My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
25. HUKUMAN (Visual Rose)


__ADS_3

TAP! TAP! TAP!


Semua pasang mata mengarah ke pintu, begitu mendengar suara langkah sepatu mendekat. Riuh seisi kelas yang berebut mencari tempat duduk seketika senyap, penasaran siapa guru yang memasuki kelas mereka pertama kali pagi itu.


Raut wajah semua siswa-siswi kelas XII IPA-AI seketika lemas begitu melihat siapa.yang muncul didepan pintu kelas mereka.


Pria berkulit putih, hidung mancung menyerupai mata kail ikan air tawar, bibir merah, mata bulat bagai bola pimpong berbingkai alis hitamnya yang lebat, dengan tubuh tinggi atletis, ya wajah indo portugalnya sangat dominan dengan rambut kribo yang terpangkas rapi.


Pak Ruben Ketopong berasal dari ujung Indonesia paling timur, guru pendidikan moral merangkap guru BK, dirinya memang selalu memperhatikan kerapian dan kebersihan sebagai guru panutan yang selalu menggaungkan kedisiplinan, kebersihan, dan moral pada para siswa-siswi SMU Negeri Tangga Arang yang menjadi tugas utamanya sebagai pendidik disana.


Untuk menunaikan tugasnya, ia tidak pernah segan-segan memberi kompensasi hukuman atas setiap pelanggaran yang dilakukan oleh para siswa tanpa pandang bulu.


"Selamat pagi siswa-siswi sekalian," sapanya didepan kelas setelah meletakan beberapa buku yang dibawanya dimeja guru.


"Selamat pagi Pak," sahut seisi kelas serempak dengan penuh perhatian dengan melipat sepasang tangan mereka diatas meja.


"Selamat berjumpa lagi ditahun ajaran baru. Bapak dipercayakan menjadi wali kelas kalian, kelas XII IPA-AI!"


Tidak ada.respon, sepi, tanpa tepuk tangan seperti yang terdengar dari ruang kelas lainnya yang bersukaria menyambut sang wali kelasnya masing-masing.


"Kenapa? Kalian tidak suka?" ia menatap seisi ruangan yang menunjukan raut semakin lemas dan tegang saat mendengar pengumuman yang ia gemakan.


"Tidak Pak, kami suka. Kami bahkan bangga bila Bapak berkenan menjadi wali kelas kami," Rendy buru-buru menginterupsi, sementara siswa-siswi yang lain hanya mengatupkan mulut mereka rapat-rapat dengan berbagai umpatan yang riuh dalam kepalanya masing-masing tertuju pada Rendy yang sok bijak itu.


"Bagus! Rendy Bapak angkat kamu menjadi ketua kelas, keputusan final!" putusnya kembali menuju mejanya lalu duduk disana.


"Pasang telinga kalian dengan baik! Bapak akan mengabsen! Acungkan tangan kalian diatas kepala saat nama kalian disebutkan dan katakan Hadir! Kalau tidak, pukul jarinya menggunakan pengaris kayu itu Rendy!" ucap pak Ruben sambil membuka buku absensi.


"Siap Pak!" sahut Rendy semangat '45.


Semua bergidik ngeri, itulah salah satu ke-arogan yang dimiliki oleh sang guru BK dan Pendidikan Moral mereka.


"Jarno!"


"Hadir Pak," sahut siswa bertubuh gempal berwajah sangar dengan suara pelan dan lembut.


"Suaramu sangat tidak sesuai dengan penampilanmu Jarno!" pak Ruben menatap Jarno yang salah tingkah diperhatikan seisi kelas begitu rupa karena suaranya yang melempem. "Ayo, tunjukan suara tegasmu Jarno!" pekiknya menggema.


"Hadir Pak!!" lantang Jarno dengan urat lehernya ikut tertarik.

__ADS_1


"Bagus! Selanjutnya! Norsa!"


"Hadir Pak!" sahut Norsa ikutan lantang sambil mengacukan tangan diatas kepala sesuai perintah.


"Rendy!"


"Hadir Pak!"


"Rina!"


"Hadir Pak!"


"Rose!"


"Hadir Pak!


"Yira!"


"Hadir Pak!"


Demikianlah satu persatu para siswa-siswi diabsen sesuai abjad.


"Sebagai perkenalan pembelajaran Pendidikan Moral dan kedisiplinan! Seluruh siswi, berdiri dibelakang mejanya masing-masing!" perintah pak Ruben disertai tatapan tajamnya.


"Kalian para siswi kelas XII IPA-AI, tahun depan akan lulus dan menyandang predikat sebagai mahasiswi! Dikelas XII ini, harusnya kalian bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik kalian yang ada di kelas X dan X1, bukannya menjadi contoh yang tidak baik! Mengatai Bapak 'roh jahat'!"


