
Tristan berdecak. Maksudnya, Miles harus memperhatikan setiap kafe, restoran atau toko yang mereka lewati. Tristan memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Ia turun tanpa memperdulikan Miles. Berjalan kaki sembari bertanya pada orang-orang akan jauh terasa lebih mudah.
Kebetulan Miles juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Tristan sibuk bertanya tentang toko roti itu, sedangkan ia sibuk meminta warga setempat untuk mengambil fotonya. Miles tiba ke Cumbria dengan tujuan liburan, sedangkan Tristan mencari Zareena.
"Miles, toko rotinya di sana." Tristan berseru.
Miles melambaikan tangan. "Kau saja yang ke sana. Aku masih ingin di sini."
Tristan berdecak. "Lebih baik kau tidak usah ikut denganku."
Tanpa Miles, Tristan berjalan menuju toko roti De Balgiam. Rupanya toko itu terkenal. Jadi, Tristan tidak susah mencarinya. Tiba di depan sana, Tristan disambut oleh wanita muda yang ramah.
"Silakan, Tuan."
"Aku ingin roti yang paling laris saja."
Wanita yang memakai bandana itu mengangguk. "Minumnya? Apa kau ingin minum teh khas sini?" wanita itu bertanya karena ia tahu Tristan bukan warga asli desa Hawkshead
"Tentu, aku akan mencobanya."
Tidak lama, satu potong roti dan teh Tristan dapatkan. Tidak perlu garpu atau pisau roti, Tristan langsung saja melahapnya dengan tangan.
__ADS_1
"Hei!" Tristan memanggil pelayan wanita itu.
"Ya, Tuan."
"Aku ingin membeli semua roti di sini?"
Wanita itu tercengang. "Anda serius?"
"Tentu saja." Tristan mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya. "Aku bayar pakai ini. Semua roti termasuk yang ada di dapur."
Wanita itu mengangguk, lalu mengambil kartu kredit Tristan. "Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan kembali."
"Tunggu sebentar. Kalian bungkus saja, lalu buat toko ini membagikan roti gratis. Aku ingin membaginya pada orang-orang."
Di dapur menjadi heboh karena pelayan tadi memberitahu ada pembeli yang menginginkan semua roti.
"Aku harus menemuinya," ucap Sarah, pemilik toko roti. "Kalian semua, cepat antar ke depan roti yang telah matang."
Keempat pekerja, termasuk Zareena mengiakan. Mereka lekas memasukkan roti yang selesai dipanggang ke dalam nampan untuk dibawa ke etalase depan.
"Zareena, tolong kau bawa roti ini ke depan." Salah satu wanita bertubuh gemuk, berusia sekitar 35 tahun berkata.
__ADS_1
"Baik, aku akan membawanya." Zareena menyambut nampan besar berisi roti dari tangan wanita itu, lalu membawanya ke depan.
"Kau sungguh dermawan. Kami akan membagikan roti ini secara gratis," ucap Sarah.
Tristan cuma tersenyum. Ia melirik pada wanita yang tidak sadar atas kehadirannya. "Apa dia pembuat roti? Bisakah aku bicara dengannya?"
Sarah menoleh ke belakang. Ia melihat Zareena, lalu Tristan secara bergantian. "Oh, rupanya kebetulan. Baiklah, aku akan izinkan Zareena pulang."
Tristan tersenyum. "Kau tahu maksudku. Tapi rotimu enak. Aku sudah menghabiskan dua potong, dan kurasa warga sini tidak sabar untuk menantikan pembagian rotinya."
"Kau terlalu memuji. Tapi roti buatanku memang enak. " Sarah tertawa, lalu ia memanggil karyawan barunya itu. "Zareena!" panggil Sarah.
"Ya, Nyonya." Saat itulah Zareena menyadari ada Tristan di sana.
"Zaree, kemarilah."
Mau tidak mau Zareena menghampiri keduanya. Sarah tersenyum. " Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Kau pulang saja hari ini."
"Bukannya tidak sopan jika aku pulang, sedangkan kalian sibuk di sini?" Zareena masih enggan bicara pada Tristan. Niatnya memang tidak ingin menghindar. Tapi bertatapan seperti ini, Zareena ingin lari saja.
"Tristan ini yang membeli semua roti kita."
__ADS_1
Sialan! Zareena mengumpat dalam hati.
Bersambung