
Zareena lari menuju lantai teratas. Tujuannya hanya satu, yaitu kamar pria itu. Tristan tentu saja tidak tinggal diam. Ia menyusul Zareena, dan akan mencegah hal buruk yang mungkin saja dilakukan wanita itu.
Zareena masuk kamar, membuka lemari, lalu membongkar baju-baju Tristan. Sudah pasti tujuannya adalah mencari kenangan dari Lily. Zareena tersenyum ketika melihat kotak kecil yang ditaruh Tristan di rak paling bawah.
Tristan melotot melihat itu. "Letakkan itu di tempatnya, Zareena."
Zareena membuka kotak itu. Berisi foto, perhiasan, kartu surat, serta pajangan couple. Mungkin Tristan membelinya untuk Lily ketika hari jadi mereka atau di hari Valentine.
Pertama, Zareena mengeluarkan bola salju yang di dalamnya terdapat ukiran pasangan pengantin yang tertera nama Tristan dan Lily. Zareena melemparnya ke dinding.
"Zareena!" teriak Tristan.
Zareena tidak mempedulikan itu. Ia menghancurkan semua yang ada dalam kotak kayu bercat cokelat. Merobek surat yang ada di dalamnya, lalu foto-foto kebersamaan Tristan bersama mendiang Lily.
"Kau keterlaluan!" Tristan merosot jatuh berlutut sembari menarik rambutnya.
Satu lembar foto, Zareena tatap. Pose Tristan tengah memeluk Lily dari belakang. Ia memasukan satu lembar foto itu ke dalam kotak. Zareena tidak tega untuk menghancurkan semuanya.
"Barang wanita yang sudah mati, sebaiknya dibuang." Zareena menginjak foto yang telah ia robek dengan sepatu hak tingginya di depan Tristan. Ia lewat begitu saja, meninggalkan pria yang meratapi kenangannya.
__ADS_1
"Zareena!" teriak Tristan.
Satu per satu serpihan kertas, foto, dan benda kenangan mendiang Lily, Tristan pungut. Benda yang ia simpan bertahun-tahun dan ia kenang setiap waktu telah dihancurkan dalam beberapa menit saja oleh Zareena.
"Kau sungguh keterlaluan. Kau wanita paling jahat, Zareena!"
Sementara itu, air mata yang sedari tadi Zareena tahan akhirnya, meluncur juga. Ia menyadari kesalahannya, tetapi Tristan juga berbuat hal sama, bahkan lebih parah.
Sekarang Zareena harus menerima kemarahan dari orang tuanya. Kecewanya keluarga Chris. Ini semua tidak sebanding dengan apa yang ia lakukan pada Tristan.
Mobil lalu menuju apartemen Chris. Zareena harus menjelaskan semua kepada pria itu. Mungkin perjodohan ini tidak bisa diselamatkan, tetapi memberitahu segalanya pada Chris merupakan tindakan yang baik.
"Chris!" Zareena berjalan mendekat.
Chris memalingkan wajahnya. "Ikutlah bersamaku."
Zareena mengikuti Chris. Pria itu membawanya masuk ke apartemen. Wajah Chris tidak terlihat ramah, tetapi pembawaannya yang tenang dapat menguntungkan Zareena untuk bisa menjelaskan apa yang terjadi.
"Chris, waktu itu kita masih belum bersama." Zareena mengeluarkan kalimat itu untuk pertama kali.
__ADS_1
"Itu bukan pembenaran, Zareena. Tapi, yang kau katakan ada benarnya. Kita belum bersama saat kau menjalin hubungan dengan Tristan. Tapi, apa pantas seorang wanita dekat dengan pria lain ketika ia juga dekat dengan laki-laki lainnya?"
"Aku tahu, Chris. Tapi dengarkan aku dulu."
"Bicaralah."
Zareena menjelaskan semua hubungannya dengan Tristan. Ketidakjelasan hubungan mereka, lalu liburannya dengan pria itu.
"Terserah kalau kau tidak ingin melanjutkan hubungan ini. Tapi sungguh, aku minta maaf padamu. Aku juga akan meminta maaf pada kedua orang tuamu atas kejadian ini, Chris."
Chris mengangguk. "Tapi keputusanku sudah tepat. Aku membatalkan perjodohan ini."
Zareena bisa menerimanya. Mana ada pria yang ingin menjalin hubungan pada wanita yang masih terlibat kepada pria lain.
"Terima kasih atas waktu yang kau habiskan bersamaku." Zareena menghambur memeluk Chris. "Aku ingin kita menjadi teman."
Chris memeluknya dengan erat. "Kurasa menjadi teman lebih baik."
Bersambung
__ADS_1