
Permainan harus segera dihentikan karena keduanya akan menghadiri acara makan malam. Zareena juga harus kembali ke rumah sewa guna mengganti pakaiannya.
Tristan tampak belum puas hanya dengan satu kali genjatan. Namun, ketika ia meminta lebih, Zareena menolaknya.
"Aku harus berdandan untuk malam ini. Kau harus mengantarku ke rumah."
"Hanya 15 menit dan kita bisa melakukannya di kamar mandi. Kita mandi bersama saja."
"Ini sudah sore, Tris. Kau yakin hanya ingin melakukannya selama 15 menit?"
Tristan mengangguk dengan rasa percaya dirinya. "Bisa saja tanpa pemanasan."
"Aku tidak ingin terlihat lelah untuk nanti malam. Kita bisa melakukannya lagi setelah makan malam."
Dengan gerak cepat, Zareena melangkah masuk kamar mandi. Menutup dan mengunci pintunya sebelum predator yang kelaparan itu memangsanya kembali.
Tristan mengembuskan napas panjang. Ia meraih tisu basah, lalu membersihkan miliknya setelah itu langsung berpakaian.
"Nanti malam." Tristan menganggukkan kepalanya. "Aku harus hemat tenaga."
Suami yang begitu patuh karena Zareena sudah melihat suaminya berpakaian ketika keluar dari bilik mandi. Omongannya didengar oleh Tristan.
"Kau tidak mau mandi lagi?"
__ADS_1
Tristan menoleh pada istrinya. "Kau bilang ingin lekas ke rumah sewa untuk berdandan. Selagi kau merias wajahmu, aku akan mandi."
"Kita berangkat sekarang saja."
"Kau tidak mau mengeringkan rambutmu dulu?"
Zareena membuka handuk yang membalut tubuhnya begitu saja, lalu mengambil baju yang disodorkan oleh Tristan.
"Kapan kita pulang?"
Zareena berhenti sejenak dari memasang celana jeans-nya. Ia memandang Tristan, lalu kembali melanjutkan lagi kegiatannya. "Kau sudah tahu resiko menikahiku, kan?"
"Ibumu ingin memakanku ketika aku datang meminta maaf."
"Kau tidak dipukul, kan?"
"Dia ibu mertuamu sekarang. Bagaimana caramu untuk menghadapinya?" terakhir Zareena mengenakan jaket, merapikan rambut, lalu ia siap untuk pulang.
"Aku sudah mendapatkan putrinya. Siapa pun tidak bisa lagi menghalangiku untuk berpisah darimu." Tristan meraih pinggang ramping itu. Mendaratkan kecupan ringan di bibir manis istrinya.
"Kita harus pulang." Zareena mencoba mengingatkan.
"Aku tahu kau harus pulang ke rumah sewa."
__ADS_1
......................
Pantas saja Brian merasa ada yang membuat perasaannya tidak karuan. Ketika ia sampai di restoran, semua menjadi jelas. Ini mengenai Zareena yang telah kembali bersama Tristan. Lebih parahnya, keduanya telah menjadi pasangan suami dan istri.
"Kau tega sekali padaku." Brian meminum sampanye-nya dalam sekali teguk.
"Aku minta maaf karena tidak memberitahumu. Tiba-tiba saja Tristan mengajakku menikah," ucap Zaree, mencoba untuk menjelaskan.
"Kalau kau tidak ingin bersamaku, aku bisa mencarikanmu kekasih yang lain. Asal jangan dengan dia."
Brian memandang wajah yang sedari tadi menahan rasa kesal padanya. Brian tidak peduli, asal ia bisa mengeluarkan segala isi hatinya.
"Hei, Zareena sudah bersamaku lebih dulu." Tristan menyahut.
"Tapi kalian sempat putus. Aku baru saja ingin mendekatinya."
"Aku masih ingin menghajarmu karena kau telah berani menyentuh istriku ini."
"Kemarin malam, Zareena bukan istrimu." Brian sama sekali tidak ingin kalah berdebat.
"Kenapa kalian bertengkar?" Miles menengahi. "Ini malam bahagia. Kalian tidak malu pada meja yang diisi bibi-bibi cantik di sana?"
Meja sebelahnya diisi oleh Marta, Nyonya Sarah, Emma, dan karyawan toko roti, teman Zareena bekerja.
__ADS_1
Miles merangkul pundak Brian. "Wanita cantik bukan Zareena saja. Dia sudah menjadi milik Tristan. Kau tenang saja. Aku punya teman wanita yang seperti Zareena. Datanglah ke London nanti."
Bersambung