Para siswi itu terkesiap, ingatan mereka melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu disudut lapangan upacara.


"Kalian tahu kesalahan kalian apa?!" pak Ruben menatap seluruh siswi yang sedang berdiri menunduk.


"Tahu Pak!" sahut mereka serempak.


"Bagus, sekarang juga, turun kelapangan itu kembali, pungut daun-daun kering dan sampah-sampah lainnya dengan kedua tangan kalian tanpa menggunakan alat bantu. Mengerti?!"


"Mengertiti Pak!"


"Ayo! Bergegas!" perintanya lagi.


...🍓🍓🍓...

__ADS_1


Teriknya matahari membakar kulit para siswi kelas XII IPA-AI. Pukul 9.30, waktunya istirahat pertama dimulai mereka belum juga selesai mengumpulkan semua sampah dihalaman upacara bendera yang memiliki luas 25.000 meter persegi.


Peluh mengucur diwajah mereka yang memerah karena kepanasan juga merasa malu karena menjadi bahan tontonan dari seluruh siswa siswi kelas X sampai kelas XII yang sedang menikmati jam istirahat mata pelajaran.


"Kak Rose ya?" seorang adik kelas laki-laki berwajah imut menghampiri Rose yang mengelap cucuran keringat didahinya.


"Ah, Iya. Ada apa Dek?" Rose memperhatikan anak laki-laki itu sambil memicingkan matanya karena silau oleh cahaya matahari.


"Kenalin Kak, namaku Mario, anak baru kelas X." ucapnya sembari menyodorkan tangan kanannya disertai senyum terbaiknya.


"Modus! Kecil-kecil ngajak kenalan," Rose membatin tapi tetap menyambutnya mengingat dirinya harus menjadi kakak kelas yang baik.


"Senang berkenalan dengan kak Rose yang paling cantik." sambung Mario masih betah berbasa-basi. Rose hanya membalas dengan senyuman, sudah terbiasa mendengar pujian seperti itu.


"Ini Kak, ada titipan dari pak guru Biologi yang tampan disana itu," Mario menyodorkan sebotol air mineral tanggung, lalu menunjuk kearah gedung ruang guru.


Demi mendengar nama sang guru Biologi, Rose segera melihat kearah yang ditunjukan oleh Mario, ia hanya sempat melihat punggung tegap berjalan memasuki ruang guru, "Mas Reyn," gumamnya pelan dengan hatinya yang tiba-tiba menghangat.


"Kok manggilnya mas Reyn sih Kak? Bukannya--, harus manggil Pak?" tegur Mario bingung karena sempat mendengar gumaman kakak kelasnya itu.


"Mm--, ah kau salah dengar Mario. Tadi aku bilang pak Reyn kok," sangkal Rose cepat, ia menoleh kiri kanan takut ada yang mendengar.


"Ya udah, ma kasih ya minumannya," Rose buru-buru merampas air mineral dari tangan Mario sambil berlalu pergi. "Maaf, Kakak mau lanjut lagi mungut sampahnya, 'ntar bahaya kalau dilihat pak Ruben terlalu lama berdiam diri."


"Kak Rose memang cantik," gumamnya dengan senyum mendamba, memperhatikan Rose yang pergi menjauh dari hadapannya.


"Heh kamu! Anak baru kemari!" panggil pak Ruben yang tiba-tiba sudah berada ditepi lapangan tidak jauh dari Mario.


"Iya Pak, Saya," Mario gegas mendekat sambil sedikit meringkukan tubuhnya, sejak seminggu yang lalu mengikuti MOS, dirinya sudah sangat mengenal sang guru yang disegani di sekolah barunya itu.


"Ngapain di sini? Kamu mau ganggu Kakak kelasmu yang cantik-cantik itu hah?! Dsini sekolah, bukan pdkt-pdkt-an!" ucap pak Ruben garang.


"Ampun Pak, saya hanya disuruh pak guru Biologi memberi sebotol air mineral pada kak Rose, kasian dia kehausan katanya begitu Pak," Mario menangkupkan tangannya diatas kepala dengan rasa cemas, takut diberi hukuman seperti yang pernah dia terima diawal masuk sekolah karena datang terlambat.


"Hah pak Reyn kasih botol air mineral pada Rose?" tanya pak Ruben memastikan sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya, memang begitu Pak," sahut Mario masih merasa was-was.


"Ternyata pak Reyn sadar juga kalau ada gadis cantik di sekolah ini," ucapnya tersenyum geli sendiri. "Sudah, kau pergi sana! Awas macam-macam di sekolah ini! Tujuan utamamu di sini sekolah, ingat itu!" setelah berkata demikian, malah pak Ruben yang pergi lebih dulu. Mario yang kebingungan hanya bisa bernapas lega, karena bebas dari hukuman.

__ADS_1



Bersambung...👉


__ADS_2