My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
82. OTW Berkembang Biak


__ADS_3

"Mau ngapain Mas?" Rose terus bergeser, hingga mentok diujung sofa, tapi Reyn tidak membiarkan isteri bocilnya itu menjauh, terus ikut bergeser sampai Rose tidak bisa menghindar lagi.


"Mau ngajarin bercocok tanam," Reyn menatap Rose penuh maksud terselubung.


"Emang mas Reyn tahu caranya bercocok tanam?" Rose balas menatap penuh kesangsian. Orang seperti suaminya itu tidak mungkin bisa berkotor-kotoran. Pasti hanya mengada-ngada supaya dirinya kagum.


Gadis itu pernah melihat pak Kasim yang mencangkul dilahan kebun samping rumah, sampai berpeluh karena lelah, itupun dibantu oleh mbok Dira yang menaburi biji sesawi dan bermacam biji-bijian lainnya.


"Tau dong. Di land clearing dulu--, di cangkul sampai gembur--, lalu di taburi benih--, tinggal menunggu pertumbuhannya, jangan lupa di siram dan diberi pupuk biar semakin subur," terangnya sambil senyum-senyum sendiri melihat wajah Rose yang memperhatikannya tanpa rasa curiga.


Mendengar penuturan Reyn, Rose sedikit yakin, kalau guru Biologinya ini tidak sekedar tahu teori tapi prakteknya juga.


"Ayo pulang, kita belajar bercocok tanamnya dirumah saja." Reyn bangkit menarik pergelangan tangan Rose untuk ikut dengannya.


"Tapi belum jam pulang," Rose menunjuk jam dinding dengan isyarat wajahnya. Reyn menoleh, menatap jarum jam yang baru menunjukan pukul tiga sore lewat 5 menit.


"Disini aku bosnya, mereka tidak akan protes," Reyn kembali menarik tangan Rose untuk mengikutinya. Rose tidak menolak, gadis itu gegas mengambil tas sekolah dan tas tentengan berisi kotak makanannya.yang sudah kosong.


"Sini Mas bantu," Reyn mengambil alih bawaan Rose, sementara tangan kirinya masih memegang erat pergelangan tangan Rose, tidak sabar ingin cepat tiba di rumah.


"Kami pulang duluan," pamit Reyn begitu melintas didepan meja kerja sekretaris Leony.


"Lalu saya bagaimana Pak? Saya tidak bawa mobil karena tadi pagi dijemput pak Kasim," Nainggolan harap-harap cemas.


"Jangan khawatir pak Nainggolan. Nanti pak Kasim akan antar pulang. Tadi isteri saya kemari bawa mobil sendiri. Iya 'kan Sayang," Reyn menggoyang pelan tangan Rose yang ia pegang sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


"I-iya," Rose mengangguk kikuk. Kenapa hatinya merasa mulai tak aman, seperti ada bahaya yang tengah mengintai.


"Selesaikan saja berkas-berkasnya bersama sekretaris Leony ya Pak, besok selepas makan siang kita bertemu di kantor notaris."


Reyn melepaskan pegangannya pada pergelangan Rose, ia sedikit menekukan lututnya mendapatkan presisi lawyer Nainggolan. "Saya mau OTW berkembang biak dulu. Saya yakin bisa ngejer pak Nainggolan punya anak segudang," bisik Reyn pelan ditelinga pria berumur itu.


Nainggolan terbahak. Rose dan Leony saling pandang penuh tanya, tidak mengerti apa yang sedang ditertawakan.


"Ya ampun, pak Reyn tidak tau saja." Nainggolan masih terus tertawa membayangkan Reyn mau menyusul langkah besarnya. "Kepala saya saja rasanya mau pecah bila ingat rumah," lanjut pria itu lagi masih tertawa lepas, memikirkan saja dirinya enggan, loh malah sang Bos ingin meniru dirinya, ini gila.


Reyn mendengarnya tapi laki-laki itu tidak peduli, ia gegas pergi dan membawa Rose bersamanya.


"Kenapa kepala pak Nainggolan mau pecah kalau ingat rumah?" tanya Rose penasaran. Menatap Reyn yang tengah fokus memegang setir. Mendengarnya, Reyn tersenyum geli sendiri.


"Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke rumah pak Nainggolan, Rose. Nanti kau tau sendiri, apa alasan pria berumur itu berkata demikian," Reyn masih tersenyum sendiri, ingatannya melayang pada situasi rumah Nainggolan, sang lawyer yang sudah banyak membantunya selama sepuluh tahun terakhir.


"Iya Mas," Rose menoleh, menemukan atensi Reyn melirik sekilas kearahnya lalu kembali fokus pada kemudi dan lalu lintas dihadapan mereka.


"Aku memutuskan membeli rumah pak Farid, ayah Steven. Kau tidak keberatan 'kan?" Gadis itu sempat kaget sebentar, dan Reyn menyadarinya.


"Tidak pa-pa 'kan? Aku--, hanya berniat membantu, beliau perlu banyak dana saat ini. Aku tidak tega menolaknya. Aku harap kau maklum, Rose."


Rose terdiam. Pengalaman terakhir dengan ibunya Steven membuatnya tidak mau bersinggungan lagi dengan wanita itu. Tindakan gila Mutiara sudah membuat seisi kota geger, dan ia sangat malu karena menjadi topik perbincangan hangat hingga kini.


Awal masalah besar itu merebak, dirinya diperbincangkan sebagai remaja belia yang menikah dini karena berstatus masih seorang pelajar, dan banyak hujatan terarah padanya. Setelah lebih kesini, pasca konferensi pers pengusaha bernama Reyn Hamdani--suaminya, hujatanpun berubah. Ia mulai di elu-elukan karena beruntung memiliki suami konglomerat. Hal iItu tidak serta-merta membuat Rose berbangga hati, ia malah malu menampakan wajah didepan khalayak umum secara terang-terangan sekarang.

__ADS_1


Bersyukurnya, ia masih bisa mengikuti ujian dengan tenang dan berkonsentrasi dengan baik tanpa merasa terbeban atas apa yang telah menimpanya.


"Rose," Reyn kembali memanggil, menyentuh lembut punggung tangan isterinya yang tengah tenggelam dalan lamunannya.


"Aku--, aku tidak pa-pa Mas. Beliau orang baik, layak Mas bantu." Rose tersenyum lembut lalu balas menyentuh tangan Reyn yang berada diatas punggung tangannya yang lain.


"Terima kasih," Reyn menarik tangannya pelan lalu mengusap lembut pucuk rambut isterinya itu sebelum pria itu kembali berkonsentrasi penuh pada kemudinya.


...🍓🍓🍓...


Dibawah guyuran air shower yang dingin dan menyegarkan, Rose memejamkan matanya, menikmati ritual mandinya. Beberapa hari menjalani ujian kelulusan, membuatnya sering terburu-buru bila berada dikamar mandi, berusaha menggunakan waktu se-efisien mungkin.


Rose menegang, saat sepasang tangan melingkar diperut ratanya.


"B-bagaimana Mas bisa masuk? Aku sudah menguncinya," Rose menahan nafas, detak jantungnya seketika berpacu lebih cepat.


"Ini rumahku, aku akan selalu punya cara untuk masuk," bisik Reyn dengan nafasnya yang sudah menderu. Ia menyandarkan dagunya dipundak putih Rose.


"Jangan begini Mas. Bukankah kita akan berkebun sore ini selepas mandi? Mas akan mengajariku bagaimana caranya bercocok tanam," Rose berusaha meredakan detak jantungnya yang semakin memacu tidak beraturan.


"Mas akan mengajarimu bercocok tanamnya di sini," Reyn membalikan tubuh Rose. Gadis itu serta merta menutupi bagian dada dan pangkal pahanya dengan dua tangannya.


Malu, tentu saja. Rose masih belum siap bila Reyn melihat tubuh polosnya.


Bersamaan dengan itu Rose baru menyadari istilah bercocok tanam.yang suaminya maksud, degup jantungnya semakin menjadi memikirkan hal yang akan terjadi diwaktu berikutnya.

__ADS_1


"Bundaa! Tolongin Rose!" pekik gadis itu didalam hati melihat si belalai gajah nangkring bersama temannya, dua telur dinosaurus. Rose sontak memejamkan matanya.


Bersambung...👉


__ADS_2