
Satu kalimat yang membuat Tristan kecewa mendengarnya. Pasalnya Zareena akan ikut bersamanya setelah bertemu keluarganya. Namun, Tristan malah ingin mengajak wanita itu pergi hari esok atau lusa karena bila Valdo serta orang tua Zareena tahu, tentu saja mereka tidak akan mengizinkan.
"Tidak bisakah kita pergi sebelum orang tuamu kembali?" tanya Tristan.
Zareena menggeleng. "Kau tahu kalau aku mengkhawatirkan mereka. Masakanku sudah matang. Duduk dengan benar dan nikmati makananmu."
Tristan patuh atas perintah itu. Ia duduk dengan Zareena yang sibuk menata hidangan yang telah ia buat. Tanpa bantuan dari pelayan. Semua ia kerjakan sendiri. Sangat cocok bila keduanya menyewa satu rumah di kota kecil yang tenang.
"Silakan cicipi dan beri komentar yang jujur untukku," pinta Zareena.
Tristan mulai memotong steak daging yang ditumbuk bersama sayuran kemudian mencelupkannya ke dalam saus barbeque, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
Ia bergumam, mengacungkan kedua ibu jarinya bersamaan mulut yang masih mengunyah.
"Sangat enak. Aku memberinya nilai 9 dari 10. Kau pantas membuat sebuah restoran," ucap Tristan.
"Apa ini dinamakan sanjungan untuk mendapatkan sesuatu?" tanya Zareena. "Aku ingin kau berkata jujur atas masakan yang kubuat. Apa yang kurang dari makanan itu?"
"Aku berkata jujur. Makananmu sesuai seleraku. Ini, coba kau rasakan sendiri makanan yang kau buat," ucap Tristan seraya memotong steak lembut itu, lalu menyuapkannya pada Zareena. "Buka mulutmu."
Zareena menurutinya. Ia menerima suapan dari teman pria-nya. Zareena mengangguk karena memang rasanya sangat pas di lidahnya.
"Baru kali ini aku memasak dengan benar," kata Zareena.
__ADS_1
"Memangnya kau masak tidak selalu benar?" tanya Tristan yang kembali melahap daging itu.
"Tentu saja. Aku selalu mendapat protes dari guru pembimbingku. Ada saja masakan yang kubuat salah di matanya."
"Apa gurumu itu perempuan?"
Zareena menggeleng. "Seorang pria sekitaran umur empat puluh tahunan."
"Kau harus mengganti guru les itu."
"Kenapa?" tanya Zareena.
"Ada dua kemungkinan. Pertama, dia suka padamu dan kedua, dia tidak mau kau saingi," ucap Tristan.
Tristan mengedikan bahu. "Kita tidak ada yang tahu niat dari hati seseorang. Aku sarankan untuk mengganti guru itu."
"Tapi dia bagus dalam mengajar."
"Kalau begitu, kau abaikan saja dia. Atau bilang saja kalau sebenarnya dia iri padamu."
Zareena tertawa. "Aku akan memikirkannya. Sekarang habiskan makananmu dan pergilah. Selesaikan pekerjaan kantormu."
"Aku ingin istirahat bersamamu. Bagaimana kalau olahraga bersama?"
__ADS_1
"Tidak untuk siang ini. Aku ingin menonton film kesukaanku."
Wajah Tristan berubah cemberut. Zareena tidak tahan untuk mengecupnya. Bisa-bisanya pria itu bertingkah seperti anak kecil yang ingin dimanja.
"Berikan kecupan di bibir," pinta Tristan.
Zareena mencondongkan tubuhnya kemudian mengecup kecil bibir pria itu. "Cukup untuk hari ini."
"Kau sungguh membuatku tidak bisa bekerja."
"Kau harus bekerja jika ingin mengajakku liburan sebab aku tidak mau mengeluarkan sedikit uang," ucap Zareena.
"Jangan khawatir soal itu. Kau akan mendapatkan apa yang terbaik dariku." Tristan maju, lalu mencuri kecupan bibir Zareena.
"Tristan!" protes Zareena karena pria itu terus mengecup bibirnya.
"Kau yang mulai duluan. Aku tidak bisa berhenti jika sudah menyangkut sentuhanmu."
"Kau selalu punya alasan."
"Aku bicara fakta, Sayang," kata Tristan.
Zareena mendengkus, lalu kembali melanjutkan makannya. Sementara Tristan tertawa melihat wajah kesal wanitanya.
__ADS_1
Bersambung