
Komunikasi mereka terputus sejak malam yang memalukan itu. Zareena juga tidak lagi menyebut nama Tristan di depan Valdo dan Colin. Baginya pria itu tidak ada. Zareena tidak mengenal lelaki yang punya dendam padanya. Sungguh ia tidak ingin mendengar nama Tristan disebutkan sampai pada akhirnya, Zareena bertemu pria itu kembali.
Sialnya Tristan ikut menghadiri pernikahan Valdo dan Belva di Italia. Pria itu hadir bersama wanita yang pernah Zareena lihat di kelab malam summer.
"Sudah lama tidak bertemu, Nona Zareena," tegur Tristan.
Zareena meliriknya. "Maaf, Tuan. Kurasa kita tidak akrab untuk saling menyapa."
"Oh, kau masih marah rupanya. Kita belum melakukan hal yang kau janjikan. Sudah lama aku menantikannya. Bisakah malam ini kau berkunjung ke kamarku?"
Zareena membalik diri dengan menatap Tristan. "Perjanjian itu sudah berakhir sejak malam kau mempermalukan diriku."
Tristan terkekeh. "Mempermalukan? Aku hanya bisa fakta sebenarnya."
"Diamlah, Tristan! Jangan membuat keriburan di hari penting kakakku," kata Zareena.
Tristan berdecih, "Hari istimewa? Kau yakin Valdo menikmati acara pernikahannya? Kau tidak tau apa-apa tentang saudaramu itu."
"Aku tidak ingin bergosip mengenai Valdo denganmu. Lebih baik kau menikmati hidangannya saja."
__ADS_1
"Undanganku masih berlaku, Zareena," ucap Tristan seraya mengedipkan matanya, lalu pergi bersama kekasihnya.
Bahu Zareena ditepuk. "Dia kembali datang padamu," ucap Colin.
"Dia sahabat Valdo. Wajar jika pria itu datang kemari. Aku kesal karena dia terus saja mengangguku. Aku ingin membalas semua penghinaannya padaku," kata Zareena.
"Kau perlu bantuan, Sayang. Tunjukkan pesonamu dan jatuhkan pria itu setelah ia jatuh dalam pesonamu," usul Colin.
"Kau benar, Colin. Aku harus menaklukkan Tristan bagaimanapun caranya."
"Berdandan cantiklah. Malam ini akan ada pesta bebas bersama kedua mempelai," kata Colin.
Valdo menjauh dari istrinya ketika Zareena mengundangnya untuk bicara. Ia tahu jika kembaran ibunya ini akan mengoceh tentang wajahnya yang terlihat tidak bahagia.
"Jangan menceramahiku, Zaree. Kau tau kalau ini hari penting dalam hidupku," ucap Valdo.
"Sahabatmu sendiri yang mengatakan kalau kau tidak bahagia," sahut Zareena.
"Astaga! Kau percaya pada Tristan? Sungguh sayangku. Aku janji akan segera membuatkanmu keponakan yang lucu dan tidak lagi bermain wanita. Kau tau jika papa sudah menyerahkan tanggung jawab perusahaan padaku, kan?" tutur Valdo.
__ADS_1
Zareena langsung memeluk Valdo. "Kakak, aku mencintaimu. Jangan kecewakan adikmu ini. Buatkan aku keponakan yang lucu," ucap Zareena dengan raut wajah bahagia. "Aku harus bicara pada Belva."
Valdo mengumpat ketika Zareena telah pergi bicara bersama Belva. Tidak percaya jika Zareena akan bicara seperti itu hanya karena ucapan Tristan. Ya, Tristan si biang masalah itu telah membuat Valdo berjanji tidak akan bermain wanita.
"Awas saja kau, Tristan. Aku akan buat perhitungan padamu," gumamnya kesal.
Acara lanjutan akan dilaksanakan pada malam hari. Kedua mempelai akan bersiap untuk berganti pakaian lagi untuk resepsi pernikahan di vila sola cabiati danau como.
"Bagaimana dengan gaun ini?" tanya Zareena pada Colin.
"Kau sungguh luar biasa, Sayang," sahut Colin. "Warna silver dengan polesan bibir merah menyala. Ibumu akan melotot melihat gaun di atas lutut itu."
Zareena tertawa. "Aku sudah bilang pada mama akan mengubah cara berpakaianku. Maksudnya ketika pesta. Aku ingin menunjukkan semua keindahan yang kupunya."
"Bagus. Biarkan pria itu tergila-gila padamu, Sayang."
"Permainan akan segera dimulai, Tristan," gumam Zareena seraya menyeringai.
Bersambung
__ADS_1