My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
55. Di RESTORAN


__ADS_3

"Kak Bram?" Rina gelagapan, ia begitu takut kakak kandung Rose itu melihat dirinya ada di restoran itu bersama Steven. Ia buru-buru berbalik untuk kembali kemeja makan di mana Steven berada dengan tujuan bersembunyi dibawah meja.


Tak sengaja, gerakan grasak-grusuknya itu menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa peralatan makan kotor para pengunjung dalam nampan.


BRAKKK!!! PRANKK!!!


Seisi restoran menatap kearah sumber suara dengan pandangan sinis. Rina seketika pucat pasi, selain menahan rasa malu akibat telah menciftakan insiden, ia harus berfikir bagaimana cara mengganti peralatan makan milik restoran yang mahal itu.


"M-maaf Mbak, s-saya tidak sengaja." ucap Rina dengan wajah memerah, masih menahan rasa malu bercampur rasa bersalah. Ia berjongkok, membantu mengumpulkan serpihan-serpihan kaca di lantai.


"I-iya Kak, nggak pa-pa kok," sang pelayan itu juga gugup, terlihat takut dengan tangannya yang gemetar memungut pecahan-pecahan kaca yang berserakan.


"S-saya bisa di pecat kalau begini. Saya baru tiga minggu ini kerja disini, Kak." imbuh si pelayan itu lagi, matanya memerah menahan segala risau dalam hatinya.


"Kenapa kau tidak becus berkerja? Dasar ceroboh!" seorang wanita dengan setelan jas berwarna biru dan bersanggul rapi dengan tergesa-gesa datang mendekat. Mendengarnya, si pelayan buru-buru berdiri dengan wajah tertunduk, terkesan ia sangat takut pada wanita berjas biru itu.


"M-maafkan saya Bu," gugup si pelayan perempuan itu. "S-saya benar-benar tidak sengaja. Potong gaji saya saja Bu, asalkan jangan pecat saya," mohonnya dengan wajah masih menunduk takut.


"Ini bukan restoran nenek moyangmu. Kau tidak bisa membuat aturanmu sendiri disini. Sekarang kau di pecat! Belum satu bulan sudah membuat kesalahan," sentaknya garang memberi putusan sepihak saat itu juga.


Rina yang berdiri dibelakang si pelayan tersentak, ia tidak menduga bila perbuatan yang tidak di sengajanya itu kini berakibat fatal pada si pelayan malang itu. Bingung berbuat apa, Rina hanya bisa membisu, takut menambah runyam keadaan.


"Ampun Bu, maafkan saya. Saya butuh pekerjaan ini," si pelayan perempuan tetap menghiba, kini air matanya sudah berderai walau suara tangisnya tidak terdengar.

__ADS_1


"Cepat bereskan! Dan ambil gaji terakhirmu di ruangan saya," ucap wanita itu lagi tak peduli, ia masih geram atas kecerobohan bawahannya itu.


Rina kembali tersentak. Ada rasa ngilu disudut hatinya mendengar kekasaran wanita itu pada si pelayan. Ingin rasanya ia membela dan mengakui bila itu adalah salahnya, tapi Rina enggan melakukannya karena malu pada para pengunjung yang masih memperhatikan mereka dari mejanya masing-masing.


"Saya menyesal, karena sudah makan di restoran ini, ibu Manager."


Wanita berjas biru itu gegas berbalik dan sedikit mendongak ke atas, nampak Steven memandangnya dengan raut datar, dua tangan pemuda itu tersimpan di masing-masing saku celana jeans-nya.


"Abang--, Abang Putra Budaya?" Raut dingin dan datar wanita itu seketika berubah ramah. Demikianlah orang-orang kota itu memanggil Steven, pemuda yang dua tahun belakangan ini di daulat menjadi Putra Budaya Kota Tangga Arang melalui beberapa proses seleksi.


"Maafkan atas kecerobohan bawahan saya, saya berjanji hal ini tidak terulang lagi, Abang." ucapnya lembut.


"Bukan itu maksud saya ibu Manager. Andai saja saya tidak makan disini, kemalangan ini tidak akan menimpa bawahan ibu ini," Steven memandang si pelayan yang masih menunduk.


"Bawahan ibu Manager tidak bersalah, tapi teman saya ini." Tatapan Steven mengarah pada Rina. Si wanita yang dipanggil Manager itu ikut melihat ke arah Rina yang langsung menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.


"Oh, e--, tidak masalah Abang, tidak apa-apa." sang Manager wanita memaksakan tawanya.


"Di sini, kami memperlakukan pengunjung restoran sebagai raja. Kami lebih mengutamakan kepuasan tamu restoran ini," ucapnya dengan gaya elegannya.


Baik Rina, maupun si pelayan, keduanya hanya menundukan kepala, hanya menjadi pendengar dengan perasaannya masing-masing.


"Sangat disayangkan sekali, kebijakan restoran ini sangat tidak manusiawi. Tamu restoran diperlakukan layaknya seorang raja, dan bawahannya diperlakukan seperti budak." Steven tersenyum miring.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya akan meminta pada Papi saya untuk meninjau ulang perizinan restoran ini. Sepertinya SOP yang dijalankan tidak sesuai dengan budaya kota kita, yang dengan lantang selalu menggaungkan keramahan para warganya, teduh, rapi, aman dan nyaman kotanya."


"Abang, maafkan saya. Mari kita bicara diruangan saya, saya rasa ada kesalah fahaman disini," wajah wanita itu nampak khawatir, tentu ini masalah besar bagi dirinya dan restoran bila ia tidak mampu meyakinkan Steven untuk mengurungkan niatnya mengadu pada ayahnya.


"Baiklah, saya setuju."


Sang manager wanita itu terlihat sedikit lega mendengar persetujuan Steven, tinggal dirinya saja yang pandai berargumen dengan pemuda itu.


Terlepas dari statusnya sebagai anak orang nomor satu di kota itu, pernyataan Steven sebagai Abang Budaya kota Tangga Arang akan kenyamanan pelayanan restoran-restoran terhadap seluruh warga asli dan pendatang akan sangat berpengaruh pada kelangsungan usaha para pengusaha kuliner itu.


"Rina, kau juga harus ikut denganku," Steven memandang pada Rina, gadis itu mengangguk dan bergegas mengekor dari belakang, meninggalkan si pelayan yang kembali melanjutkan membereskan kekacauan yang ada dilantai.


Dan para pengunjung terlihat saling berbisik pada anggota semejanya.


...🍓🍓🍓...


"Rina, kenapa tadi kau tidak berani jujur?" tanya Steven, sesaat setelah keduanya keluar dari restoran menuju lahan parkir.


Rina tidak menjawab, ia terlalu malu mengakui pada Steven kalau dirinya memang tidak berani mengakui kesalahannya didepan banyak pasang mata pengunjung restoran yang menyaksikan kejadian itu.


Merasakan tidak ada tanda-tanda tanggapan, Steven mendesah pelan, ia berdiri disisi motornya dan memandang Rina datar.


"Aku salut pada gadis pelayan itu. Didepan banyak orang ia sama sekali tidak menyalahkanmu. Kau tahu? Sikap ketidak beranianmu mengakui kesalahan, hampir saja membuat orang lain kehilangan pekerjaannya. Gadis itu adalah tulang punggung keluarganya Rina."

__ADS_1


"M-maafkan aku Kak Steven, ini kelemahanku. Aku janji, aku akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi," Rina melihat sebentar pada Steven lalu segera menunduk, ia sedih melihat sorot kekecewaan dari laki-laki yang ia cintai itu.


Bersambung...👉


__ADS_2