
Leony menatap ponselnya yang terus berkedip, dirinya memang terbiasa memasang mode silent saat sedang berkerja.
Banyaknya pekerjaan, ditambah masalah yang kerap kali ditimbulkan Clara disekolah akhir-akhir ini membuat kepala Leony seketika berdenyut saat nama ibunya tertera dilayar ponselnya. Ini sudah kali yang ke-empat sang Mami menelponnya hari ini.
📞"Iya Mam, ada apa lagi?" tanya Leony pelan.
📞"Sudah dapat kabar Bram, Sayang? Mami stress, Clara nagih ke Mami terus mau ketemuan sama si Bram." cerocos Jeny dari ujung sambungan telepon.
Leony memijit pangkal hidungnya frustrasi, sudah tiga minggu ini si pemuda bau kencur itu tidak menampakan batang hidung setelah perdebatan mereka kala itu, baik dikantor, di sekolah Clara maupun di mansion mereka.
Harusnya Leony tenang dan bahagia, karena itu yang memang dia harapkan. Tapi nyatanya, dirinya dibuat pusing selama Bram menghilang tidak ada kabar beritanya, pasalnya Clara dan ibunya merengek meminta dirinya menemukan pemuda itu.
📞"Mami kan tahu kalau Clara nggak bisa di janji'in, ya gini jadinya," Leony melenguh, mengingat ucapan ibunya yang menjanjikan Clara untuk bertemu Bram supaya bocah itu berhenti menangis ketika itu.
Lelah fisik, dan lelah pikiran, serasa semakin menekan. Akhir-akhir ini Leony memang kurang istirahat dan makan juga tidak teratur karena banyaknya fikiran dan pekerjaan.
📞"Ya mau gimana lagi, kalau nggak dijanji'in gitu ga bakalan stop nangisnya. Pokoknya Mami nggak mau tau, kamu harus cari tau kabarnya Bram, setidaknya nomor ponselnya, biar Clara bisa telepon atau VC. Mami udah nggak tahan ditagih terus, pusing Mami."
Leony baru membuka mulutnya untuk kembali berbicara, tapi keburu ibunya memutuskan sambungan telepon secara sepihak membuat perempuan itu mendengus sambil menatap ponselnya.
"Sama Mam, Leony juga lebih pusing. Nggak Mami, nggak Clara, juga Bram --, semuanya bikin pusing." gerutunya lalu meletakan ponselnya diatas meja.
"Emangnya apa yang dipusingkan, sekretaris Leony?" Nainggolan yang baru keluar dari lift datang menghampiri.
"Oh, nggak ada pak Nainggolan." Leony pura-pura terkekeh.
"Oh, saya fikir pusing karena mas Bram," goda Nainggolan. "Tapi ngomong-ngomong, calon suami sekretaris Leony itu kemana ya? Kok nggak pernah keliatan lagi?" sambungnya cepat.
"Sejak kapan pak Nainggolan kepo urusan anak muda? Dan siapa bilang pak Bram itu calon suami saya?" Leony berusaha tenang walau dadanya sudah bergemuruh.
"Pak Reyn yang ngomong." sambarnya cepat membuat Leony menelan salivanya kasar. "Asal sekretaris Leony tahu, fisik saya saja yang berwujud laki-laki, tapi jiwa saya lebih kepo dari pada gerombolan emak-emak."
Leony tepana sesaat, ia menatap lekat pria berumur dihadapannya ini, memindainya dari ujung rambut hingga ujung sepatunya, membayangkan bila laki-laki itu mengenakan daster lebar dengan roll rambut yang memenuhi kepalanya.
__ADS_1
Leony meraba tengkuknya sendiri, seketika ia bergidik ngeri.
"Kenapa? Apa sekretaris Leony ngeri membayangkan saya mengenakan daster lebar emak-emak sambil ngeroll rambut?" tatap Nainggolan pada Leony yang semakin ternganga mendengar ucapannya.
"Udah, nggak perlu ngebayangin yang aneh-aneh. Pak Reyn ada didalam ruangannya?" tanya pria itu bersiap beranjak.
Leony masih tak bisa berkata apa-apa, tapi kepalanya cepat mengangguk.
Mendapat anggukan Leony, Nainggolan gegas beranjak menuju ruangan Reyn, membiarkan Leony yang masih terpana memandangnya.
"Sekretaris Leony pasti terpesona dengan gayaku yang selalu cool" gumamnya percaya diri, merasa keren, sambil menyugar rambut tipis pendeknya yang sudah sedikit botak diubun-ubunnya.
...🍓🍓🍓...
Kring! Kring! Kring!
📞"Hallo, selamat siang, dengan sekretaris Leony disini. Ada yang bisa saya bantu?"
📞"Ke ruangan saya sekarang."
