
"Bram, berhenti mendekatiku!" Leony menyembulkan kepalanya dari jendela kaca yang sengaja ia turunkan.
"Tapi bagaimana dengan pertemuan kita semalam, bukannya kedua orang tua kita sudah saling merestui?"
"Itu orang tua kita Bram, bukan kita. Kau tidak bisa mencintaiku secara sepihak Bram. Kau hanya bertepuk sebelah tangan. Kau tau itu. Jadi berhentilah Bram, yang kau lakukan ini sia-sia. Aku tidak menyukaimu." tumpah perempuan itu, berusaha membuat si lelaki memahami kenyataan yang ada.
"Ke-kenapa? Kenapa kau tidak bisa menyukaiku Ayang bidadari?" Bram bergumam pelan, walau ia tahu pertanyaan bodohnya itu tidak perlu ia lontarkan, karena jawabannya pasti akan sangat menyakitkan.
"Baiklah, aku akan mengatakannya secara JE--LAS supaya kau tidak bertanya-tanya lagi. Tingkahmu kekanak-kanakan, lebay, konyol, nyebelin, dan membuatku MUAK. Paham?" dengan wajah berapi-api.
Bram mengangguk lemas, lututnya seakan goyang. Ternyata perempuan itu sama sekali tidak tersentuh hatinya atas segala yang telah ia lakukan selama ini untuk mendapatkan hatinya.
"Baiklah. Aku paham. Maafkan aku. Dan tolong izinkan aku mengantar Clara pulang, aku tidak tega melihatnya menangis. Please," mohon Bram dengan suaranya yang terdengar serak.
Leony tidak menggubris. Ia menaikan jendela kaca mobilnya lalu menjalankannya perlahan meninggalkan halaman parkir sekokah. Clara semakin meraung disebelahnya melihat Bram yang sengaja ditinggal oleh ibunya.
Pemuda itu menatap nanar mobil Leony yang menghilang dikeramaian lalu lintas kota yang cukup padat siang itu.
Bram tidak terlalu perduli dengan semua perkataan Leony yang selalu pedas padanya, cintanya yang sangat besar pada perempuan itu mampu meredam semuanya.
Suara tangisan Clara masih terngiang-ngiang ditelinganya, membuat hatinya sedih. Putri Leony itu mengingatkannya pada Rose kecil yang selalu saja rewel bila ditinggal berkerja oleh kedua orang tua mereka, sehingga sebagai seorang kakak yang hanya terpaut jarak 4 tahun, dirinya selalu sabar membujuk sekaligus jadi pengasuh adiknya selain bibi dirumah.
"Mas, nggak usah. Biar saya saja yang bersihkan. Ini tugas saya," seorang kebersihan sekolah menghampiri Bram yang sedang meraup es krim yang teronghok dilantai dan memasukanya kembali kedalam kotak es krimnya.
"Nggak pa-pa Pak, udah terlanjur." Bram memaksakan senyumnya lalu meninggalkan petugas kebersihan itu, memasukannya kedalam tong sampah yang tersedia di sudut parkiran dan membersihkan tangannya disana dengan kran yang tersedia.
Dengan langkah gontai Bram menuju motornya, ia menatap sejenak bangunan sekolah yang mulai sepi itu. Perlahan ia menjalankan motornya keluar area sekolah, denga arah yang berlawanan ketika Leony membawa pulang putrinya.
...🍓🍓🍓...
"Hiks, hiks, hiks." Clara masih sesenggukan turun dari mobil. Jeny yang melihatnya gegas menghampiri.
"Haduh Sayang, cucu kesayangan nenek kenapa? Heum?" Jeny meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya.
"Mami nakal. Ucil papi Blam pulang. Telus jatohin es klim Clala!" adunya, masih sesenggukan dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
"Uuh Sayang. Nanti Nenek belikan es krim yang baru ya buat Clara, tapi jangan nangis lagi."
"Tapi Clala maunya papi Blam yang beliin," rengek bocah itu masih sesenggukan.
Leony memutar bola matanya kesal, sepanjang jalan pulang kepalanya sudah pusing mendengar tangisan Clara, dan sekarang putrinya itu masih menyebut-nyebut nama pemuda yang sudah membuatnya bad mood siang ini.
"Leony pamit Mam, ke kantor lagi," perempuan itu membalikan tubuhnya, lalu mengayunkan langkah menuju mobilnya yang terparkir didepan rumah.
"Leony tunggu! Kau tidak makan siang dulu, mumpung sudah waktunya." panggil Jeny, sembari melambai kearah bibi Yaya yang berada tidak jauh dari mereka.
"Nggak Mam, Leony nggak lapar." sahut Leony terus melangkah tanpa menoleh.
"Berhenti Leony. Mami mau bicara dulu. Jangan pergi."
Jeny buru-buru memindahkan Clara kedalam gendongan bibi Yaya. "Clara sayang, mandi dulu sama bibi, nanti nenek temanin makan siang lalu kita beli es krim yang banyak lalu ketemu papi Bram, oke? Nenek mau bicara sama Mamimu dulu."
Clara cepat mengangguk begitu mendengar nama Bram. Sementara Jeny segera melesat menghampiri Leony yang masih menunggu dengan sabar sambil menyandarkan punggungnya pada sisi mobilnya
"Apa yang terjadi padamu dan Bram? Dan kenapa Clara menangis sesenggukan sampai matanya bengkak begitu?"
