My Hot Baby

My Hot Baby
Yakin?


__ADS_3

"Kau yakin?" Colin sebenarnya menduga kalau Zareena telah jatuh hati pada Tristan. Terbukti dengan cukup lama sahabatnya menjalin hubungan. Entah karena keduanya tidak memiliki ikatan atau memang ada hal lain yang membuat hubungan itu terus berlanjut.


Zareena mengangguk. Yakin atau tidak, ia harus menerima Chris jika pria itu punya perasaaan yang sama dengannya. Tristan sudah mengatakan tidak ingin menikah, lalu untuk apa ia harus bersama pemuda itu? Lebih baik bersama Chris yang jelas terlihat menerima perjodohan.


"Aku harus pergi."


"Kau baru saja sebentar di sini," protes Colin.


"Aku ada janji bersama Tristan untuk makan siang."


"Kau masih ingin menemuinya, meski kau akan bersama pria lain." Colin melipat tangan di perut sembari menatap saksama sahabatnya.


"Untuk yang terakhir kalinya," jawab Zareena. "Mungkin saja."


"Aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi, aku mengacungkan dua jempol untukmu. Kau telah mempermainkan dua orang pemuda. Pria memang harus diperlakukan begitu." Colin masih belum menerima kalau pernah disakiti oleh pria.


Zareena merangkul sahabatnya itu. "Baiklah, aku harus pergi. Saat lamaran resmi, kau adalah orang pertama yang kuundang."


"Aku menantikan undangan khusus itu."

__ADS_1


Keduanya berpisah, Zareena masuk mobil, menghidupkan mesin, lalu mengendarai kendaraan roda empatnya menuju restoran yang telah Tristan berikan alamatnya melalui sebuah pesan singkat.


Seperempat jam, mobil sampai di restoran yang dimaksud. Zareena datang lebih awal sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Mengambil ponsel dari dalam tas ransel, mengecek pesan-pesan yang telah Chris kirim, tetapi belum sempat Zareena balas.


Hanya satu kalimat yang Zareena kirimkan sebagai jawaban dari beberapa pesan dan panggilan telepon itu. Ia akan menunggu Chris nanti malam di rumah.


Denting bel dari pintu restoran, mengalihkan perhatian Zareena dari ponsel. Ia mengangkat tangan, melambai pada Tristan yang baru saja tiba.


"Sudah lama?" Tristan membungkuk sedikit untuk dapat mengecup kening Zareena.


"Aku baru saja bertemu Colin, dan langsung ke sini."


"Seharusnya kau menelepon, aku datang lebih awal tadi."


"Biar aku pesan makanan untuk kita." Tristan memanggil pelayan, mengutarakan makanan yang ingin mereka santap kepada wanita berseragam hitam putih.


"Silakan menunggu sebentar, Tuan, Nona."


Hanya anggukan sebagai jawaban untuk pelayan itu. Tristan meraih pergelangan tangan Zareena. Mengecup nadinya, melekatkan telapak tangan halus itu di pipinya.

__ADS_1


"Kau ini kenapa?" Zareena heran sendiri.


"Kalau aku bilang tengah rindu saat ini, apa kau percaya?"


Zareena tertawa. "Setiap hari aku bersamamu dan sekarang kau mengatakan rindu." Zareena menarik tangannya. "Dasar perayu."


"Itu memang faktanya. Aku selalu merindukanmu."


"Aku percaya," jawab Zareena. "Lebih baik kita makan saja. Lihat, makanannya sudah datang."


Keduanya memberi peluang kepada pelayan menyajikan makanan yang mengunggah selera. Setelah mengucapkan terima kasih, Tristan dan Zareena mulai melahapnya.


"Untuk dua hari ini, aku akan sibuk," ucap Tristan di sela kunyahannya.


"Kau akan ke luar kota?"


"Aku tetap di sini, tetapi ada sedikit urusan. Mungkin aku tidak akan sempat menghubungimu."


"Tidak apa-apa jika kau memang ada keperluan."

__ADS_1


Malah Zareena merasa itu kabar baik. Bukankah ia memang ingin menjauh dari Tristan setelah pertemuan nanti malam. Jika pria di hadapannya ini menghilang, Zareena tidak akan susah untuk pergi dan melupakan apa yang terjadi di antara mereka.


Bersambung


__ADS_2