Leony meletakan gagang telepon pada tempatnya semula lalu gegas menuju ruangan Reyn.
"Tolong bayarkan PBB pribadi isteri saya secara online saja. Ini SPPT-nya, dan ini sertifikat rumah yang baru," Reyn menyerahkan sertifikat rumah Farid yang sudah berganti atas nama Rose Margarine yang baru ia terima dari Nainggolan.
"Baik Pak," Leony menerima semua berkas itu, lalu gegas meninggalkan meja Reyn. Sebelum benar-benar keluar pintu, Leony dengan ragu kembali berbalik.
"Ada apa sekretaris Leony?" Reyn yang hendak melanjutkan perbincangannya dengan Nainggolan kembali mengarahkan pandangannya pada Leony yang nampak ragu berdiri didepan pintu ruangannya.
"S-saya--, Saya minta izin keluar sebentar, mau menjemput putri saya," gugup Leony. Apa yang ada dalam kepalanya sengaja ia belokan, sehingga yang keluar dari mulutnya berbeda dari isi kepalanya.
"Tentu saja. Silahkan, kenapa sungkan meminta izin menjemput Clara, bukannya ini bukan kali yang pertama?" ungkap Reyn sedikit heran.
"Terima.kasih, Pak." Leony tersenyum kikuk, ia sedikit membungkukan tubuhnya sebelum pergi. Tapi lagi-lagi ia kembali mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruangan Reyn.
__ADS_1
"Masih ada yang ingin dikatakan?" Reyn menatap Leony, begitu pula dengan Nainggolan.
"Eumm--," Leony sedikit tegang.
Reyn masih memandangi sekretaris pribadinya itu, menunggu apa yang ingin perempuan itu katakan.
"Eumm... Pak Bram, apa kabarnya? Apa dia baik-baik saja?" bukan perkataan itu yang ingin Leony katakan, tapi nyatanya itulah yang lolos dari mulutnya. Perempuan itu buru-buru membekap mulutnya sendiri, membuat Reyn dan Nainggolan menahan senyum mendengarnya.
"Kak Bram baik. Sekretaris Leony kangen?" Reyn masih menahan senyum dengan menampilkan wajah datarnya, begitu pula dengan Nainggolan yang pura-pura memeriksa ponselnya.
"B-bukan, bukan itu Pak. Hanya saja--" Wajah bening Leony memerah.
"Rindu berat karena sudah tiga minggu ini tidak berjumpa?" ledek Reyn lagi sengaja menggoda sekretaris pribadinya yang minim guyon dan selalu serius itu. Laki-laki itu tidak tahu saja bila Leony sudah memarahi Bram habis-habisan agar menjauh darinya.
"Kalau perempuan, nggak ada yang mau ngaku pak Reyn, sekalipun sampai keubun-ubun rasa rindunya," kekeh Nainggolan.
Leony tidak berusaha menjawab apapun untuk membela diri dari ucapan kedua pria itu, hanya wajahnya saja yang kian memerah menahan malu, kesal, marah, dan juga dongkol dihatinya.
Itulah sebabnya ia tidak pernah mau menanyakan Bram, si pemuda sableng itu, walau tiap hari ibu dan putrinya terus-terusan merengek padanya, karena ujung-ujungnya akan begini jadinya, dirinyalah yang disangka merindu, sesalnya.
"Kak Bram lagi semesteran di kampusnya. Dan aku dengar dia juga lagi sibuk-sibuknya ngajuin judul skripsinya ke dosen pembimbingnya." jelas Reyn kemudian.
"Ngajuin judul skripsi? Bukannya itu untuk tahun depan Pak?" sela Leony tak sadar, mengingat pembicaraan pemuda itu beberapa waktu lalu dirumahnya.
"Ciyee... Yang jadi calon isteri tau tuh," Nainggolan ikut meledek sembari terkekeh ria. Reyn hanya tersenyum menanggapi ledekan sang lawyernya.
"Ya ampun, tua-tua resek amat sih," gerutu Leony dalam hati, namun ia tetap berusaha menjaga sikap hormatnya untuk tidak mengeluarkan kata-kata tak pantas, mengingat lawan bicaranya saat ini adalah pemilik dan satunya lagi adalah lawyer perusahaan.
"Boleh saya minta nomor ponsel pak Bram, Pak?" Merasa kepalang basah sudah diledekin, Leony sekalian saja meminta nomor ponsel Bram sesuai niat awalnya karena bosan terus dipesanin ibunya sejak beberapa hari lalu.
"Tuh 'kan..." Nainggolan semakin iseng dan tawanya kian menjadi, kapan lagi ia bisa bebas meledek sang sekretaris judes tapi cantik itu.
Leony masih berusaha menjaga sikap, ya inilah resikonya, batinya, sembari memaksakan senyum palsunya.
__ADS_1
Bersambung...👉