"Mam, kenapa Mami dan Papi menerima lamaran pemuda bau kencur itu. Leony sama sekali tidak menyukainya Mam. Leony bisa gila kalau terus-terusan ada didekatnya." keluhnya hampir menangis. "Semua sudah Leony ceritakan bagaimana diri pemuda itu--"
"Pemuda itu konyol, kekanak-kanakan, tidak dewasa, lebay, malu-maluin, dan bla-bla-bla. Mami sudah dengar puluhan kali dari mulutmu Leony." potong Jeny.
"Tuh, Mami ingat." tandasnya cepat.
Giliran Jeny yang membuang napas kasar.
"Leony Sayang, kau perlu seorang teman hidup. Jangan betah melajang begini. Ingat usiamu Leony, kau sudah sangat matang untuk menikah, bersuami, dan berkeluarga Sayang."
Leony mendengus, ia memang bosan bila selalu dikaitkan dengan umurnya yang matang.
"Dan kau tidak bisa menjadi seorang single parent. Clara butuh kasih sayang seorang ayah, sama seperti anak-anak yang lain Leony,"
"Clara tidak butuh seorang ayah, Mam. Putriku itu sudah pernah punya ayah. Dan laki-laki tidak bertanggung jawab itu malah pergi tanpa pesan. Aku sering melihatnya dengan perempuan dan anaknya itu. Rasanya aku ingin sekali mencekiknya dan menjadikan laki-laki itu makanan ikan pesut di sungai mahakam sana." geram Leony.
__ADS_1
"Tapi Bram berbeda, dia tidak sama dengan Dimas, ayah biologis Clara. Mami lihat Bram tulus mencintaimu, dan menyayangi Clara seperti putrinya sendiri."
"Papi dan Mami sengaja tidak memberitahu Bram dan keluarganya kalau Clara bukanlah putri kandungmu, melainkan anak adikmu, mendiang Giyani. Tapi pemuda itu tetap kekeuh, dia tidak perduli, mau dirimu gadis ataupun beranak satu, dia tidak masalah, begitu juga dengan keluarganya."
Mata Jeny mendadak berkaca-kaca kala lidahnya kembali menyebut nama putri bungsunya yang telah tiada.
"Mam, Mami baik-baik saja,".Leony menatap cemas pada ibunya, ia langsung mengusap air mata ibunya yang bergulir dipipi dengan jarinya.
Jeny menggeleng. "Mami hanya rindu pada mendiang adikmu. Selama hidup bersama Dimas, hingga saat-saat terakhirnya, Giyani selalu saja menderita karena perselingkuhan Dimas dengan perempuan itu. Dari awal, Mami dan Papi memang sudah tidak setuju, tapi adikmu itu tidak patuh," Jeny semakin terbawa perasaannya.
"Sudahlah Mam, tidak perlu diingat-ingat lagi. Leony tidak mau Mami sakit lagi seperti dulu. Leony hanya punya Mami, Papi, dan Clara. Yang lalu biarlah berlalu Mam," Leony memeluk ibunya dengan sayang.
Tidak dipungkiri, setiap ingatan tentang kedua orang tua kandung Clara itu, akan selalu menyisakan luka yang sulit sembuh dalam keluarga mereka hingga sekarang.
Jeny menatap lekat putrinya yang masih memeluknya.
"Ayo, makan siang dulu, jangan sampai sakit lambungmu kambuh lagi."
Leony mengangguk, lalu mengurai pelukannya. Keduanya lalu berjalan beriringan memasuki rumah.
"Leony, kau harus belajar menerima Bram, dia pemuda yang baik. Atau--"
"Atau apa Mam?" Leony menoleh pada Jeny yang berjalan disisnya.
"Atau kau terpaksa harus DENDA."
"Maksud Mami?" Leony mengerutkan dahinya dan turut menghentikan langkahnya saat ibunya memutar tubuh menghadap kearahnya.
"Tradisinya, bila keluarga laki-laki membawa satu ekor lembu untuk melamar, maka pihak keluarga perempuan yang membatalkan lamaran harus mengembalikan satu ekor lembu itu pada pihak keluarga laki-laki, beserta WAJIB memberikan satu ekor lembu lagi sebagai DENDA rasa malu yang diderita oleh pihak keluarga laki-laki karena pembatalan lamaran." jelas sang mami.
"Jadi, pihak keluarga Bram telah memberikan 1 tajau emas seberat 9 kilogram lebih, bila kau memang berniat membatalkan lamaran itu, keluarga kita harus mengembalikan 1 tajau emas yang mereka berikan semalam, lalu kau WAJIB mengembalikan 1 tajau emas lagi dengan berat serupa, sebagai DENDA rasa malu mereka,"
Mendengarnya, seketika kepala Leony berdenyut. Seumur hidup ia berkerja di perusahaan Reyn, dirinya tidak akan mampu membeli emas seberat itu untuk dibuatkan sebuah tajau.
Bila berharap pada Papi dan Maminya, mereka tentu tidak akan mau keuntungan restoran mereka untuk membayar denda yang disebabkan olehnya.
__ADS_1
Bersambung....👉