
"Malam ini langitnya sangat ramah. Kau lihat bintang-bintang kecil di atas sana." Zareena menunjuk beberapa gugusan bintang dengan jari telunjuknya, menyambungnya seperti membuat pola.
"Makan ini. Kau sedari tadi tiada henti mengaguminya." Tristan menyodorkan potongan kecil steak daging pada Zareena, dan wanita itu langsung melahapnya.
"Dagingnya sangat lembut. Saus barbeque-nya juga terasa enak. Campuran dari tomat, gula palem, madu dan mustard yang pas." Zareena membuka lagi mulutnya dan Tristan kembali menyuapi. "Jangan lupakan saus tiramnya. Koki di sini hebat."
"Jangan bicara terus. Isi perutmu dulu, Sayang," ucap Tristan sembari menyeka ujung bibir Zareena yang terdapat saos. Ia mencucup ibu jarinya, lalu berkata, "memang sangat enak."
"Kau ini." Zareena tertawa, kemudian mengambil alih piring makan Tristan. Ia melahap daging yang telah pria itu potong kecil-kecil.
Sementara Tristan menuang sampanye ke dalam gelas mereka masing-masing. Keduanya masih bersantai di geladak atas kapal.
Ia menyesapnya sedikit-sedikit seraya mengikuti Zareena. Menatap bintang di langit yang begitu terang bersinar. Menjadikan malam di lautan teduh begitu menenangkan.
"Sudah lima tahun aku tidak memperhatikan pemandangan seperti ini," ucap Tristan.
__ADS_1
Zareena mengerutkan kening. "Kau terlalu sibuk berkencan sampai tidak bisa menikmati bintang di langit."
Tristan tertawa, lalu meneguk habis minumannya. "Bagiku bintang ini mengambil semua mimpi yang ingin kuwujudkan. Aku tidak berani menatap ke atas langit sana. Mereka mengingatkan akan mimpi indah yang telah berubah menjadi mimpi buruk."
Zareena meletakkan garpu dan pisau makan pemotong daging di piring. Meneguk sampanye-nya sampai habis, lalu berkata, "Aku bisa mendengarkan kalau kau ingin cerita."
"Umur 8 tahun, ayahku memberi teropong bintang pada sebagai hadiah ulang tahunku. Malam itu, langitnya juga seperti ini. Aku mengajak Willy ke balkon atas untuk melihatnya. Willy adalah anak pengasuhku berumur 4 tahun," tutur Tristan. Ia mengembuskan napas panjang, lalu melanjutkan. "Malam itu juga, ibuku pergi dari rumah. Itu semua karena Willy. Rupanya dia adalah adikku."
"Ayahmu ...."
"Iya, kau benar. Dia pria kejam, kan? Ibuku tidak menyangka jika wanita simpanan itu berada di dalam rumahnya sendiri. Menjadi pengasuhku, dan hasil hubungan mereka adalah Willy, anak yang kuanggap sebagai teman."
"Saat itu aku memang membencinya. Dia dan ibunya telah mengambil semua yang kumiliki. Ayah, rumah dan kasih sayang."
"Sekarang?" tanya Zareena.
__ADS_1
Tristan mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan Willy juga pasti begitu. Tapi aku, tidak ingin dekat bersama orang yang telah menghancurkan hidupku."
Zareena mendekat, masuk dalam dekapan tubuh Tristan. "Kau sudah begitu sabar. Berdamai dengan keadaan."
"Jika melihat wajah mereka, aku akan mengingatnya."
Zareena meraih tengkuk Tristan, lalu mendaratkan kecupan hangat nan lembut di atas bibir itu. "Kita tidak tahu apa yang terjadi pada orang tuamu saat itu. Jika kau membenci mereka, maka kau terus tersiksa. Bayang-bayang pengkhianatan itu akan terus menghantuimu."
"Aku sudah mencobanya." Tristan memeluk erat tubuh Zareena. "Aku telah menerima keadaan nasibku yang memang begitu jalannya."
"Aku kagum padamu, kau begitu kuat."
"Mungkin itu karena ada seseorang," ucap Tristan, lalu meraih dagu Zareena. Ia tatap mata yang memancarkan sinar lembut dan kasih di sana. Lalu, mengecup bibir merekah itu.
"Bisa kita lanjutkan?"
__ADS_1
Zareena menggangguk. "Bawa aku ke kamar."
Bersambung