My Hot Baby

My Hot Baby
Hangat


__ADS_3

"Ini akan menjadi pengalaman kita yang menyenangkan," bisik Tristan.


Dapat Zareena lihat pakaian renangnya telah menghilang termasuk celana hitam ketat yang tadi Tristan kenakan. Semua itu telah tiada, dan kini mereka berada dalam air tanpa mengenakan apa pun.


"Kau harus mencari pakaian renangku," ucap Zareena.


Tristan tertawa. "Tenang saja, Sayang. Tapi saat ini, lebih baik kita melewatinya."


Tatapannya turun pada dua bagian yang menyembul. Tristan dapat melihat ujung putik warna kecokelatan dari dasar air kolam. Sebelum Zareena menegur, Tristan lebih dulu menangkap benda padat itu, lalu menekannya dengan lembut.


"Kau yakin ingin melakukan ini di sini?" tanya Zareena.


Jawaban sama sekali tidak didapatkan sebab Tristan telah membelit bibir Zareena dengan keras, liar, dan bergairah. Indra itu menangkap lawannya dengan tangkas. Menyambar tepat sasaran dan tidak memberi peluang untuk Zareena berkelit.


"Tristan," ucap Zareena.


"Tidak akan ada yang menganggu. Kita nikmati pagi ini."


Tristan semakin merapatkan tubuhnya pada Zareena. Mendorong wanita itu sampai pada dinding kolam, lalu melebarkan kaki Zareena agar ia dapat masuk dengan leluasa.

__ADS_1


Tangan Zareena terulur, menyentuh wajah Tristan yang terserang hasrat. Pria itu memejamkan mata, menikmati setiap usapan yang wanitanya berikan.


Alis melengkung lebat bagai ulat bulu. Hidung, serta bibir seksi tidak lepas dari jamahan Zareena. Bibir itu terbuka, mencucup jari-jari lentiknya sembari keduanya beradu pandangan.


Zareena menjerit kecil ketika Tristan menggigit jemarinya, tetapi itu terganti tatkala sapuan lidah pria itu berikan. Zareena tidak dapat bernapas, ia tersentak ketika lidah itu bergerak menuju lengannya. Membuat tubuh meremang, mendesaknya untuk bergumam lirih.


Tristan menarik diri, ia naik dari pinggir kolam, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo, Sayang."


Zareena menyambutnya, dan ia mengikuti Tristan yang membawanya menuju kursi pantai. Tristan merentangkan handuk di atasnya, lalu duduk membawa Zareena di atas pangkuannya.


Zareena dapat merasakan dingin ketika angin menerpa tubuh polosnya dan hangat saat mentari bersinar, lalu panas karena berada dalam pelukan gairah Tristan.


"Kau hanya perlu diam, biar aku saja yang bekerja."


Sedikit kaget ketika Tristan membawanya jatuh berbaring bersama. Zareena tidak bisa berkata-kata. Tidak ada lagi ruang kosong di antara mereka. Tubuh mereka telah menyatu dalam posisi menegangkan.


"Kau bisa rasakan hangatnya dia," bisik Tristan. "Ikuti gairahmu, bawa dia masuk ke dalam."


Bagai terhipnotis oleh kata yang dilontarkan Tristan. Zareena masuk, dan ia tersentak saat merasakan desakan penuh yang memenuhi ruangan dalam dirinya.

__ADS_1


"Masih sakit?" tanya Tristan.


"Dia seperti menyobekku," jawab Zareena.


"Ini tidak akan sakit, Sayang. Kau akan merasakan nikmat ini lebih dari yang semalam." Tristan mengiringinya, membantu Zareena menggerakkan pinggul. "Bagaimana? Ini lebih terasa, kan? Ikuti ke hendak tubuhmu."


Zareena menggerakkan pinggulnya bersamaan Tristan yang menekan buah dari kelembutan yang padat. Mencucup kedua ujungnya secara bergantian, dan ia merasa untuk pertama kalinya klorin begitu nikmat.


"Kau suka?" bisik Tristan.


Zareena mengangguk, lalu meraih tengkuk Tristan untuk dapat mengecup bibir manis itu. "Aku ingin terus bergerak."


"Bagaimana dengan yang ini?" Tristan mendekap Zareena, lalu menggerakkan tubuhnya dari bawah. Membuat Zareena bergetar, menjerit tidak karuan atas hentakan yang Tristan berikan.


"Jangan terlalu kuat," ucap Zareena.


"Ini agar kau terbiasa."


Tristan merebahkan Zareena kemudian menghunjam keras. Meluluhlantakkan wanita itu sedalam-dalamnya dalam pesona liarnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2