
Zareena tertawa tatkala Tristan menggelitik perutnya. Keduanya masih berada di kamar mandi, tetapi telah pindah di bawah pancuran shower.
Keduanya sama-sama polos, Tristan dapat melihat lekuk tubuh Zareena, bahkan ia mendapati tanda lahir wanita itu yang berada di bawah ketiak. Artinya, kemarin Tristan masih belum memperhatikan benar tubuh indah itu.
Begitu sebaliknya. Zareena melihat, bahkan bisa mengelus setiap jengkal dari tubuh pria itu. Isengnya, Zareena mencengkeram tubuh bagian belakang Tristan yang padat. Ia menepuknya berkali-kali dan membuat pemuda itu menggeram.
"Ini sangat kencang," ucap Zareena.
"Kau nakal."
"Oh, Sayang, kau sangat seksi." Zareena kembali menepuk bagian belakang seolah Tristan seorang anak berumur lima tahun.
Tristan mematikan keran shower, mendekap Zareena sekuat-kuatnya. "Kau harus diberi pelajaran."
Zareena tertawa. "Aku sangat ingin."
Tristan meraih kimono yang berada di atas meja wastafel, menutupi Zareena, lalu menggendongnya keluar kamar mandi.
Keduanya jatuh bersamaan di atas tempat tidur. Zareena mengusap rambut basah Tristan dengan baju handuk, tetapi pria itu malah menahan tangannya. Keduanya saling menatap, perlahan Tristan mundur, turun ke bawah ranjang.
Mengetahui keinginan Tristan, Zareena melebarkan kakinya. Tristan menginginkan kelopak mawar miliknya, dan benar saja karena pria itu langsung membenamkan wajah di sana.
Zareena mendongak, mendesis akan kenikmatan yang baru saja ia dapatkan. Tristan beradu bibir dengan kelopak yang merekah merah. Mencucup putiknya, menyapukan lidahnya pada bagian kecil yang membuat Zareena melayang-layang.
__ADS_1
"Jangan sampai berhenti. Lakukan terus," pinta Zareena.
Tristan semakin membenamkan wajahnya di sana. Mengobrak-abrik pertahanan Zareena. Menyalakan gelombang gairah agar semakin terbakar dalam puncak malam yang dingin.
"Sentuh aku, Sayang," pinta Zareena.
Tristan mengangkat kepalanya. "Kau yakin?"
Zareena mengangguk. "Iya, berikan aku milikmu."
Saat ini Zareena tidak memikirkan pria yang akan menjadi calon suaminya. Dari awal ia memang menginginkan Tristan. Jika tidak dapat hidup bersama pria itu, setidaknya Zareena bisa menghabiskan malam-malam indah bersama Tristan.
"Ini mungkin akan sedikit sakit," ucap Tristan. "Tapi aku akan melakukannya dengan lembut."
"Lakukan dengan segera," kata Zareena.
"Santai saja, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu," ucap Tristan, lalu mengecup bibir Zareena.
Masuk, tetapi begitu susah. Tristan mencoba membenarkan posisinya agar Zareena merasa santai. Ini bukan pertama bagi Tristan berhubungan bersama gadis yang belum tersentuh. Tapi ini Zareena. Ia ingin memperlakukan wanita istimewanya sebaik mungkin.
Zareena menggigit bibir saat bagian terlarang itu mendesaknya. Tristan menurunkan tubuhnya, mengecup bibir Zareena agar gairah itu semakin bangkit.
"Peluk aku," bisik Tristan.
__ADS_1
Zareena mengalungkan kedua lengannya di leher Tristan. Saat ia merasakan pria itu mendesak, Zareena mencengkeram kedua bahu pria itu.
"Ini ...."
"Ini akan sebentar," bisik Tristan memotong ucapan Zareena.
Tristan mendesak masuk, tubuh Zareena bergetar bersama kuku jarinya yang menggores punggung pria itu.
"Ini sakit," ucap Zareena, air mata keluar dari ujung matanya.
"Ini baru setengah, Sayang."
Tristan memandang Zareena, mengusap pipi yang dialiri oleh lelehan air mata. Tristan mengecup bibir itu sembari mendorong tubuhnya agar semakin masuk ke dalam.
"Kau sempurna untukku," ucap Tristan, lalu mulai bergerak perlahan.
Perih itu masih terasa saat Tristan menggerakkan tubuhnya. Bahkan, Zareena ingin menyingkirkan pria itu dari atas tubuhnya. Ada yang sobek, tetapi begitu menggetarkan saat menghunjam miliknya.
"Kau sudah menjadi wanita," ucap Tristan.
"Ini perih, Tris," kata Zareena.
"Nanti tidak akan lagi. Selama di sini, aku akan membiasakan dirimu dengan dirinya."
__ADS_1
Desakan demi desakan Zareena terima. Ia dapat mendengar suara peraduan antara tubuh yang saling berbenturan, tetapi Tristan tetap terus menggerakkan pinggulnya sampai mencapai puncak keruntuhan.
Bersambung