
Zareena ragu untuk merasai bentuk menonjol di balik celana jeans yang Tristan kenakan. Bisa dipastikan itu sakit bila sampai tidak dikeluarkan.
"Kau bisa buka kancing celanamu," ucap Zareena.
"Kau buka sendiri," sahut Tristan.
Zareena menelan ludah. Tangannya mulai membuka kancing celana yang sialnya begitu sulit. Tristan memegang jemari lembut itu, lalu mengangkat sedikit hingga ia dapat mengecupnya.
"Aku bisa berdiri jika kau menginginkannya dan kau bisa duduk di tepi tempat tidur."
Zareena mengangguk. "Ya, lakukan saja."
Tristan turun dari ranjang tidur bersamaan Zareena yang berpindah posisi duduk menghadap Tristan. Tepat berhadapan dengan perut datar pria itu.
Zareena pun melakukannya, membuka kancing celana, lalu menurunkannya perlahan. Tristan menghela karena sedikit terbebas dari rasa sesaknya. Namun, akan lebih melegakan lagi jika Zareena bisa menurunkan pelindung terakhir itu.
Kalau sudah setengah dibuka, mengapa tidak sekalian saja? Itulah yang dilakukan Zareena. Membuka bagian terakhir dan membebaskan Tristan dari rasa sesak.
Bentuk yang begitu sempurna dengan tonjolan kekar di sekitarnya. Begitu hangat dan pas di tangan Zareena. Terlebih area itu begitu bersih. Memudahkan sang wanita untuk berseluncur tanpa beban.
"Mulai, Sayang," ucap Tristan.
__ADS_1
Zareena mengecup dulu ujungnya, lalu menelusuri sepanjang bentuk dengan lidahnya. Dapat didengar Tristan yang bersuara berat ketika merasakan sapuan lembut dari pangkal hingga ujungnya.
Masih menelusuri daerah terlarang itu. Lidah itu berjalan menyusuri sepanjang bentuknya kemudian mencucup ujung, seperti tengah menikmati sebuah permen.
Tidak tahannya Tristan yang ingin mendesak masuk. Merasakan hangatnya kedalaman mulut Zareena. Ia yakin miliknya akan menyakiti bibir gadis itu karena bentuknya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Zareena seraya mengusap milik Tristan.
"Kau bertanya padaku rasanya?"
Zareena mengangguk. "Iya, aku takut kau tidak suka dengan bibirku."
"Tidak dapat diungkapkan. Ini titik sensitif yang paling aku inginkan kau nikmati. Mulailah dengan memuaskan diriku," ucap Tristan, lalu menekan kepala Zareena kemudian masuk menghunjam. "Terasa hangat."
Wajah itu memerah dengan ludah yang telah meleleh ke bibir sampai bawah dagu. Namun, Zareena tidak dapat menghentikannya karena Tristan yang belum puas.
"Aku ingin melakukan hal seperti dulu," kata Tristan.
Zareena menggeleng kemudian melepaskan diri. "Aku tidak mau kau mengotori wajahku."
Tristan tertawa, lalu membawa Zareena bangkit berdiri. Menyatukan bibir mereka berdua kemudian sama-sama jatuh di atas tempat tidur.
__ADS_1
Dengan nakalnya, Tristan membuka pakaian Zareena. Melepas semua kain yang melekat pada tubuh gadis itu kemudian menikmati hidangan lezat yang disuguhkan pemiliknya.
"Ya, terus di sana," ucap Zareena yang saat ini tengah memejamkan mata karena Tristan mencucup kedua miliknya secara bergantian.
Zareena juga menjerit kecil ketika merasakan gigitan yang semakin turun ke bawah. Tristan menuju area sana dan ia secara nyata melebarkan kakinya.
Tristan masuk, dan Zareena memerangkapnya. Tubuhnya bergejolak dengan suara berat saat sapuan itu ia rasakan.
"Jangan hentikan ini," ucap Zareena.
Tristan mengangkat wajahnya, sedangkan Zareena protes karena ia tidak ingin pria itu berhenti. Tristan menyentuh itu dengan jari telunjuknya.
"Aku cuma ingin melakukannya ketika kita berada di tempat itu," ucap Tristan.
"Aku sudah tidak tahan," kata Zareena.
Tristan kembali mencucup bagian kecil dari dalam lipatan itu. Bentuk istimewa yang membuat seorang wanita melayang-layang dibuatnya.
"Lakukan," pinta Zareena.
"Belum saatnya, Sayang. Aku ingin kita melakukannya di tempat istimewa. Hanya kau dan aku tanpa busana."
__ADS_1
Bersambung