My Hot Baby

My Hot Baby
Bandara


__ADS_3

Menginginkan Chris agar masuk dalam keluarga Calmington. Zareena tidak habis pikir mengapa Mary saat menyukai pria itu. Chris memang tampan, pekerjaannya juga baik, tetapi Tristan juga sama seperti itu. Zareena tahu mengapa Mary tidak menyukai Tristan. Ini karena kebiasaan pria itu yang suka bermain wanita, tetapi Valdo juga sama, tetapi mendapat wanita baik-baik, seperti Belva.


Zareena merebahkan diri di atas kasur. Memejamkan mata agar kantuk segera menghampiri. Lebih baik ia tidur agar Chris serta Mary hilang dari pikirannya, dan besok ia tidak terlambat datang ke bandara.


Paginya, Zareena menyempatkan diri sarapan bersama keluarganya. Liburan ini juga butuh perjuangan karena Mary maupun Henry kurang setuju dengan kepergiannya sendiri.


"Mama khawatir kau pergi sendirian. Lebih baik urungkan saja niatmu itu," ucap Mary.


"Aku sudah dewasa, Ma," sahut Zareena.


"Tapi kau perempuan, Nak," Henry menimpali.


"Aku sudah bilang jika tidak berpergian sendiri. Aku akan bertemu teman-temanku di Yunani. Kami liburan bersama."


Mary menghela napas panjang. Ia pasrah jika Zareena sudah berkata demikian. Lagi pula putrinya itu sudah mengatakan hal demikian sejak jauh hari.


"Hubungi kami setelah kau sampai di sana," ucap Mary.


Zareena tersenyum. "Mama dan Papa jangan khawatir. Aku berangkat saja sekarang."


Ketiganya beranjak dari kursi mereka. Zareena memeluk kedua orang tua, tidak lupa kecupan perpisahan, dan sekali lagi menenangkan Mary serta Henry jika dirinya akan tetap baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku pergi," ucap Zareena.


"Hati-hati, Sayang. Jangan lupa untuk menghubungi kami jika kau telah tiba di sana," kata Mary.


"Tenang saja." Zareena mengatakannya dengan senyum mengembang. Ia akan pergi bersenang-senang bersama pria paling panas di London. Membayangkannya saja membuat wajah merona.


Di lain sisi, Tristan telah tiba di bandara. Ia masih belum masuk, tetapi menunggu wanitanya di luar. Berharap Zareena akan datang tepat waktu satu jam sebelum pesawat lepas landas.


"Jika kau tidak datang, maka aku akan menyusulmu ke rumah dan membawamu kabur," gumam Tristan.


Tangannya gatal untuk menelepon atau mengirim pesan, tetapi Tristan mencoba untuk menahannya. Masih ada banyak waktu bagi Zareena untuk tiba di bandara.


Lima belas menit menunggu, Tristan dapat melihat seorang wanita yang keluar dari mobil warna hitam. Sang supir membantu mengeluarkan koper dari bagasi, dan si wanita lekas menyuruh supir itu pulang.


"Sayang!"


Zareena menoleh, tersenyum memandang Tristan. "Hai!"


Tristan langsung memeluk Zareena, mengecup kening wanita itu berkali-kali tanda bahwa ia sangat merindukan perempuan itu.


"Kau sungguh datang."

__ADS_1


"Tentu saja," ucap Zareena.


Tristan mengecup bibir manis itu. "Kita harus masuk."


Zareena mengangguk. "Ayo!"


Rasanya ini merupakan hari bahagia Tristan. Pasalnya ia sudah lama tidak merasakan perasaan berbunga-bunga ini. Sudah bertahun-tahun lamanya, dan sekarang Zareena mampu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sungguh, Tristan tidak ingin kehilangan wanita itu.


Keduanya segera mengurus dokumen keberangkatan kepada petugas yang melayani di bandara, lalu tinggal menunggu panggilan menuju pesawat saja.


"Aku merindukanmu," ucap Tristan.


"Kau melihatku setiap hari, tetapi kau masih rindu akan diriku."


"Hanya melihat, dan aku butuh sentuhanmu. Aku tersiksa akan dirimu."


"Kau memang perayu ulung," ucap Zareena.


"Apa kau menganggap aku seperti itu?" Tristan tidak percaya ini.


Zareena terkekeh. "Itu memamg kenyataannya."

__ADS_1


Tristan merangkul pundak wanitanya. "Dasar nakal. Aku tidak seperti itu."


Bersambung


__ADS_2