My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
42. SALAD BUAH


__ADS_3

"Ini buat Papa," Rose menyodorkan satu mangkuk pada ayah mertuanya. Pria itu segera menerimanya dan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis pada menantunya yang sangat perhatian.


"Ini buat Mama," lanjut Rose, menyodorkan satu mangkuk lagi pada sang ibu mertuanya.


"Terima kasih Sayang," Sarina menerima mangkuk yang diberikan menantunya sambil tersenyum hangat.


"Sama-sama Ma," balas Rose juga ikut tersenyum, senyum termanis yang bisa ia tampilkan dihadapan mertua tentunya.


"Ini buat Ayah yang jarang-jarang muji anaknya," sodor Rose pada Martin, laki-laki itu mengeryitkan dahi, berusaha mengenali jenis makanan apa yang ada dalam mangkuk pemberian putrinya.


"Ini untuk Bunda yang hobinya ngomelin dan ngomentarin Rose tiap hari," Marlina hanya mendengus didalam hati sambil menerima mangkuk pemberian putrinya. Sebisa mungkin ia menaham diri mendengar ucapan putrinya, karena tidak enak pada Reyn dan kedua besannya bila ia langsung mencak-mencak seperti biasanya.


"Dan ini untuk Mas guruku," sodor Rose sambil duduk bersebelahan dengan Reyn.


Seperti yang lainnya, Reyn pun turut mengernyitkan dahi ketika melihat isi mangkuknya. "Apa ini Rose?" melirik pada isterinya yang tersenyum lebar menunjukan gigi-gigi putihnya.


"Hasil kreasi Rose di dapur tadi. SALAD BUAH! Tralalaaa! Rose pinter khan sekarang? Pasti Ayah sama Bunda kaget dengan perkembangan Rose yang begitu pesat hanya dalam waktu dua bulan!" ucapnya dengan wajah berbinar, terlihat sangat bahagia sendiri, sementara yang lain hanya melongo.


"Apa ini bisa dimakan?" lanjut Reyn, kembali memperhatikan isi mangkuknya, dan mulai mengaduk aduk dengan sendok yang ada didalamnya. Bila itu salad buah seperti dikatakan isterinya itu, kenapa tidak ada satupun aneka buah yang mampu ia kenali disana.


Seketika yang lainnya menahan tawa, "Mffhh!!" Mendengar ucapan Reyn dan langsung direspon cemberut oleh Rose.


"Ya ampyun Mas guru, itu rajaman buah anggur, apel, kiwi, alpukat, Berry, dan semangka," jelas Rose sambil melihat isi mangkuk suaminya.


"Astaga Rose, bukannya dirajam Sayang, tapi dipotong-potong rapi dengan penuh cinta jadi tampilannya nggak hancur kaya gini," gerutu Marlina memandang putrinya.


"Bun, yang penting itu rasanya. Inget, RA-SA-nya, tampilan bisa menipu. Rose sengaja merajam biar nggak susah-susah ngunyahnya," kelit Rose masih membela kreasinya.


"Ayo Mas guru, coba dulu, baru komentar lagi," Rose mengambil alih mangkuk ditangan Reyn lalu mulai memaksa suaminya untuk membuka mulut.

__ADS_1


"Nggak mau Rose, Mas udah kenyang makan siang tadi," Reyn membekap mulutnya dengan menjauhkan wajahnya dari jangkauan Rose yang terus memaksa.


Bukan Rose namanya kalau tidak bisa mencapai tujuannya. "Ayolah Mas, aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati," ucapnya memelas dengan raut dibuat sedih. "Rose udah menghabiskan banyak waktu dan tenaga tadi didapur, masa mau dibuang sih makananya, sayangkan?" paksanya lagi tanpa kenal menyerah.


"Ayolah. Reyn, dicoba dulu buatan isterimu, apa salahnya?" Sarina ikut bantu membujuk, supaya hati Rose senang.


Walau sangat terpaksa, akhirnya Reyn membuka juga mulutnya. Rose tersenyum senang lalu menyendok penuh salad buah dan memasukan dengan semangat kedalam mulut suaminya.


"Bagaimana? Enak?" Rose memperhatikan raut Reyn yang sedang mengunyah.


"Enak," sahut Reyn datar.


"Yes! Rose berhasil!" gadis itu melonjak kegirangan. "Habiskan," Rose kembali menyendok.


"Udah Rose, Mas kenyang," Reyn kembali menolak dengan gerakan tangan mendorong sendok yang didekatkan padanya.


