
"Saat dia mengatakan tidur bersama Chris, aku tidak percaya padanya. Zareena bukan wanita seperti itu." Tristan menggeleng, ia tidak menerima jika sampai Zareena memang benar tidur bersama pria lain selain dirinya.
"Kau yang membuatnya begitu, Tris. Kau keterlaluan."
"Itu karena dia yang tidak jujur padaku."
"Kalau dia jujur, apa yang ingin kau lakukan? Kau juga tidak akan menikahi dia, kan? Kau sudah berniat untuk terus melajang sampai akhir hidupmu. Lalu tiba-tiba kau menggagalkan pertunangan adik sahabatmu sendiri. Kalau aku jadi Valdo, aku pasti akan marah juga," tutur Miles.
"Jangan lagi membahasnya, aku merasa bersalah juga kesal bila mengingat pertunangan itu."
"Kau hubungi aku saja kapan kita berangkat ke sana." Miles bangun dari duduknya. "Aku pulang."
"Terima kasih atas bantuanmu."
Miles menepuk pundak temannya itu. "Lain kali, aku juga perlu bantuanmu."
Tristan mengantar Miles sampai di depan lift. Keduanya saling merangkul lebih dulu, kemudian berpisah saat Miles sudah masuk ke lift.
"Zareena, aku akan membawamu pulang sayang." Tristan melompat girang dan itu tidak luput dari perhatian dua sekretaris pribadinya.
__ADS_1
Menyadari hal itu, Tristan mengubah raut wajahnya lagi. Ia berdeham, mempertahankan wibawanya, lalu berjalan gagah masuk ke ruangan kerja.
Sementara Zareena tengah memeluk Brian saat ini. Ia merangkul pria itu karena telah berjasa. Selain rumah sewa, Brian berhasil mencarikan pekerjaan untuknya di sebuah toko roti.
Pemiliknya seorang wanita tua, tetapi sudah diteruskan kepada sang anak yang umurnya seperti Mary, ibu dari Zareena. Mereka membuat banyak roti, tetapi salah satu asisten wanita itu mengundurkan diri.
"Bisakah bayarannya dengan kau menjadi kekasihku?" Brian masih belum menyerah.
"Kau sudah kuanggap sebagai sahabatku, Brian." Zareena melepas pelukannya. "Terima kasih atas bantuanmu."
Colin terbahak mendengarnya. Lagi-lagi Brian ditolak oleh Zareena. Ya, memang siapa yang ingin menjadi kekasih pria itu, jika pernyataan cinta Brian saja terlihat seperti bercanda.
"Besok aku harus pulang. Kau baik-baiklah disini, Zaree," ucap Colin.
"Besok kau sudah masuk kerja. Biarkan Brian saja yang mengantarku."
"Itu sangat disayangkan." Zareena menyesalinya.
Colin merangkul pundak Zareena. "Tidak apa-apa. Malam ini kita masih bersama."
__ADS_1
"Melihat kalian berdua, aku ingin menangis. Ayolah, Cumbria dan London tidak terlalu jauh. Kau bisa mengendarai mobil singkat dalam waktu enam jam bila ingin sampai kemari. Kalian malah seperti akan berpisah ke luar negara."
Dasar Brian yang selalu saja membuat kesal. Tengah dalam keadaan haru, pria itu seenaknya menyela obrolan. Suasana yang tadi sedih, berubah menjadi kekesalan.
"Kau ke tempatku saja. Aku ingin mengajakmu makan malam."
Colin mengangguk. "Aku akan menyaksikan seorang koki hebat memasak. Ini pemandangan langka."
"Zaree, kau tidak mengundangku?" Brian menyela lagi.
Zareena tersenyum. "Tentu kau juga, Brian. Tapi sebelumnya, kita harus berbelanja dulu."
"Aku akan datang pas di jam makan malam."
"Kau ingin ke mana, Brian?" tanya Colin.
"Aku juga banyak kerjaan. Ada mobil tua yang harus kuperbaiki. Aku duluan kalau begitu." Brian tersenyum licik, ia berjalan cepat, lalu menyempatkan diri untuk dapat mengecup pipi Zareena.
"Awas kau, Brian!" teriak Zareena.
__ADS_1
Namun, pria itu tidak peduli. Brian berlari meninggalkan keduanya yang mematung di depan luar kafe.
Bersambung