
Jika Colin pulang, maka Tristan tiba. Keduanya hanya berbeda jarak jam untuk sampai ke tempat masing-masing. Tristan dan Miles juga menumpang kereta menuju Cumbria. Awalnya Tristan ingin mengendarai mobil, tetapi Miles malas untuk bergantian menyetir. Miles ingin, tetapi harus melakukan pemberhentian di Motel untuk bersenang-senang. Tapi, Tristan menolak, karena ia ingin lekas sampai.
Sore hari, keduanya tiba di kabupaten Cumbria dengan satu misi, yaitu membawa Zareena pulang dan mengungkapkan cinta. Demi apa, detak jantung Tristan berdegup kencang membayangkan itu. Mungkin juga karena ia sudah jatuh cinta pada Zareena.
"Sekarang apa?" tanya Miles.
"Tentu saja mencari penginapan. Ayo, kita temui pria pemandu wisata itu." Tristan menunjuk pria sekitaran umur mereka yang membagikan brosur kunjungan.
"Hei, Bung. Tunjukkan kami wisata di sini," ucap Tristan.
"Namaku Tedd. Silakan untuk melihatnya dulu." Pria itu memberi brosur.
"Tidak perlu. Kau bawa saja kami ke hotel, lalu tunjukkan saja tempat penyewaan mobil." Tristan mengeluarkan dompet, lalu memberi sejumlah uang.
Tanpa ragu, Tedd mengambil uangnya. "Ikut denganku."
"Kau tahu tempat bersenang-senang di sini?" Giliran Miles yang bertanya.
"Di sini ada beberapa pub, tapi yang terkenal pub Hilton."
__ADS_1
Miles menepuk pundak Tristan. "Wah, Tris. Kita bisa bersenang-senang di sini."
"Aku tidak peduli dengan urusanmu. Aku kemari hanya untuk menemui Zareena."
Tedd membuka pintu penumpang untuk keduanya. "Masuklah ...."
Tristan melepas ranselnya, lalu masuk ke kursi belakang, begitu juga Miles yang duduk di bagian samping pengemudi.
Tedd menyalakan mesin, lalu mengendarainya keluar dari stasiun. Perjalanan menuju desa yang Tristan sebutkan tadi. Tedd mencarikan hotel terbaik, lalu mobil yang bisa disewa selama beberapa hari.
Sampai di hotel, maka berakhir sudah tugas Tedd. Tristan dan Miles masing-masing menyewa kamar untuk mereka. Tristan tidak akan pernah meminta Miles bergabung bersamanya dalam satu ruangan.
"Ya, kau benar. Kita pergi makan dulu, setelah itu beristirahat."
"Kau yakin tidak ingin bersenang-senang dulu?"
"Sudah berapa kali aku bilang kalau aku hanya ingin menemui Zareena."
"Baiklah, terserah kau saja. Kita letakkan tas dulu ke kamar, habis itu kita makan malam bersama." Miles membuka kunci kamar hotelnya, lalu masuk.
__ADS_1
Kemudian Tristan juga melakukan hal sama karena kamar mereka bersebelahan. Tidak lama keduanya keluar lagi untuk mencari makan.
Tristan dan Miles berjalan kaki mencari restoran atau kafe. Sengaja keduanya tidak makan di hotel karena memang sekalian ingin melihat-lihat.
Tanpa keduanya sadari, asik berjalan seraya mengobrol, lokasi hotel sudah jauh dari mereka. Miles menyempatkan selfi dengan latar bangunan yang warna cat-nya seragam.
"Sudahi kegiatanmu itu. Kita ke restoran itu saja." Tristan menunjuk restoran HawsFood.
"Aku sudah lapar sekali. Di sini sangat indah, Tristan. Waktu siang hari, kau bisa jalan-jalan atau berfoto. Lalu, sore hari kau bisa santai di kedai kopi di bagian bangku luar."
Panjang lebar Miles berkata, tetapi Tristan tidak mempedulikannya. Pria itu langsung masuk ke restoran, memanggil pelayan, lalu memesan makanan.
"Duduklah, kau mengoceh terus dari tadi.Tristan memilih meja di dekat jendela kaca. Sembari menikmati hidangan, ia bisa melihat suasana luar.
"Aku mengatakan padamu kalau tempat ini sangat bagus." Miles sedikit kesal karena Tristan mengabaikannya. "Jangan terus memikirkan Zareena. Kau bisa gila nanti."
Tristan tidak peduli akan ucapan Miles. Ia memang sudah gila. Lebih tepatnya tergila-gila pada Zareena.
Bersambung
__ADS_1