Malas dengan banyak drama, Reyn terpaksa membuka mulutnya lagi, menikmati suapan demi suapan yang diberikan Rose padanya dengan raut datar.


Berbeda dengan kedua orang tua Rose dan Reyn, mereka juga ikut memakan salad buah buatan Rose, supaya gadis belia itu lebih bersemangat lagi dalam belajar melakukan pekerjaan rumah tangga karena kreasinya dihargai.


"Tambah lagi?" Rose kembali menawarkan, saat isi mangkuk Reyn sudah kosong.


"Cukup, cukup. Kau bisa meledakkan perutku." Reyn gegas bangkit dari duduknya. "Aku mau renang dulu, supaya perutku jangan buncit karena kebanyakan makan," ujarnya beralasan.


"Rasanya tidak terlalu buruk, tapi aneh saja didalam mulut," guman Reyn didalam hati sambil berlalu. Baru kali ini dirinya memakan salad buah yang hancur berkeping-keping seperti buatan Rose barusan.


"Kami juga cukup," kompak kedua mertua dan orang tua Rose, khawatir ditawarin lagi.


"Enak nggak sih Bun? Ma?" tanya Rose penasaran.

__ADS_1


"Enak, enak kok Sayang," Sarina buru-buru menjawab. "Buktinya mangkuk-mangkuk ini semuanya udah kosong," Sarina menyatukan keempat mangkuk mereka yang memang telah kosong.


"Ma kasih ya Mama, Bunda, Papa, dan Ayah. Rose senang sekali, akhirnya buatan Rose bisa dimakan juga," Rose bangkit, membereskan semua mangkuk dan sendok kotor, meletakan semuanya didalam nampan.


"Yang dalam mangkuk kaca besar ini, kita makan lagi untuk hidangan penutup makan malam, malam ini," ujar gadis itu sembari berdiri dan membawa nampan ditangannya kembali kedapur dengan wajah riang.


Keempat orang tua itu hanya bisa berpandangan satu sama lain, pasrah saja bila menu makan malam mereka akan diselingi salad buah kreasi Rose itu lagi.


...🍓🍓🍓...


Kecipaak! Kecipuuk! Kecipaak! Kecipuk!


Suara riuh air kolam menghentikan langkah ringan Rose menuju dapur, seolah tengah memanggilnya untuk datang kearah sumber suara.


Dengan nampan ditangan, Rose berjalan serong kekiri, menuju kolam renang yang ribut dengan ombak yang diciftakan Reyn yang sedang asik berenang dengan berbagai gaya disana.


"Pandai sekali Mas guru berenang," monolog Rose memandang kagum. Melihat Reyn berenang dengan perlengkapan kacamata renang, ia teringat pelajaran renang yang diajarkan oleh guru olahraganya disekolah. Suaminya itu seolah tengah menjadi alat peraga apa yang pernah ia pelajari.


Saat ini, Reyn baru saja selesai dengan renang gaya bebasnya dan berlanjut dengan gaya dada atau gaya katak, berenang dengan posisi dada menghadap ke permukaan air. Terlihat begitu luwes dan lincah pada pemandangan Rose.


Puas dengan renang gaya dada, Reyn mengubah gaya renangnya menjadi gaya kupu-kupu. Karena gerakan kaki yang melambai-lambai, gaya ini juga dikenal sebagai gaya lumba-lumba atau dolphin. Gaya renang ini memang memerlukan kekuatan yang cukup besar dari perenang, Rose bisa melihat bagaimana Reyn melakukannya hingga wajahnya memerah, karena posisi suaminya itu saat itu sedang menghadap kearahnya.


"Aku akan meminta Mas guru mengajariku berenang juga," gumam Rose sambil tersenyum, memandang Reyn yang sudah mengubah gaya renangnya menjadi gaya punggung, dengan posisi punggung menghadap ke permukaan air. Gerakan kaki dan tangan serupa dengan gaya bebas, tetapi dengan posisi tubuh telentang di permukaan air. Kedua belah tangan secara bergantian digerakkan menuju pinggang seperti gerakan mengayuh.


Tunggu, senyum Rose seketika memudar saat sepasang mata sucinya lagi-lagi tidak sengaja berpusat pada area tengah tubuh suaminya yang mengembung sesak. Ya, itu sangat jelas terlihat, karena Reyn mengenakan celana renang ketatnya. Gadis itu bersusah payah menelan salivanya.


"Aku harus buru-buru pergi dari sini," Rose dengan gegas melangkah pergi meninggalkan tempat itu, membawa nampan yang masih ada ditangannya menuju dapur.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2