
Ketiganya berjalan kaki menyusuri jalanan Hawkshead, Like District Cumbria. Desa yang terletak di South Lakeland, yang terkenal dengan keindahan alamnya. Bangunan yang seragam bercat putih dengan jendela rumah yang tampak menonjol menjadi ciri khas daerah itu. Kebanyakan, bangunan di sana dibangun pada abad ke-17, dan menjadi salah satu tempat wisata di Inggris.
Kali ini, Brian menjadi pemandu wisatanya. Pria itu mengajak Colin serta Zareena mencicipi aneka kuliner karena Zareena mengatakan kalau ia suka memasak. Mereka mengunjungi kedai kopi yang juga menyediakan roti panggang dengan isian daging cincang, ditambah jamur yang membuat Zareena tidak berhenti mengunyah.
"Jadi, kau berniat pulang atau ingin tinggal di sini?" tanya Colin.
Zareena menjawab, "Tinggal di sini untuk sementara waktu kurasa tidak buruk. Tapi, aku perlu pekerjaan untuk membayar rumah sewa."
"Kau boleh tinggal di rumahku, Zaree." Brian menimpali.
"Aku tidak ingin merepotkan. Kau dan ibumu sudah begitu baik memberi kami tumpangan. Biarkan aku mencari rumah sewa dan pekerjaan."
"Kau bisa menyewa kamar di rumahku. Kalau kau menginginkannya." Brian masih membujuk agar Zareena mau tinggal bersamanya.
"Sudahlah, Brian. Jika Zareena tidak ingin tinggal di tempatmu, kau bisa mencarikannya rumah sewa, apartemen atau hotel," sela Colin memberi pendapat.
__ADS_1
"Aku akan mencarikannya tempat tinggal di dekat rumah saja. Kemarin Tuan Smith ingin mengunjungi anaknya yang berada di Boston, dan ia berniat menyewakan lantai atas untuk wisatawan. Kau bisa menyewanya, Zaree. Kita bisa lihat rumahnya dulu."
Zareena mengangguk. "Kurasa itu ide bagus. Apa lantai atas itu tidak terhubung dengan lantai bawah?"
"Sebenarnya lantai atas bisa dibilang kamar sewa khusus untuk wisatawan. Hanya beberapa bulan lalu Tuan Smith menolak untuk menyewakannya karena bangunannya harus di renovasi, juga lantai atas dipakai oleh keponakannya yang datang dari Boston. Sekarang Tuan Smith akan pindah. Kurasa dia mau menyewakanya untuk wanita cantik sepertimu."
"Untuk masalah rumah sudat dapat. Sekarang tinggal bagaimana cara mendapatkan pekerjaan." Colin mendahului Zareena soal itu.
"Kerja paruh waktu. Berdiam diri di rumah akan membuatku bosan." Zareena berucap seraya menyesap minuman capuccino miliknya.
Brian tampak berpikir. "Soal itu, aku akan mencari tahu. Kau tenang saja, kau tidak akan kelaparan di sini."
"Zareena tidak kekurangan uang, Brian. Dia hanya meluangkan waktu saja." Colin menimpali.
Brian mendengkus. "Memangnya uang tidak pernah habis? Zareena kabur dari rumah, kalau dia tidak bekerja, uang simpanannya akan habis."
__ADS_1
"Ya, ampun! Kau mengatakan kebenaran, Brian." Zareena tertawa mendengar perkataan pria itu. "Aku memang butuh pekerjaan."
"Kecuali Colin ingin membiayaimu." Brian mengucapkan itu sembari melirik sepupunya.
"Kau kira aku tidak bisa membiayai hidup sahabatku? Aku ini juga punya penghasilan sebagai konten kreator."
"Kau tahu, Brian? Dia menabung selama satu tahun hanya untuk masuk ke kelab Summer," ungkap Zareena.
Brian menjentikkan jarinya. "Zaree, kenapa kau tidak menjadi pacarku saja. Hidupmu bakal terjamin." Brian menaik-turunkan alisnya.
Colin melempari sepupunya dengan potongan roti. "Kau kira kerja jadi mekanik bisa membuat Zareena bahagia?"
"Aku bisa memberinya cinta, dan suara indahku ini akan terus menemaninya. Zareena akan bahagia." Dengan percaya diri Brian mengatakannya.
Colin geleng-geleng kepala. "Kau sudah gila."
__ADS_1
Sementara Zareena tidak tahan untuk tidak tertawa. Candaan Brian berhasil membuat bibirnya tidak mengering.
Bersambung