My Hot Baby

My Hot Baby
Menguntit


__ADS_3

Selesai makan siang, Chris membawa Zareena menuju mal. Masih ada sisa waktu sampai ia harus kembali ke rumah sakit. Kebetulan Zareena ingin ke pusat perbelanjaan, membeli perlengkapan souvenir yang dirasa kurang.


"Aku ingin memberi hadiah untuk teman baikku. Sebagai kenang-kenangan di hari istimewa kita." Zareena berkata dengan antusias.


"Bagaimana kalau jurnal?"


Saran dari Chris yang membuat kening Zareena berkerut. "Jurnal?"


Chris mengangguk. "Ya, jurnal bisa dibawa ke mana saja dan mereka bisa menuliskan kisah atau hal penting di sana. Memang barang murah, sih. Tapi, jika kita memberi sesuatu, maka barang itu harus berguna, kan?"


Zareena berhambur memeluk Chris. "Untuk ini aku sangat setuju padamu."


"Kita cari model vintage. Ini akan terkesan unik."


Zareena mengangguk. "Kau benar."


Setiap manusia tidak ada yang sempurna, termasuk Chris. Ada kelebihan dan kekurangan dari pria itu. Chris mungkin sangat membosankan, tetapi pemuda itu begitu pintar.


"Ada berapa orang sahabatmu?" tanya Chris.


"Belahan jiwaku hanya Colin, tetapi aku mengundang sekitar lima teman dekat. Lalu, kau?"


"Hanya dua orang yang paling dekat. Lagian ini pertunangan tertutup, kan? Aku hanya mengundang sedikit saja."


"Jadi, aku akan membeli jurnal sebanyak delapan buah." Zareena menunjukkan jurnal warnal cokelat tua. "Yang ini bagus, kan? Tidak terlalu besar dan kecil."

__ADS_1


Chris mengangguk. "Ya, kita ambil yang itu."


Delapan buah jurnal berhasil dibeli. Ketika Zareena ingin meminta Chris menemaninya ke toko baju, pria itu tidak punya waktu. Chris harus kembali ke rumah sakit.


"Aku akan mengantarmu pulang dulu."


"Tapi, aku masih ingin belanja." Mumpung sudah berada di mal, Zareena ingin belanja barang apa saja yang ia butuhkan. "Aku bisa pulang sendiri, kau kembali ke rumah sakit saja."


"Tapi aku tidak merasa nyaman meninggalkanmu."


"Tidak apa-apa, Chris. Kau bekerja saja."


"Barang belanjaan yang ada di tanganku ini, lebih baik aku bawa saja. Bagaimana?"


"Biar aku saja yang bawa. Aku akan kesal jika tidak bisa membongkar belanjaan ini di rumah," kata Zareena seraya mengambil alih kantong belanjaan dari Chris.


Zareena mengangguk. "Iya, aku tidak akan lama."


Chris mendaratkan kecupan di kening sebelum berpisah. Lalu, berjalan pergi. Sementara Zareena langsung saja menuju toko pakaian.


Pilihan Zareena jatuh pada mini dress bermotif vintage. Ia ingat punya sepatu boot hitam serta topi baret. Zareena ingin memakai semua itu pada musim gugur yang akan datang.


"Seharusnya kau mencari gaun bukan baju untuk jalan-jalan."


Zareena menoleh ke belakang. "Kau mengikutiku, Tris."

__ADS_1


"Ya, cukup untuk melihat kau memeluk pria itu."


"Kau tidak punya pekerjaan."


"Aku punya pekerjaan."


"Menguntitku. Kau punya pekerjaan baru sekarang." Zareena melangkah pergi, tetapi Tristan mengikutinya.


"Kau yakin ingin menikahi pria itu?"


"Kenapa tidak?"


"Kau mencintainya?" Tristan meraih lengan Zareena. "Jawab aku. Kau mencintainya?"


"Jawaban apa yang akan membuatmu puas? Apa maumu, Tristan? Kenapa kau mengangguku?"


"Aku tidak menganggu, tetapi aku tidak terima dipermainkan. Kau masuk begitu saja di kehidupanku, lalu kau pergi. Kau menyiksaku. Kau berkhianat."


Zareena tertawa getir. "Berkhianat? Kau ini bodoh atau apa?"


"Kau mempermainkanku, dan aku akan membalas rasa sakit ini."


"Terserah apa yang ingin kau lakukan. Tapi pikirkan kalau kita selama ini tidak ada hubungan." Zareena menatap tajam Tristan. Ia siap menerima tantangan dari pria itu.


Tristan mengangguk. "Baik, kau tunggu tanggal mainnya."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2