
Perjalanan ke Pulau Milos harus berakhir. Tristan membawa Zareena menuju Swiss, tepatnya di desa Lauterbrunnen. Salah satu desa terindah yang berada di negeri itu. Letaknya hanya 70 kilometer dari kota Bern.
"Selamat datang di rumah!" Tristan merentangkan tangan, memperlihatkan rumah kayu bercat cokelat tua yang dikelilingi rumput hijau di sekitarnya. Begitu indah terlebih Zareena dapat melihat pengunungan menjulang tinggi dari posisi rumah Tristan.
"Kau tunggu di sini."
"Kau mau ke mana?" Zareena tidak ingin pria itu meninggalkannya seorang diri.
"Kita tidak bisa masuk kalau tidak ada kunci. Sebentar saja, Sayang. Rumahnya tidak jauh dari sini."
Tristan berlari menuju rumah yang tidak jauh dari kediamannya. Zareena dapat melihat pria itu mengetuk pintu, lalu memeluk seorang pria paruh baya.
Tidak lama Tristan berlari kecil dengan memperlihatkan kunci yang ia pegang. Zareena melebarkan senyumnya, dan mengira kalau pria itu terlihat bahagia setelah sampai di sini.
"Kau sedikit bahagia setelah tiba di sini."
Tristan tertawa mendengarnya. "Tentu saja aku bahagia berada di sini. Pertama karena tempatnya indah, lalu ada kau bersamaku." Tristan mendaratkan kecupan di pipi. "Ayo, kita masuk."
Zareena menyeret kopernya masuk ketika Tristan telah membuka pintu. Rumah yang begitu hangat. Ada perapian di bawah lukisan seorang wanita penjahit. Lalu, buku-buku klasik yang tersusun rapi di rak buku yang menempel di dinding. Kemudian ada bar kecil yang diisi minuman anggur koleksi Tristan. Dinding lainnya juga dipasang lukisan, juga ada potret Tristan kecil hingga dewasa.
"Pertanyaannya adalah, kapan kau mengunjungi tempat ini?" Zareena mengambil satu buku tebal bersampul cokelat. "Kau sungguh mengoleksi buku klasik ini?"
__ADS_1
"Setiap tahun aku datang kemari. Lebih sering pada musim gugur. Untuk buku yang kau pegang, sejujurnya, aku belum membacanya. Aku suka mengoleksi buku, tetapi aku malas membaca."
"Kau hebat, Tris."
"Aku memang hebat." Tristan begitu bangga pada dirinya sendiri.
"Dalam hal menghabiskan uang," Zareena menambahkan.
Tristan tertawa mendengarnya. "Kamar kita ada di sana. Kau bersihkan dulu dirimu."
"Apa ...."
"Maksudku, aku sedikit lapar," ucap Zareena.
"Kau mandi saja dulu. Makanannya akan siap dalam beberapa menit."
"Kau akan memasak?" Zareena tidak percaya ini.
"Kau boleh mencobanya," sahut Tristan.
Zareena langsung melangkah menuju kamar yang ditunjukkan Tristan. Sementara pria itu membuka kulkas, meraih daging ayam, lemon, serta bahan lainnya.
__ADS_1
Lemari es itu telah diisi bahan makanan sesuai permintaan Tristan pada pengurus rumahnya. Tidak ada kesulitan untuk tinggal selama beberapa hari di sana.
Tristan melumuri daging ayam itu dengan potongan lemon. Mendiamkannya sebentar selagi menyiapkan bumbu bakar serta nampan pemanggang.
Sebelum dipanggang, daging itu terlebih dahulu di kukus. Aroma dari bumbu yang menyerap dapat tercium, membangkitkan selera makan Tristan yang memang sudah lapar. Mereka tiba sore hari dan makanan ini akan menjadi menu makan malam bersama Zareena.
Aroma itu terhirup oleh Zareena yang telah selesai membersihkan diri. Ia lekas menyusul Tristan menuju dapur, duduk di meja bar menunggu sampai daging ayam itu selesai dipanggang.
"Perutku sudah lapar," kata Zareena.
Tristan menoleh, lalu tersenyum. "Sebentar lagi akan siap. Oh, ya, kau ingin minum anggur?"
"Aku tidak terbiasa minum."
"Jangan pura-pura. Dasar kau ini."
Zareena tertawa. "Tequila 710, kurasa itu cocok disantap bersama daging ayam panggang."
"Sesuai keinginanmu."
Bersambung
__ADS_1