
Colin memeluk Zareena, disusul oleh Belva. Mereka mencoba menenangkan wanita itu, yang masih syok dengan apa yang terjadi. Zareena masih setia berdiri mematung di posisinya dengan mata yang menahan tangis.
"Sabar, Zaree. Semua akan baik-baik saja." Colin berkata supaya Zareena tenang.
Namun buktinya, kata-kata saja tidak-lah cukup. Sesuatu dalam diri Zareena memendam kemarahan. Ia ingin teriak, memukul sesuatu agar hati yang perih ini bisa lega.
"Aku mau pergi." Zareena melepas pelukan Colin dan Belva.
"Kau mau ke mana?" Belva meraih tangan iparnya. "Kembalilah ke kamar, Zaree."
Dengan lembut, Zareena melepas tangan Belva. "Biarkan aku sendiri. Aku perlu menenangkan diri. Kalian tenang saja, aku akan baik-baik saja."
Belva cuma bisa pasrah karena Zareena telah berkata demikian. Ia membiarkan adik iparnya melangkah pergi, tanpa tahu ke mana arah tujuan Zareena sebenarnya.
Zareena mengambil satu kunci mobil yang bergantung di dinding, lalu keluar rumah. Meneriaki penjaga agar membuka gerbang untuknya.
Colin dan Belva ikut menyusul. Melihat Zareena masuk mobil, kemudian berlalu dari rumah.
__ADS_1
"Lebih baik katakan saja pada Valdo kalau Zareena keluar rumah." Colin memberi saran.
"Kau benar, Colin. Aku akan memberitahu Valdo."
"Sebaiknya aku pulang. Kalau Zareena sudah pulang, lekas beritahu padaku."
Belva mengangguk. "Ya, kau hati-hati pulangnya. Aku akan menelepon saat Zareena pulang nanti."
Mobil yang dikendarai Zaeeena melaju cepat menuju jalanan yang telah ia hapal betul di luar kepala. Kendaraan itu berhenti tepat di depan pagar rumah tinggi.
Zareena turun kemudian menekan tombol bel agar penjaga di dalam sana mengizinkannya masuk. Suara dari interkom terdengar, dan Zareena menjawab dengan memberitahu siapa dia.
"Katakan kepada Tristan, aku datang untuk bicara padanya. Jika dia bukan pengecut, maka biarkan aku masuk," ucap Zareena.
Beberapa detik kemudian, pagar itu mulai bergeser membuka. Zareena langsung saja masuk, meninggalkan mobilnya di luar.
Kedatangannya disambut pelayan, tetapi sambutan Zareena tidak lagi ramah. Begitu ia melangkah ke rumah itu, Tristan telah menunggunya.
__ADS_1
Pria itu duduk dengan begitu angkuh. Di tangannya terdapat gelas kecil putih yang berisi minuman beralkohol. Zareena baru menyadari jika penampilan Tristan begitu kacau.
Zareena maju mendekat, meraih botol di meja, lalu menyiramkan air ke wajah Tristan. Ia juga merebut gelas dari tangan pria itu, lalu membuangnya begitu saja di lantai.
Tristan tertawa. "Kau ingin membalasku?"
Satu tamparan mendarat di pipi Tristan. Sontak pria itu bangun dari duduknya. Zareena siap melawan pria itu bila Tristan berani membalas apa yang ia lakukan barusan.
"Kau puas? Kau puas telah menghancurkan hidupku!" Zareena berkata lantang.
"Kau yang membuatku seperti ini. Kau yang seenaknya menerima lamaran orang lain!" Tristan bicara dengan keras. Menyadarkan Zareena atas apa yang wanita itu lakukan padanya.
"Aku sudah bilang padamu. Aku ingin status. Aku ingin pernikahan yang sah!"
"Tidak seharusnya kau menerima perjodohan itu sejak kita bersama."
"Kita tidak bersama, Tristan!" suara Zareena membuat Tristan terkesiap. "Jangan merasa kau yang tersakiti di sini. Aku-lah yang kau sakiti itu. Kau hancurkan pesta pertunanganku. Kau permalukan diriku dan keluargaku. Kau sialan! Kau pria paling terburuk yang pernah kukenal. Aku akan membalasmu, Tristan. Aku akan membuatmu terluka dari apa yang kau rasakan sekarang."
__ADS_1
Bersambung