeluarkan kata-kata untuk menjawab rekan gurunya itu.
"Aku mohon Reyn, tetaplah bertahan disini. Sekolah masih membutuhkanmu." ucapnya pelan, dengan gaya bahasa yang menghilangkan jarak antara atasan dan bawahan.
"Kasihan para siswa-siswi itu. Tidak mudah mendapatkan guru pengganti. Dua guru Biologi yang ada saja sudah kewalahan waktu untuk mengajar kelas X dan XI yang terdiri dari 10 kelas itu."
"Dan bila kau resign, siapa yang bisa menggantikanmu dikelas XII nanti? Tunggulah sampai tahun ajaran baru tahun depan, mungkin pihak dinas sudah bisa memberikan guru baru menggantikanmu." bujuknya dengan suara pelan.
Hening kembali tercipta.
"Pak Ruben--, dia sudah terang-terangan menunjukan kecurigaannya tentang apa yang telah kita rahasiakan. Aku--, tidak ingin Paman menemui kesulitan dalam tugas mulia sebagai pendidik anak-anak bangsa." Reyn mengemukan alasannya.
"Ini terlalu besar dampaknya Paman, terutama untuk nama baik sekolah ini."
"Sebagai sahabat ayahmu, aku sangat senang saat kau berusia 6 tahun, dengan semangat mengatakan cita-citamu ingin menjadi guru. Mulai saat itu aku berdo'a supaya cita-cita muliamu itu suatu hari nanti tercapai."
Hartanto mengulas senyum mengenang masa-masa itu, saat mendiang ayah Reyn sering bertandang kerumahnya dengan membawa Reyn kecil yang selalu melontarkan banyak pertanyaan kala melihat dirinya membaca beberapa buku setiap kali datang kerumahnya.
"Dan saat masa itu tiba, 4 tahun yang lalu, kau datang kemari untuk mengajukan diri menjadi salah satu guru pengajar."
Hartanto makin mengembangkan senyumnya. "Kau tahu? Saat itu aku luar biasa bahagia. Seorang pengusaha di kota ini, mau mengabdikan dirinya menjadi seorang guru dengan gaji yang tidak seberapa, dibandingkan hasil pendapatan yang kau terima ratusan kali lipat dari usaha mendiang ayah dan kakekmu," ungkapnya dengan rasa haru.
Mendengarnya, Reyn ikut tersenyum. "Paman benar, aku juga sangat senang saat itu," ia kembali mengambil botol minumannya, lalu meneguknya lagi hingga semua isinya berpindah kedalam lambungnya.
"Paman jangan khawatir. Setelah resign dari sini, aku masih bisa menjadi guru di sekolah lain. Atau mengajukan diri menjadi dosen di beberapa kampus." imbuh Reyn santai.
"Terus terang saja Paman," Reyn memainkan botol kosong ditangannya, memutar-mutarnya lincah dengan jari-jari tangannya. "Sepertinya aku tidak sanggup memenuhi janjiku dihadapan Paman saat akan menikahi isteriku."
__ADS_1
"Berada satu atap--, seringnya bertemu setiap hari--, juga tidur seranjang dan suka mepet satu sama lain--, membuatku tidak mampu menahan hasratku untuk tidak menyentuhnya, bisa-bisa isteriku itu hamil sebelum dia lulus. Itu kan bahaya sekali Paman?" Reyn menampilkan raut frustrasinya, memikirkan masa-masa beratnya saat berada didekat Rose.
"Itu sebabnya aku sering menghabiskan waktu dikantor, ngelembur, dan pulang larut malam, biar nggak tergoda olehnya."
Hartanto terpana mendengarnya.
"Jangan bilang kau belum meniduri isterimu itu. Paman tidak akan percaya. Kau tidak akan mungkin sanggup jika kau laki-laki sejati," Hartanto mengurai senyumnya yang sedari tadi mengembang, entah mengapa ia merasa sedikit tegang, seakan dirinya yang berada di posisi pemuda itu.
Reyn menggeleng pelan," Aku memang belum menidurinya, Paman. Aku takut dia hamil." jujur Reyn lagi.
"ASTAGA REYN!" kini Hartanto yang frustrasi. "Kau itu hidup di zaman apa sih, Reyn? Kau tidak kenal ya dengan namanya alat kontrasepsi, penunda kehamilan!" tak sadar suaranya sedikit kencang.
"Zaman Batu," timpal Reyn asal, semakin menunjukan raut frustrasinya.
Seketika Hartanto terbahak, melihat tingkah Reyn yang terbaring lemas dikursi kayu yang didudukinya.
"Sesulit itu kah menggarap lahan, dan bercocok tanam? Hei, pengusaha beras dan pupuk kota Tangga Arang!" ledek Hartanto masih terbahak ria. Tidak menduga pemuda seperti Reyn ternyata punya rasa takut juga.
"Bukannya sulit Paman." Reyn berusaha menjabarkan alasannya. Ia memandang Hartanto yang masih tergelak mentertawakan dirinya.
"Aku hanya ingin tahu se-tokcer apa sih diriku, dengan sekali bercocok tanam, benih ku itu harus langsung tumbuh jadi tanaman baru." ungkapnya penuh keseriusan.
"Reyn, Reyn--, mungkin ada, tapi jarang ada yang seperti itu." Hartanto masih tertawa dan berusaha mengentikan tawanya, Reyn siang itu sukses membuatnya geli dengan apa yang ia tuturkan. "Reyn! Kau menyiksa dirimu sendiri!"
"Berarti ada kan Paman? Jadi, jangan bujuk aku menggunakan alat penunda kehamilan sebelum aku berhasil menghamili isteriku, titik!" putus Reyn serius. Tentu saja Hartanto semakin terbahak mendengarnya.
"Menghamili? Memang siapa yang mau dia hamili? Isterinya? Atau Rose? Dasar! Guru Biologi itu mulai cabul saja fikirannya! Huh!" Dari luar pintu yang terbuka ternyata pak Ruben tak sengaja mendengar obrolan keduanya.
Gelak Hartanto yang tak seperti biasanya memaksanya untuk berhenti sejenak, menguping apa yang tengah mereka bahas.
Bersambung...๐
__ADS_1