
Beberapa hari melewati waktu bersama, tetapi Tristan tidak kunjung menyatakan cinta atau mengajak berhubungan serius. Zareena tidak peduli soal itu. Sekarang ia menganggap jika Tristan adalah pria miliknya.
Di kota ini ada banyak pria dan wanita yang tidak mau menikah. Tentu saja ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menjalin hubungan dalam ikatan yang sah.
Zareena cukup senang dengan situasi ini. Dengan begini, ia tidak akan mendengar seorang pria datang meminta putus hubungan hanya karena penampilan atau mengeluh atas kisahnya di tempat tidur.
"Besok orang tuamu akan pulang," ucap Tristan seraya membelai rambut panjang Zareena.
"Aku senang mereka kembali."
Posisi mereka saat ini tengah berbaring di atas sofa kamar tidur dengan Zareena yang berada di atas tubuh bidang pria itu. Rasanya sungguh nyaman menindih Tritsan.
"Aku turut senang, tapi aku juga sedih."
Zareena mengangkat kepalanya. "Kenapa?"
Tristan mengangkat tubuh wanita itu sedikit hingga mereka dapat saling bertatapan. Zareena mengecup kecil bibir Tristan agar pria itu semakin lekat padanya.
"Kau membuatku sedih, dan kau bertanya kenapa?" ucap Tristan.
"Kita bisa bertemu, kan?"
"Memang, tapi kita tidak bisa tidur bersama."
Beberapa hari ini juga, Tristan dan Zareena tidur di satu tempat yang sama. Hanya tidur dengan saling berpelukan tanpa hal yang lebih. Malahan Zareena menginginkan sesuatu yang nakal agar ia bisa melepas predikat perawan.
__ADS_1
"Aku sudah siapkan tempat untuk kita liburan. Kau berjanji untuk pergi bersamaku," kata Tristan lagi.
"Aku akan pergi bersamamu," sahut Zareena.
"Kenapa kau masih tinggal bersama orang tuamu? Kau seharusnya pindah."
Zareena tertawa. "Seharusnya memang begitu. Tapi mama dan papa menyuruhku untuk tetap berada di rumah."
"Apa yang kau suka dariku?" tanya Tristan.
"Aku tidak menyukaimu." Zareena berteriak ketika Tristan memeluknya dengan erat. "Tristan!"
"Katakan sekali lagi."
"Aku suka padamu," ucap Zareena.
"Matamu, hidungmu, bibir juga tubuh ini. Begitu kuat dan empuk."
"Kau menyukai fisikku?"
"Yang kita lihat pertama kali itu memang fisik, kan? Lalu, sifat dan sikapnya bila sudah saling mengenal. Tapi jujur saja, aku memang tidak suka beberapa hal darimu. Terutama kebiasaanmu itu," ungkap Zareena.
"Aku tidak lagi berhubungan dengan para wanita itu," kata Tristan.
"Baguslah, lalu kau? Apa yang kau suka dariku?"
__ADS_1
"Karena kau sulit untuk ditaklukkan. Kau seperti bunglon yang bisa berubah kapan pun dan kau seperti belut yang licin. Aku susah untuk mendapatkanmu."
"Kau menyamakanku dengan bunglon dan belut? Kau ini jahat sekali."
Zareena bangkit dari badan Tristan, lalu beralih ke tempat tidur. Tristan menyusulnya naik ke atas ranjang dengan rasa bersalah.
"Maksudku, kau ini kupu-kupu yang sulit aku tangkap," ralat Tristan.
Zareena mendengkus. "Kau itu buaya!"
Tristan tertawa. "Setidaknya aku berkata jujur. Kau memang seperti itu dan aku sangat menyukainya. Aku merasa tertantang dan tersiksa saat mengenalmu."
"Kau tersiksa?"
Tristan mengangguk. "Kau tidak sadar selama ini telah menyiksakku? Kau datang setelah itu pergi. Kau membiarkanku setiap malam mandi air dingin."
"Apa separah itu?"
"Sekarang kau bisa melihatnya," ucap Tristan seraya menunjuk bagian bawah tubuhnya.
"Sepertinya milikmu begitu sensitif." Zareena menelan ludah sebab ia masih ingat akan rasa dari milik Tristan itu.
"Dia belum menemukan tempat yang pas."
"Aku bisa membantumu," ucap Zareena.
__ADS_1
Tristan tersenyum. "Lakukan jika kau menginginkannya."
Bersambung