
"Semalam kau sudah mengundangku makan malam di tempatmu. Sekarang, aku akan mengajakmu makan malam di restoran HawsFood. Di sana menyediakan menu ayam kalkun yang dipanggang. Lalu ada juga daging asap yang diiris tipis, dan kau bisa memakannya dengan berbagai macam saos." Brian begitu antusias mengatakan makanan di restoran favoritnya.
"Karena kau berkata demikian, perutku jadi lapar. Di mana restorannya? Dari tadi kita belum sampai juga." Zareena melihat ke sekeliling jalan. Rupanya mereka telah jauh dari rumah.
"Sebentar lagi, Sayang. Kita parkirkan saja mobil ini di sini." Brian menepikan kendaraan roda empatnya agak jauh dari lokasi restoran. Ini karena ia tidak mau mobil milik orang lain sampai menyentuh kendaraan antiknya, dan Brian harus berhati-hati untuk itu.
Zareena keluar lebih dulu, disusul oleh Brian. Pria itu mengulurkan tangan, dan Zareena menyambutnya. Brian merangkul pundak wanita yang ia anggap sebagai teman, padahal dalam hati ia ingin lebih.
"Kau memarkirkan mobilnya terlalu jauh. Kita harus jalan kaki lagi." Zareena hitung mobil orang lain yang terparkir, dan kendaraan Brian berada di belakang tiga kendaraan lainnya.
"Kau lihat, tidak muat untuk aku parkir di dekat restoran."
"Di depan sana kosong, Brian." Zareena menunjuk arah depan.
Tangan Brian berpindah dari pundak ke pinggang. Zareena kaget saat pria itu merapatkan tubuhnya.
Brian tertawa kecil. "Aku hanya ingin jalan kaki lebih lama bersamamu."
"Kau ini!" Zareena tidak tinggal diam, ia menginjak kaki Brian.
__ADS_1
"Kakiku!" Brian sontak melepas pelukannya, melompat-lompat karena sakit. "Kau tega menginjak kakiku."
Zareena melipat tangan di perut. "Masih mau lagi?"
Brian menggeleng. "Tidak mau. Aku janji ini yang terakhir."
Zareena mengulurkan tangan. "Maafkan aku. Ayo, kita masuk ke restorannya. Aku sudah lapar."
Brian meletakkan tangannya di tangan Zareena. Terbalik, harusnya ia yang mengiringi wanita itu. Ini malah Zareena yang mendominasi.
Suara denting bel dari pintu restoran membuat kepala Tristan mendongak dari piring makanannya. Ia melihat seorang pria masuk, lalu mengalihkan pandangan ke arah luar jendela. Tanpa Tristan sadari, sehabis sosok pria itu masuk, ada seorang wanita di belakangnya.
"Kita duduk di dekat jendela saja?" Brian menunjuk meja tepat di belakang Tristan.
"Zareena!"
"Tristan!"
Brian menoleh ke arah Tristan dan Zareena secara bergantian, lalu Miles juga menghentikan makannya setelah melihat Zareena.
__ADS_1
"Kita pergi saja dari sini, Brian." Zareena langsung saja melingkarkan tangannya pada lengan Brian, menyeret pria itu keluar dari restoran.
"Ada apa, Zaree? Dia siapa?" Brian jadi bingung.
"Dia pria itu. Dia orang yang paling aku benci."
Tristan pun tidak kalah cepat untuk menyusul keduanya. "Zareena. Tunggu, Sayang. Kita harus bicara."
"Zaree, dia memanggilmu." Brian ingin menoleh ke belakang, tetapi Zareena sudah lebih dulu melarangnya.
"Cepat jalan dan jangan menoleh ke arahnya."
"Zareena!" panggil Tristan.
"Maafkan aku, Brian. Kali ini biar aku yang menyentuhmu lebih dulu."
Zareena menjijit untuk dapat mengecup bibir Brian. Tentu saja Brian kaget, ia yang dari kemarin ingin menyentuh bibir Zareena, sekarang sudah kesampaian. Brian pun tidak menyiakan kesempatan. Zareena yang memulai, maka ia tinggal melanjutkan.
Tristan mengepalkan tangannya kuat melihat pemandangan menyakitkan itu. Ia maju saja, memisahkan keduanya, lalu memberi pukulan pada Brian.
__ADS_1
"Jangan sentuh wanitaku!" ucapnya
Bersambung