My Hot Baby

My Hot Baby
Siapa Yang Tahu


__ADS_3

Kakak dan orang tua Zareena sudah kembali ke London. Dengan berat hati Tristan mengantar wanitanya itu ke rumah. Meski Zareena membujuknya kalau mereka akan sering bertemu, tetap saja Tristan tidak rela kehilangan guling tidurnya.


Zareena juga tidak mungkin langsung meminta izin liburan di tengah kondisi keluarganya yang sempat tertimpa masalah. Dari itu, ia meminta Tristan untuk menunda liburan dua sampai tiga minggu ke depan.


"Ayo, turun. Keluargamu sudah menunggu," ucap Tristan seraya mengulurkan tangannya.


Zareena menyambut uluran tangan itu, lalu keluar dari mobil. Pelayan sudah hadir menyambut serta membawa koper bawaan anak majikannya.


"Aku pulang, tetapi kau tampak sedih," ucap Zareena.


"Malam ini aku akan kesepian."


"Sudahlah, lebih baik kita masuk," kata Zareena yang langsung melepas genggaman tangannya dari Tristan.


"Dia sangat bahagia bertemu keluarganya," gumam Tristan.


"Mama, Papa!" seru Zareena yang langsung memeluk Mary serta Henry.


"Kami merindukanmu, Sayang," ucap keduanya.


"Hai, Valdo," sapa Tristan dengan menepuk punggung sahabatnya itu.


"Terima kasih sudah menjaga adikku."


"Itu sudah tugasku."

__ADS_1


"Kalian tidak bertengkar, kan?" tanya Valdo.


"Kenapa kami harus bertengkar?"


"Bukannya kau dan Zareena sering beradu mulut? Aku takut kau malah mengusirnya. Jika sampai kau melakukan itu, aku akan membuat perhitungan padamu."


"Kau ini terlalu berlebihan. Tentu saja aku menjaga adik kesayanganmu itu."


"Tris, terima kasih sudah menjaga Zareena," ucap Mary.


Tristan tersenyum. "Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya memberinya kamar untuk ditiduri."


"Tetap saja kami harus berterima kasih padamu. Masalah di Amerika sudah terselesaikan. Kami sungguh tidak mengira terkena teror seperti itu," Henry menyela dengan mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Ya, musibah bisa saja terjadi, tetapi aku senang kalian baik-baik saja," sahut Tristan.


Belva beranjak dari duduknya mengikuti sang ibu mertua serta Zareena. Sementara ketiga pria itu mulai bicara bisnis. Hanya itu yang menjadi topik bila lelaki yang berprofesi sebagai pengusaha bertemu.


Tidak lama Zareena datang memanggil agar semuanya menuju ruang makan. Henry dan Valdo jalan lebih dulu, sedangkan Tristan sengaja untuk tetap tinggal.


"Ini di rumahku. Tidak ada kecupan bibir untukmu. Setidaknya untuk hari ini," kata Zareena.


"Kau ini tahu saja aku ingin melakukan apa."


"Begitulah pikiranmu. Di dalam otakmu itu selalu saja berpikir untuk menyentuhku."

__ADS_1


"Satu kecupan kecil," pinta Tristan.


"Pergilah ke ruang makan dengan segera."


"Aku akan pergi setelah mendapatkan apa yang kuinginkan."


"Hei, Tristan!"


Keduanya terlonjak kaget, dan sama-sama menoleh pada sosok yang menegur. Valdo berkacak pinggang menatap keduanya yang sepertinya enggan untuk datang mengisi perut.


"Kau ini tidak mau jauh dariku, ya?" ucap Tristan.


"Ya, aku tidak bisa jauh darimu. Kau itu, kan, belahan jiwaku," sahut Valdo.


Zareena mengedikkan bahu. "Kalian menjijikkan."


"Aku normal, Zareena," ucap Tristan.


"Aku bahkan sudah punya istri," Valdo menimpali.


"Setidaknya aku pernah memergoki kalian tanpa busana yang pantas dan kurasa kalian ada main," kata Zareena.


"Kau!" Tristan tidak ingin membongkar apa telah ia dan Zareena lakukan selama di rumah. "Kau perlu bukti?"


Zareena tertawa. "Aku sangat takut dengan pria berotot. Mereka bisa saja menyembunyikan hal yang sesungguhnya."

__ADS_1


Tristan terperangah mendengarnya, sedangkan.Valdo malah ikut tertawa. Jika bukan di rumah orang tua wanita itu, Tristan pasti akan langsung membawa Zareena ke atas tempat tidur.


Bersambung


__ADS_2