
Tristan memegang tangan Zareena. "Ikut denganku."
Zareena mencoba melepas lengannya dari pria itu. "Aku tidak mau ikut."
"Ikut!" Tristan menekankan suaranya.
Pria itu mengangkat Zareena seperti karung beras menuju mobil. Jika Zareena memukul punggung belakang Tristan, maka kebalikannya. Tristan menekan bagian terlarang milik wanita itu. Cara efektif yang bisa membuat Zareena terdiam.
Pintu mobil belakang dibuka. Tristan membawa Zareena masuk dalam mobil, lalu menutup pintunya. Saat ia berlari menuju pintu bagian sopir, Zareena keluar, dan berlari pergi.
"Sialan!" Tristan mengejarnya. "Zareena!"
Lari Zareena kalah cepat dari Tristan. Pria itu berhasil menangkapnya lagi. "Lepaskan aku, Tris!"
"Aku bisa gila menghadapimu."
"Tolong aku, Tuan!" Zareena berteriak pada seorang pria tua yang bersepeda.
"Dia istriku. Dia mau lari bersama kekasihnya. Pergilah!" Tristan menyahut.
Pria itu terlihat bingung pada keduanya. Ia menoleh kiri dan kanan, tetapi tidak ada siapa pun. Otomatis pria tua itu melanjutkan lagi olahraga bersepedanya.
Tristan membawa Zareena masuk mobil bersama-sama. Keadaan yang sempit tetap pria itu dipaksakan sampai Zareena mengumpat karena kepalanya terbentur pada bagian atas mobil.
Tristan segera mengunci mobil secara otomatis, dan sekarang Zareena tidak bisa ke mana-mana. Keduanya berada di kursi bagian belakang. Kemudian ia membuka pakaiannya.
__ADS_1
"Jangan bergerak." Tristan mengikat kedua tangan Zareena.
"Tolong!" teriak Zareena. "Emma ... tolong aku."
"Pelayan rumah sewamu itu? Aku sudah menyuruhnya ke pasar tadi. Aku bilang saja kau memerlukan sesuatu."
Zareena mendelik, ia membenturkan kepalanya pada kepala Tristan, dan itu membuatnya juga merasa sakit.
"Kepalaku."
"Siapa suruh kau membenturkannya." Tristan juga merasakan sakit. "Kau pikir ini seperti di film? Aku akan pingsan dengan kau membenturkan kepalamu. Sekarang kita berdua malah kesakitan."
"Kau mau apa?"
"Kau harus kuhukum, Zaree."
"Aku tidak sudi. Kau binatang!" Tanpa ragu Zareena mengumpat.
Tristan tertawa. "Kau sudah lihat betapa liarnya aku di atas tempat tidur. Kali ini, akan kupastikan kau mengandung anakku."
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu bila kau menyentuhku."
"Aku tidak akan menyentuhmu sekarang. Aku akan menyentuhmu setelah kau resmi menjadi istriku." Tristan meraih telepon genggamnya yang berada di saku celana, lalu men-dial nomor orang yang dituju. "Miles, kau sudah siapkan semuanya."
"Ya, kau cepatlah datang bersama Zaree." Suara Miles menjawab.
__ADS_1
Tristan tersenyum. "Aku segera datang." Lalu ia memandang Zareena. Mengecup kening wanita itu dengan lembut. "Tadinya aku tidak ingin melakukan ini. Karena kau bersikeras, maka aku terpaksa melakukan pemaksaan padamu."
"Kau mau bawa ke mana?" tanya Zareena.
"Kita akan menikah hari ini juga."
"Apa?"
"Jangan kaget begitu." Tristan berpindah posisi dengan maju ke kursi kemudi. "Kita akan segera sampai, Sayang. Kau milikku, dan aku milikmu."
"Aku tidak mau!" tolak Zareena.
"Tapi aku mau." Tristan menjawab seraya menghidupkan mesin mobil, lalu mengemudikannya menuju tempat yang dimaksud Miles.
Sampai di tujuan, Zareena tidak menyangka jika Tristan sungguh membuktikan ucapannya. Sekarang mereka berada di gereja, dan Miles ... ya, pria itu tersenyum lebar menyambut sepasang calon pengantin.
"Biar aku yang buka, Miles." Tristan mencegah lebih dulu sahabatnya membuka pintu mobil. "Aku mengikat Zareena di dalam."
Miles tercengang. "Kau menyakitinya, Bung."
"Dia mau lari. Aku terpaksa melakukannya."
"Pasangan aneh," cerca Miles. "Menikah saja susah."
Bersambung
__ADS_1