My Hot Baby

My Hot Baby
Panas


__ADS_3

Keduanya tidak sabar untuk segera bertarung dalam arena tempat tidur. Sama-sama melepas pakaian, menjatuhkan diri di atas kasur yang empuk.


Tristan memberi dan Zareena menyambut kecupan bibir yang panas, mendesak, membelit, membangkitkan hasrat untuk satu pertarungan yang seru.


Napas Tristan berembus menerpa kulit Zareena ketika pria itu telah menurunkan bibirnya ke bawah sana. Zareena menyisir rambut Tristan yang tebal dan gelap. Sesekali mencengkeram, membentuk pola lingkaran pada rambut yang sehalus sutra.


"Tristan," Zareena berkata lirih mendapati pria itu telah mencucup ujung putiknya. Tangan nakal itu membelai tubuhnya, terus hingga turun ke bawah, lalu berhenti tepat di daerah terlarang. Sekali lagi Zareena menyerukan nama Tristan ketika dua jari itu telah masuk tubuhnya.


"Aku menyukainya. Setiap jengkal dari tubuhmu, aku menyukainya. Ini milikku." Tristan bertindak liar. Semakin kuat ia mencucup dua benda lembut milik Zareena secara bergantian.


"Aku butuh kau, Tristan." Zareena membenamkan jari-jarinya pada punggung bidang pria itu.


Tristan beringsut duduk di samping Zareena. Membelai pipi, mengundang wanita itu untuk mencucup bagian miliknya yang telah tegang. Zareena bangkit dengan bertopang siku. Menghadap ketegangan milik Tristan yang memanggil untuk dicicipi.


Tristan mengeluh saat ujung miliknya disentuh oleh lidah lembut Zareena. Gerakan melingkar ia dapatkan. Sepanjang garis tegak, bibir lembut itu merayap, lalu masuk, dan Tristan merasakan kehangatan yang luar biasa.

__ADS_1


Dengan penuh gairah, Tristan membelai rambut Zareena, lalu menggenggam sejumput rambut panjang itu. Membuat kepala Zareena tenggelam dalam desakan yang Tristan berikan.


Wajah Zareena memerah, bibir serta lehernya penuh dengan liur. Tristan menarik diri, membasuh rupa wanita itu dengan miliknya. Tristan meraih dagu itu, mengecup kembali bibir Zareena, lalu mendorong tubuh itu telentang.


Kaki Zareena diangkat, Tristan mencucup lebih dulu kelopak merah yang telah basah. Zareena bergumam lirih menyerukan namanya. Semakin bangkit saja gairah dalam dirinya.


Tanpa basa-basi, Tristan menyatukan tubuhnya pada Zareena. Mendesak kuat wanita itu dalam gerakan bertempo cepat. Zareena mencengkeram seprai, tubuhnya bergetar pasrah dalam hunjaman yang Tristan berikan.


"Sayang," panggil Tristan lirih.


Tristan tersenyum mendengar ucapan Zareena. Apakah ia sudah menang dari gadis pembangkang? Zareena tidak berdaya di bawah kungkungannya. "Kau mengaku kalah?"


"Aku hanya belum terbiasa saja."


"Kau masih tidak mau mengakui?"

__ADS_1


"Aku yakin jika bisa membuatmu tergila-gila padaku."


"Kau yang membuatku gila, Zareena."


Tristan menghunjam kuat, membuat Zareena menjerit. Zareena sendiri tidak tahu apakah kamar di kapal ini kedap suara. Ia telah menahan diri untuk tetap diam, tetapi Tristan sangat pandai meruntuhkan pertahanannya itu.


Napas yang terengah disertai tubuh berkeringat dapat beristirahat. Keduanya sama-sama belum berpakaian, maupun menutupi tubuh mereka dengan selimut putih.


Puas, tetapi ada yang kurang. Baik Zareena dan Tristan ingin melewatkan malam ini dengan terus menyatukan tubuh. Zareena sendiri ingin bersama Tristan untuk yang terakhir kalinya sebelum mengatakan kepada orang tuanya, bahwa ia menerima perjodohan itu. Sementara Tristan memang tidak akan pernah puas meniduri Zareena.


"Aku perlu waktu beberapa menit lagi," ucap Tristan sambil mengusap wajahnya. Napasnya baru saja kembali normal.


Zareena tidak peduli, ia menindih tubuh polos itu. "Tapi aku menginginkan dirimu sekarang juga. Biarkan kali ini aku yang bekerja."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2