
Berulang kali Tristan meminta maaf pada Zareena ketika ia melihat bercak noda merah yang bertebaran. Belahan dalam kaki, di atas seprai putih serta di bagian miliknya tentu saja.
Sembari memeluk Zareena, mengecup kening wanita itu berkali-kali, ucapan maaf itu terus terlontar. Tristan merasa ia telah melakukannya secara kasar hingga membuat Zareena kesakitan.
"Kau ini kenapa? Apa setiap tidur dengan wanita, kau selalu begini?" tanya Zareena.
"Aku membuatmu menangis dan kau berdarah. Aku kurang lembut tadi."
Untuk Zareena, Tristan sungguh ingin memperlakukannya dengan lembut. Ia tidak begini terhadap perempuan lain. Mau wanita itu kesakitan atau apa, Tristan masa bodoh.
"Ya, tadi itu memang sedikit sakit. Bisakah kau membantuku membersihkan diri?" tanya Zareena.
Tristan mengangguk, lalu turun dari tempat tidur. "Ayo, biar aku gendong. Aku juga akan minta pelayan hotel mengganti seprainya."
"Kau pasti membayar mahal untuk ini."
"Nodanya tidak sampai tembus ke kasur," jawab Tristan.
Zareena merentangkan tangannya, kemudian Tristan mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongannya. Mereka seperti sepasang pengantin baru yang tengah berbulan madu.
Kedua tangan itu erat melingkar di leher Tristan. Zareena bahkan menempelkan wajahnya di tubuh bidang yang tidak mengenakan apa pun itu.
"Kau tidak karuan?" ucap Zareena.
__ADS_1
"Kau mendengar detak jantungku?"
"Sepertinya. Apa kau gugup?"
Tristan menggeleng. "Aku masih tidak percaya kita bisa melakukannya."
"Detak jantungku berdegup kencang. Aku meniduri sahabat kakakku sendiri," ucap Zareena.
"Valdo akan membunuhku jika ia tahu," ucap Tristan, lalu mendudukkan Zareena di atas toilet. Kemudian mengisi air hangat di dalam bathtub untuk membersihkan diri.
"Aku belum menghubungi orang rumah," kata Zareena.
"Aku akan bawa ke sini ponselmu."
Sebelum itu, Tristan membantu Zareena dulu masuk dalam bathtub. Setelah itu ia keluar mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas lampu tidur.
Tristan sempat menghidupkan telepon genggam itu, ia mengalihkan dari yang tadi mode pesawat menjadi aktif. Dalam sekejap saja sudah banyak notifikasi pesan yang masuk, tetapi Tristan tidak berkeinginan untuk mencari tahu siapa saja yang menghubungi wanitanya.
"Ini ponselmu," kata Tristan sembari menyodorkan telepon genggam itu pada Zareena.
"Astaga! Pakai handuk, Tris," kata Zareena.
Tristan malah tertawa, lalu mengambil handuk yang tersedia di atas rak gantung dekat wastafel.
__ADS_1
"Kalau kau ingin keluar, panggil aku," ucap Tristan.
Zareena mengangguk. "Baiklah, bereskan dulu tempat tidur kita."
Tristan mengiakan, kemudian berjalan lagi keluar. Menelepon pelayan hotel untuk membersihkan tempat tidurnya. Tristan memandang mini bar yang tersedia di kamar itu.
"Sayang, kau mau kopi?" tanya Tristan.
"Berikan aku soda, Tris," teriak Zareena.
Dasar Tristan, pria itu malah tidak menutup pintu kamar mandi. Sengaja bila Zareena memanggilnya, maka ia bisa segera datang. Tristan membuka kulkas mini, mengeluarkan dua buah botol minuman soda. Ketika ingin masuk menyusul Zareena, terdengar pintu diketuk.
"Pasti pelayan hotel," gumam Tristan yang langsung membuka pintu. "Oh, masuklah, bersihkan dengan cepat kasurnya."
Pelayan pria itu mengangguk. Tristan segera masuk kamar mandi memberi minuman soda untuk Zareena.
"Jangan keluar dari sini. Ada pelayan di luar," ucap Tristan.
"Tapi aku sudah selesai mandi."
"Diam saja di sini, Sayang. Ini tidak akan lama." Tristan meletakkan botol soda itu ke tangan Zareena, lalu keluar dengan menutup pintu kamar mandi. Sengaja ia berdiri di depannya untuk menghalangi Zareena yang bisa saja keluar dengan mengenakan handuk saja.
Bersambung
__ADS_1