My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
75. SERIBU KALI LIPAT


__ADS_3

"Mas," Rose menadahkan tangannya pada Reyn yang duduk berdampingan disebelahnya dimeja makan.


"Apaan?" Reyn mengernyitkan keningnya saat melihat tangan Rose yang terulur padanya, lalu beralih memandangi wajah isterinya itu.


"Tambahan uang jajan Rose seribu kali lipat dari biasanya." Rose masih menadahkan tangannya semakin bersemangat.


"Banyak sekali? Bangkrut pak guru kalau begini." Reyn pura-pura acuh, kembali pokus melanjutkan sarapan paginya.


"Kalau uang jajan dari Mas guru kan udah di kasih tiap bulan dari gajinya Mas. Yang Rose minta ini uang jajan dari Mas pengusaha. Ini hukuman! Karena udah berani nge-prank-in Rose, bilang kuli panggul segala, ternyata oh ternyata di konferensi pers nggak taunya bos besarnya. Huh!"


Reyn seketika terkekeh, wajah protes Rose terlihat lucu dimatanya. Laki-laki itu membuka dompetnya lalu mengambil satu kartu platinum dari dalamnya.


"Ini cukup?" Sodor Reyn. Rose memandangi benda pipih ditangan Reyn sesaat, lalu dengan cepat menyambarnya tanpa sungkan.


"Serius! Ini buat Rose," gadis itu beralih menatap wajah suaminya tak percaya. Ia memang memiliki tabungan sendiri, tapi kartunya hanya sebatas berwarna biru.


Reyn mengangguk dengan senyum yang turut terbit di bibirnya.


"Yeay!! Mas Reyn memang terbaik!" Rose bersorak, lalu berlari membawa tas sekolahnya meninggalkan meja makan begitu saja saking girangnya.


"Tunggu Rose! Mau kemana?" Reyn melongo. Bagaimana mungkin dirinya dilupakan begitu saja tanpa sun selamat pagi oleh isterinya itu setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ucapan terima kasih pun tidak.


"Ke sekolah! Ujian hari ini! Rose takut terlambat!" teriak Rose sambil terus berlari kecil meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Reyn hanya bisa menggeleng. Biarlah, begitulah resikonya, batinnya sembari tersenyum.


Mbok Dira yang melihat tingkah kedua majikannya yang sangat kontras, bak langit dan bumi hanya bisa terkikik diam-diam dibelakang Reyn yang belum menyelesaikan sarapannya.


...🍓🍓🍓...


"Kalian pikir saya nggak bisa bayar? Huh! Kalian tidak tahu siapa saya?" Mutiara memukul meja dengan marah. Bagaimana mungkin orang sekelas dirinya, isteri orang nomor satu di kota ini diminta membawa pulang putranya yang belum pulih benar dari rumah sakit karena kekurangan dana.


"Mohon maaf Bu, saya hanya menjalankan tugas." pegawai administrasi rumah sakit itu berucap sedikit menunduk, tetap menunjukan rasa hormatnya pada lawan bicara yang bersikap kasar padanya.


"Mami, cukup. Kita pulang sekarang. Steven lelah, mau istirahat." Pemuda itu lalu memutar kursi rodanya lalu meninggalkan ibunya yang masih menatap tajam pada pegawai rumah sakit.


Dari kaca jendela mobil, ia melihat ibunya menyusul. Akhir-akhir ini, jarang dilihatnya lagi wajah lembut bak seorang Dewi diwajah ibunya, sejak bayi hingga berusia 20 tahun, ia baru melihat sisi lain dari perempuan yang melahirkannya itu.


Sudah hampir seminggu ini Steven tidak merasakan kehadiran para pengamanan disekitarnya, juga ayahnya tidak datang membesuknya di rumah sakit seperti biasanya untuk memberi semangat dalam menjalani terapi tulang yang sangat menyakitkan itu.


Bahkan hari ini ia terpaksa pulang karena deposit untuk biaya perobatannya di rumah sakit umum Tangga Arang itu sudah tidak diisi oleh kedua orang tuanya, dan sopir pribadi ayahnya yang menjemput membuahkan berbagai pertanyaan dalam benaknya, karena sopir itu tidak pernah lalai selalu saja mengantarkan ayahnya kemanapun pergi.


Steven membuka matanya saat merasakan mobil yang membawa dirinya dan ibunya berhenti begitu lama, ternyata mereka sudah ada didepan rumah dinas ayahnya.


Lagi-lagi ia menyaksikan ibunya bertengkar dengan security yang menjaga rumah dinas ayahnya.


"Maaf Bu, rumah ini sudah di kosongkan seminggu yang lalu. Apa pak Farid tidak memberitahukannya pada Ibu?" Laki-laki berseragam keamanan itu tetap bersikap sopan walau telah dibemtak oleh sang mantan majikan.

__ADS_1


"Ini rumah dinas suami saya! Dan didalam sana masih banyak barang-barang pribadi saya! Menyingkir, saya mau masuk!"


Steven mengernyitkan dahinya. Seminggu yang lalu? batin Steven, ia masih menatap pemandangan di depannya, masih mencerna apa yang telah terlewatkan olehnya selama satu minggu terakhir ini.


"Pak, apa yang terjadi? Katakan dengan jujur ada apa sebenarnya?" Steven menatap sopir pribadi ayahnya itu, menanti jawaban atas segala tanyanya.


"Maaf Mas, saya kurang tahu. Saya hanya tahu Papi-nya Mas meminta saya menjemput dan membawa pulang Mas di kediaman pribadinya Bapak, bukan ke rumah dinas ini Mas." sahut sang sopir, ia tidak berani berbicara lebih dari kapasitasnya, khawatir salah ucap.


Steven berfikir sejenak lalu kembali berbicara.


"Kalau begitu, tolong kasih tahu Mami, kita pulang ke rumah Papi saja."


"Tapi Mas, saya nggak berani sama Ibu," sang sopir telihat takut, sebelumnya ia memang sempat diomelin oleh majikan perempuannya itu saat mengatakan pesan majikan laki-lakinya untuk mengantar pulang kerumah pribadi mereka.


"Bilang sama Mami, Steven yang minta Pak. Kalau kaki Steven sudah bisa berjalan, Steven yang akan datang kesana dan berbicara dengan Mami."


"B-baik Mas."


Walau merasa tak nyaman, pak sopir akhirnya tetap menuruti permintaan anak majikannya itu. Ia memang takut dimarahi dan menerima bentakan dari majikan perempuannya itu lagi, tapi rasa ibanya pada Steven membawa langkahnya keluar dari mobil untuk mendatangi sang majikan.


Steven kembali melihat sopir ayahnya itu tertunduk, saat bentakan dan kemarahan ibunya ditujukan pada laki-laki itu. Sementara security yang sebelumnya menjadi sasaran kemarahan ibunya hanya bisa terdiam sambil menggeleng dibelakang Mutiara.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2