
Makan malam dilalui dengan obrolan ringan antara Zareena dan Chris. Pria di hadapan Zareena ini lebih banyak membicarakan tentang pekerjaannya, pasien yang ditangani juga rekan kerja sesama dokter.
Sebenarnya Zareena sangat bosan akan pembahasan yang sebenarnya tidak ia mengerti. Kata asing dalam bidang kedokteran yang tercetus dari bibir Chris. Mungkin Zareena akan mencari tahu di internet arti dari istilah itu setelah ia sampai di rumah.
Zareena menggeser kursi, lalu mengangkat piring kotor. "Aku akan bereskan meja makan sebelum pulang."
"Biar aku bantu."
"Tidak perlu, Chris. Kau duduk saja," sanggah Zareena.
Chris pasrah jika calon istrinya sudah berkata demikian. Ia cuma memperhatikan Zareena saja yang sigap membersihkan semua. Chris mengulurkan lap untuk Zareena mengusap tangannya.
Wanita itu tersenyum. Chris memandang lekat wajah rupawan itu. Menutup celah tubuh di antara mereka. Jari saling bersentuhan, lalu berubah menjadi genggaman. Hangat napas mereka saling mengikat lebih dulu, lalu dua pasang bibir itu saling menyatu.
Keduanya sama-sama canggung. Zareena lekas melangkah meraih tas punggung yang terletak di sofa. Begitu juga Chris, dengan cepat mengambil kunci mobil di atas bufet pajangan.
"Aku harus pulang," ucap Zareena.
"Aku tahu, Zaree."
__ADS_1
Keduanya malah tertawa bersama. Chris mengulurkan tangan, dan Zareena menyambutnya. Kecanggungan itu berakhir begitu saja.
Chris terus menggenggam tangan Zareena sampai mereka tiba di depan mobil. Mempersilakan Zareena masuk lebih dulu, barulah ia menyusul.
"Kau sungguh tidak ingin ke suatu tempat?" tanya Chris.
Zareena menggeleng. "Seharian aku bersamamu. Lebih baik aku segera pulang."
Chris mengangguk. "Baiklah." Lalu, menghidupkan mesin, kemudian mengendarainya keluar area gedung apartemen.
Sampai di kediaman Zareena, Chris menyempatkan mampir sebentar menyapa kedua calon mertuanya. Karena dari wajah Zareena tampak lelah, Chris pun memutuskan untuk pulang.
"Aku akan meneleponmu ketika sampai apartemen nanti." Chris mendaratkan kecupan di kening, lalu segera masuk dalam mobil.
Belum sempat penjaga menutup gerbang, mobil silver metalik muncul. Pengemudi di dalamnya turun, dan berlari menghampiri.
Tristan meraih tangan wanitanya. "Kau ke mana saja? Kau mengabaikanku, Zaree."
"Tris, kenapa kau di sini?" Zareena menoleh ke belakang. "Ayo, ikut aku."
__ADS_1
Zareena membawa Tristan masuk mobil kembali, memberitahu penjaga untuk tutup mulut kalau ia bersama Tristan. Orang tuanya pasti akan marah mengetahui fakta itu.
Tristan menjalankan mobilnya. Tidak jauh dari rumah Zareena, ia menepi. Tristan menoleh pada wanita di sampingnya yang hanya diam saja.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Zareena memandangnya. "Aku harus bilang apa? Tidak bolehkah aku mengabaikanmu? Aku punya banyak kegiatan. Aku ingin sendirian."
"Kalau kau ingin menghibur diri, kau bisa mengatakannya padaku. Aku menyayangkan kenapa kau tidak membalas pesan dan meneleponku."
"Aku tidak punya kesempatan saja. Saat ini, aku ingin bersenang-senang bersama temanku. Kita sudah bersama selama dua minggu, kan? Itu sudah cukup, Tristan," ucap Zareena.
"Setidaknya balas pesanku. Kau tidak marah karena aku tidak memberitahumu tentang Lily, kan?"
"Tidak ada alasan untuk marah," jawab Zareena. "Sekarang, antar aku pulang. Aku lelah seharian ini."
Tristan mengenggam tangan itu, tetapi Zareena lekas melepasnya. "Kau sungguh marah."
"Kumohon, Tris."
__ADS_1
Tristan mendecakkan lidah. "Oke, aku memberimu waktu untuk bersenang-senang. Aku tidak akan menganggumu."
Bersambung