My Hot Baby

My Hot Baby
Kolam


__ADS_3

Malam semakin larut, tetapi kedua insan yang tengah berada dalam satu selimut masih enggan untuk memejamkan mata. Saling menatap satu sama lain, seolah keduanya bicara melalui sorot mata yang tanpa disadari telah menyimpan suatu perasaan aneh dalam palung hati terdalam.


"Kau milikku," ucap Tristan sambil mengelus pipi mulus Zareena.


Wanita itu memejamkan mata, membuat nyaman diri akan sentuhan lembut itu. Sedetik kemudian, ia dapat merasakan keningnya yang disentuh.


Zareena membuka mata, lalu tersenyum. "Kau menginginkanku sebagai apa?"


"Milikku," jawab Tristan.


Jawaban yang sebenarnya membuat Zareena ragu akan statusnya. "Ya, aku milikmu."


"Tidurlah, kau pasti lelah."


"Aku baru bisa terlelap jika kau memelukku."


"Kemari," ucap Tristan.


Zareena mendekat, masuk dalam pelukan tubuh Tristan. Sementara pria itu mengusap pelan rambut wanitanya agar segera terlelap.


Namun, kejahilan Zareena malah bangkit. Tristan yang tidak mengenakan apa pun, menjadikannya mudah untuk mengerjai pria itu. Zareena sengaja membuat pola-pola di atas tubuh bidang itu.


"Aku tidak bisa menahannya jika kau melakukan ini," ucap Tristan.


Zareena seakan tidak peduli, ia mengecup tubuh itu, lalu memeluknya. "Aku akan tidur."


"Ya, istirahalah."

__ADS_1


Suasana lampu temaram kamar semakin menghangatkan malam keduanya. Baik Tristan maupun Zareena sama-sama memejamkan mata guna mengistirahatkan tubuh dari perjalanan jauh serta aktivitas cinta tadi.


Pagi harinya, Zareena disambut oleh mentari yang bersinar terang. Laut biru menjadi pesona bagi mata yang haus akan keindahan. Air kolam yang jernih, mengundang untuk segera didatangi, dan baki sarapan yang mengapung di atas air siap sedia untuk segera disantap.


Zareena mengenakan baju renang two piece warna kuning mustard. Penampilannya begitu cerah diterpa mentari yang memapar sinarnya di atas kolam.


"Ayo, turun!" seru Tristan.


Perlahan, Zareena menjejakkan kakinya ke dalam air. Tristan lekas menyambut, membawa wanitanya bersandar pada badan kolam, lalu menarik baki sarapan mendekat pada mereka.


"Coba telur dadar ini," kata Tristan sambil menyodorkan potongan telur campur sayur dan keju ke mulut Zareena.


"Keju dan sayurannya pas. Aku suka," ucap Zareena saat mengunyah potongan itu.


"Bagaimana dengan pai hijaunya?"


"Enak, aku juga suka," kata Zareena.


"Apalagi yang kau suka?" tanya Tristan.


"Aku suka semuanya?"


"Bagaimana denganku?"


Zareena tertawa. "Aku tidak suka dirimu."


Tristan terperangah. "Kau serius?"

__ADS_1


"Tentu saja."


Zareena lantas menyelam dalam air, berenang menjauh dari pria itu. Tristan menyingkirkan baki sarapan dari kolam, lalu menyusul Zareena.


"Jangan lari dariku."


"Tangkap aku kalau kau bisa," ejek Zareena.


Tristan menyelam, meraih Zareena dari dalam sana. Wanita itu berteriak saat Tristan berhasil meraih pinggangnya.


"Lepaskan aku," ucap Zareena sambil tertawa riang.


"Kau harus di hukum."


Tristan membuat dirinya dan Zareena masuk dalam air, dan sempat-sempatnya mereka saling menyatukan bibir di dalam sana.


"Aku kehilangan napas," kata Zareena yang telah muncul dalam air. Ia terengah-engah, lalu disusul oleh Tristan dengan mengibaskan rambutnya. "Tristan!"


Namun, Tristan malah meraih tengkuk Zareena, lalu mengecup dagunya. Kecupan itu semakin turun dengan tangan yang membuka tali dari penutup bagian atas.


"Biarkan aku menikmati sarapan pagiku," ucap Tristan.


Zareena mengangguk. "Iya ...."


Pakaian renang bagian atas telah terlepas. Tristan tidak peduli ke mana akan perginya kain warna kuning itu. Ia membawa Zareena menepi, lalu menyelam kembali untuk membuka bagian terakhir yang menutup daerah terlarang wanitanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2