
"Kau sarapan dulu tanpa menungguku," kata Zareena.
"Kau tampak segar dengan dress floral itu," ucap Tristan. "Tapi maafkan aku yang sudah sarapan dulu. Aku harus bekerja sekarang."
"Kau tampak sibuk."
Tristan bangkit dari duduknya. "Begitulah, Sayang. Aku akan menemuimu pada jam makan siang nanti. Bersenang-senanglah di sini. Anggap rumahmu sendiri."
Kecupan mendarat di puncak kepala Zareena. Kali ini tanpa protes meskipun Zareena sangat menginginkannya. Percuma saja karena Tristan tidak memperdulikan itu. Namun, pria itu masih tidak menyatakan perasaan apa pun. Zareena bingung sendiri. Haruskah ia menyatakan perasaannya atau meminta kejelasan? Tidak akan pernah. Pantang bagi Zareena untuk mengatakannya lebih dulu.
Karena Tristan sangat ingin mencicipi masakan hasil tangannya, Zareena pun menyiapkan menu spesial untuk teman terdekatnya itu. Saat itu pula, Valdo menelepon melalui video.
"Kau sudah bersama mama dan papa?" tanya Zareena khawatir.
"Ya, kami sudah sampai di apartemen. Syukurlah semua baik-baik saja," kata Valdo.
"Apa maksudmu? Biarkan aku bicara pada mama dan papa."
Kamera ponsel itu beralih menampakkan wajah dari Mary serta Henry Calmington. Zareena merindukan kedua orang tuanya dan sangat takut mendengar kabar itu.
"Apa yang terjadi? Kapan kalian akan pulang?" tanya Zareena.
"Secepatnya, Sayang. Masih ada yang harus kami selesaikan di sini. Kau baik-baik saja, kan?" tanya Mary. "Apa Tristan memperlakukanmu dengan baik? Mama sangat marah Valdo menitipkanmu padanya."
"Dari semua temanku, Tristan yang paling baik. Jika dia sampai melukai Zareena, kita bisa menuntutnya. Dia sangat kaya," Valdo terdengar menyahut.
"Ceritakan tentang peneror itu," kata Zareena mengalihkan topik mengenai Tristan.
"Pemuda itu mabuk dan dia membuat onar. Sialnya mobil kami yang terkena amukannya. Untung saja Papa dan Mama baik-baik saja," ungkap Henry menjelaskan.
__ADS_1
"Artinya, peneror itu tidak ada?" tanya Zareena.
"Pria itu bukan ancaman bagi keluarga kita, tetapi memang dia sering berbuat onar dan beberapa kali keluar masuk penjara."
"Syukurlah," ucap Zareena. "Artinya, aku bisa pulang ke rumah."
"Tunggu beberapa hari lagi, Sayang. Kita juga tidak harus bersantai. Kejadian tidak terduga atau fakta yang sebenarnya bisa saja terjadi," tutur Henry.
Zareena menggangguk. "Aku akan patuh di sini. Papa dan Mama baik-baik di sana dan cepatlah kembali."
"Jaga dirimu, Sayang," ucap Mary yang memberi kecupan jarak jauh, dan Zareena membalasnya.
Panggilan video berakhir. Zareena merasa lega keluarganya baik-baik saja. Acara menyiapkan makan siang untuk Tristan terasa menyenangkan.
Tengah asik memotong sayuran, Zareena dikagetkan dengan tangan yang memeluk pinggangnya.
"Tristan!"
"Aku buat steak sayur campur daging," jawab Zareena.
"Buble and squek. Aku suka makanan itu."
"Tunggulah sebentar lagi. Ini akan cepat selesai," kata Zareena.
"Tapi aku ingin bersamamu."
"Pekerjaanmu sudah selesai?"
Tristan menggeleng. "Aku tidak fokus karena kau ada di dekatku."
__ADS_1
"Jangan mengangguku," kata Zareena ketika merasakan gigitan di daun telinganya.
Tristan membalik tubuh Zareena. Mereka saling berhadapan. Menyatukan kening bersamaan napas yang mulai naik turun.
"Tidak sekarang," kata Zareena.
"Aku menginginkannya," ucap Tristan yang hendak menyentuh bibir itu, tetapi sayangnya Zareena menghindar.
"Valdo menelepon," ucap Zareena tiba-tiba.
Berhasil! Tristan melepas rangkulannya, lalu mundur satu langkah. "Apa yang terjadi?"
"Semua baik-baik saja. Hanya sedikit gangguan kecil dan mereka akan segera kembali."
"Orang tuamu akan kembali?" tanya Tristan.
"Kenapa? Kau tidak senang?"
"Tentu saja aku senang dan bersyukur mereka baik-baik saja. Hanya saja aku tidak ingin berpisah darimu."
"Kau bisa mengunjungiku kapan pun," ucap Zareena.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
"Kau ingin kita liburan bersama?"
Tristan mengangguk. "Begitulah. Kau mau?"
Zareena tersenyum. "Tentu saja."
__ADS_1
Bersambung