
Untuk sementara, Zareena menumpang di apartemen Colin lebih dulu sebelum ia memutuskan ke mana arah tujuannya kali ini. Semua menjadi kacau. Zareena yakin, guru les di tempatnya kursus memasak akan marah karena ia tidak melewati ujian yang diberikan. Kemudian teman-temannya yang lain di tempat latihan juga pasti akan mencarinya.
Mau bagaimana lagi, Zareena malas untuk melanjutkan kursus atau latihan. Ia bahkan enggan untuk berada di London karena satu orang pria telah mengacaukan segalanya.
"Kau bisa tinggal di sini, Zaree. Aku akan senang kalau kita tinggal bersama." Colin mengucapkan kalimat itu karena memang ia ingin Zareena tinggal bersamanya.
Zareena menggeleng. Bukannya ia tidak mampu menyewa satu apartemen. Hanya saja ia ingin pergi dari London. "Aku ingin liburan. Mungkin juga ingin tinggal di tempat lain."
"Kau ingin ke mana?" Colin mulai khawatir.
Zareena mengedikan bahu. "Aku tidak tahu. Mungkin ke luar London atau apalah. Aku ingin ke suatu tempat yang indah dan tenang. Jika aku kerasan di sana, bisa jadi aku akan berada di sana selamanya."
"Kau akan meninggalkanku? Kau tidak bisa begini, Zareena."
"Aku ingin pergi untuk menenangkan diri saja."
"Kau mencintainya?" Colin dapat menebak raut wajah Zareena yang menyiratkan kesedihan.
"Aku tidak tahu." Zareena masih ragu dengan perasaannya sendiri.
"Kau mencintainya, Zaree."
__ADS_1
Zareena menggeleng. "Aku tidak mau bicara soal Tristan."
"Kau masih tidak mengaku, padahal aku tidak menyebut namanya. Kupikir kau kecewa karena Chris."
Zareena menatap lekat sahabatnya, sedetik kemudian ia tersenyum. "Kau memang sahabatku."
"Bagaimana kalau kau ke tempat sepupuku saja?" Colin menawarkan, lalu melanjutkan ucapannya. "Kau bisa ke Hawkshead. Di sana itu desanya sangat indah."
"Kau ingin aku tinggal di kabupaten Cumbria?"
Colin mengangguk. "Aku akan mengantarmu. Kebetulan aku sudah sangat lama tidak ke sana. Aku merindukan rumah dengan cat yang seragam, lalu jendela rumah yang selalu terbuka."
Zareena mengiakan usulan Colin. "Kenapa tidak? Kurasa itu ide bagus."
Memang tidak jauh dari London menuju Cumbria. Hanya sekitar enam jam melalui perjalanan bus, tetapi tidak akan ada yang menyangka jika Zareena akan ke sana.
Sepupu Colin mengatakan akan menyambut kedatangan mereka berdua. Hari itu juga, Colin mengepak pakaiannya, memesan tiket bus, lalu berangkat menuju Cumbria.
"Jangan memberitahu siapa pun jika aku berada di sini," ucap Zareena, ketika mereka telah berada di dalam bus.
Kening Colin berkerut. "Kalau orang tuamu mencari bagaimana?"
__ADS_1
"Kau bisa mencari alasan, Colin."
"Kau sungguh ingin bermusuhan dengan mereka?"
"Aku sudah meminta maaf pada Chris atau orang tuanya. Ibuku marah, dan mungkin dia akan mencari jodoh untukku lagi."
Colin tertawa mendengarnya. "Apa dulunya ibu dan ayahmu dijodohkan?"
Zareena mengangkat bahu. "Entahlah, kurasa begitu. Aku juga tidak pernah menanyakannya. Yang aku tahu mereka berdua saling mencintai."
"Termasuk Tristan?"
Zareena terdiam mendengar nama itu. Lalu, ia mengangguk. "Lagi pula dia tidak akan mencariku. Tristan mencintai mendiang kekasihnya. Sampai sekarang pria itu tidak melupakannya."
"Sudahlah, jangan lagi dibahas. Di sana kita akan mencari mangsa baru. Pemuda di desa Hawkshead banyak yang tampan. Kita bisa minum kopi bersama mereka."
"Hanya minum kopi?" ulang Zareena.
Dari nadanya saja Colin dapat menduga maksud dari pertanyaan sahabatnya. Ia tertawa. "Kurasa tidur bersama tidak menjadi masalah."
"Kalau yang itu, aku tidak dapat berjanji." Zareena mengibaskan tangan karena ia tidak akan mengikuti jejak dari Colin yang suka berganti pasangan.
__ADS_1
Bersambung