
Keesokkan harinya, Tristan dan Zareena siap untuk pulang. Zareena berpamitan dulu pada Emma dan Bibi Marta. Sementara Brian ikut pergi mengantar mereka ke stasiun kereta api.
Miles juga harus pulang karena ada serangkaian pekerjaan yang menunggunya di London. Liburan yang begitu singkat, tetapi pria itu menyukainya.
"Kita akan sampai pada malam hari," kata Zareena.
"Ya, besoknya lagi kita baru bisa ke rumah orang tuamu." Tristan menyahut.
Zareena beralih pada Brian. "Aku akan menunggu kedatanganmu di pesta pernikahan kami, Brian."
"Aku akan datang. Kau sudah memberitahu Colin?"
Zareena menggeleng, lalu tersenyum. "Aku akan memberinya sebuah kejutan."
Pengumuman kereta terdengar. Tristan, Zaree, dan Miles bersiap dengan tas mereka. Brian memeluk Zareena erat, bergantian dengan Tristan dan Miles.
"Sampai di London, kabari aku," kata Brian.
"Pasti, kami pulang dulu. Sampai bertemu lagi." Zareena melambaikan tangannya.
Satu per satu penumpang naik. Zareena dan Miles kembali melambaikan tangan tanda perpisahan sampai akhirnya, kereta cepat itu mulai berjalan pergi.
"Pulang dari Cumbria dapat istri." Miles berceletuk.
"Lalu kau dapat apa?" Tristan bertanya.
"Satu orang gadis, tetapi bagi dua."
__ADS_1
"Apa?" giliran Zareena yang bersuara.
"Maksudku adalah ...."
"Sudah, Sayang." Tristan memotong kalimat Miles. "Jangan lagi membahas Brian dan Miles. Lebih baik kau tidur. Semalam kau tidur nyenyak, kan?" Tristan merebahkan kepala Zareena di pundaknya.
"Sebentar, aku ingin mendengar penjelasan Miles." Zareena menarik diri.
"Itu tidak penting. Kau tidurlah." Tristan malah memeluk istrinya dengan erat. Kemudian melotot pada Miles yang duduk di hadapannya.
"Tristan!" Zareena memprotes itu.
"Pelankan suaramu. Kau tidak malu di dengar penumpang lainnya."
Miles beralasan. "Zareena, aku malas untuk cerita. Tadi malam aku lelah bermain. Sekarang aku ingin tidur."
"Kau ingin dengar cerita apa?" lama-lama Tristan sebal juga. "Biar aku ceritakan tentang permainan kita semalam."
"Lebih baik aku tidur." Zareena merebahkan kepalanya di pundak Tristan.
"Iya, tidur saja, Sayang."
Dua jam lebih perjalanan, barulah Tristan dan Zareena sampai di rumah. Sedangkan Miles, tentu sudah kembali ke apartemen pria itu sendiri.
Tristan memanggil semua pelayannya. "Kalian sudah kenal Zareena, kan? Sekarang dia istriku. Kami sudah menikah, dan dia adalah nyonya rumah ini. Kalian semua harus melayani dan menghormati istriku ini."
"Selamat Tuan, Nyonya, atas pernikahannya. Kami akan melayani dan menghormati Nyonya Zareena." Salah satu pelayan menjadi juru bicara pekerja yang lain.
__ADS_1
"Kalian tidak perlu begitu. Aku jadi malu. Perlakukan aku seperti biasa saja," ucap Zareena.
"Kalian siapkan makan malam. Kami harus istirahat dulu." Tristan langsung menggiring istrinya menuju kamar di lantai atas.
Sampai di kamar, Zareena malah langsung membuka lemari pakaian Tristan. Ia memeriksa semua dari lipatan sampai pada lacinya. Zareena juga memeriksa sudut dinding serta laci nakas.
"Sejak kapan kau begitu posesif?" Tristan tahu apa yang diinginkan istrinya.
"Sejak sekarang. Hanya memeriksa apa kau menyimpan lagi benda-benda itu."
"Kau sungguh cemburu?"
"Aku memperbolehkanmu menyimpan satu barang kenangannya. Aku tahu dia berarti bagimu."
"Baiklah, aku akan menyimpannya di bawah bantal."
"Apa kau bilang?" Zareena melotot.
"Lihat, kau sudah ingin marah. Aku tidak akan melakukan itu. Kau adalah hidupku sekarang."
"Apa kau cinta padaku?" tanya Zareena.
"Kau bahkan sudah kunikahi."
"Kau harus mengatakannya lagi." Zareena mendesak.
Tristan berjalan mendekat, melingkarkan tangannya di sisi pinggang sang istri. "Apa masih kurang bukti kalau aku mencintaimu?" satu kecupan diberikan. "Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
Bersambung