
Tristan tidak tahu apa yang membuat ia sangat marah. Ia ingin meluapkan segala amarah yang membuncah akibat perkataan yang dilontarkan oleh Zareena.
Cinta, pernikahan, status yang mengikat. Membuat Tristan kesal bila mengingatnya. Ia meneguk minuman beralkohol langsung dari botolnya, kemudian melempar wadah itu begitu saja.
Ia sendiri tidak tahu, kenapa sampai harus menderita seperti ini. Apa yang dikatakan Zareena memang benar. Mereka tidak punya hubungan apa pun. Meski begitu, Tristan selalu menginginkan wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya itu. Wanita yang selalu terlintas dalam pikirannya, dan selalu dirindukannya.
Trista menggeleng. "Aku pastikan kau tidak akan bertunangan dengan pria bernama Chris itu. Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti."
Satu botol minuman beralkohol Tristan lempar ke lantai. Pelayan yang melihat itu, cuma bisa mematung, mereka akan membersihkan serpihan kaca tersebut bila sang majikan telah puas meluapkan amarahnya.
Tristan terhuyung, ketika pelayan ingin membantu, ia mengangkat tangan. " Aku bisa mengurus diriku. Kalian bereskan kekacauan ini."
Asisten rumah tangga cuma bisa mematuhi perintah sang majikan. Tristan melangkah gontai menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
__ADS_1
"Zareena, kau tidak akan bahagia," gumam Tristan.
Sementara itu, Zareena tidak langsung pulang ke rumah. Ia merenung di salah satu kedai es krim di pinggir jalan. Dingin dan manisnya lelehan es krim membuat suasana hatinya sedikit membaik.
Seenaknya saja Tristan menyuruhnya membatalkan pertunangan. Andai Zareena menuruti permintaan itu, apa dia akan terus menjadi teman kencan? Apa ia akan selalu berada di atas tempat tidur pria itu tanpa ikatan yang sah? Zareena bukan wanita yang ingin hidup bersama dengan seorang pria. Ia ingin tinggal bersama dengan seorang pria, tetapi harus ada ikatan pernikahan.
Zareena juga tahu saat ini ia tidak mencintai Chris, tetapi pria yang ingin bertanggung jawab dan setia adalah seorang lelaki yang pantas dipilih. Soal cinta, ia yakin benih itu akan datang seiring berjalannya waktu.
Satu hari terlewat begitu saja. Tidak ada tanda Tristan menelepon atau mengirim pesan. Sudah tidak diganggu, Zareena merasa kehilangan.
Kedua keluarga juga sepakat jika pertunangan ini hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja. Tema kebersamaan yang Zareena ambil untuk pestanya nanti.
Selalu saja setiap berdekatan dengan Chris, Zareena dapat menghirup aroma khas rumah sakit. Karena memang Chris menemui calon istrinya setelah ia pulang bekerja.
__ADS_1
"Kau tidak sempat pulang ke rumah?" tanya Zareena.
"Aku terlalu merindukanmu, makanya tidak sempat pulang, dan sore nanti aku ada jadwal mengganti teman tugas. Aku harus bekerja lembur agar dapat meluangkan dua hari untuk pesta pertunangan kita."
Zareena tersenyum. "Seharusnya kau istirahat saja. Aku tidak apa-apa kalau kita membatalkan acara makan siang ini."
Chris meraih tangan Zareena. "Besok kita tidak bisa bertemu. Aku sedikit sibuk."
Zareena tertawa. "Baiklah, kita langsung berangkat ke restoran saja."
Chris merangkul pinggang ramping kekasihnya. Keduanya saling menatap, Chris mendekatkan wajah, lalu bertemulah dua bibir yang saling mendamba.
Namun, tanpa Zareena sadari, tepat di depan gerbang rumahnya, Tristan berdiri mematung menyaksikan pemandangan itu. Zareena, wanita yang ia ambil sarinya pertama kali, kini telah dihirup oleh kumbang yang lain.
__ADS_1
Bersambung